
"Kenapa kalian merobohkan gubuknya?"
"Untuk meninggalkan jejak."
"Maksudnya?"
"Daripada banyak tanya, lebih baik kamu bantu kami."
Aku merenggut, tapi tak urung membantunya membersihkan puing-puing bangunan gubuk tersebut. Setelah semua jejak dihilangkan, yang entah apa maksudnya menghilangkan jejak tersebut, kami pun mulai melakukan perjalanan.
Entah sudah berapa kilometer kami berjalan, memasuki hutan belantara tak tentu arah.
Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhku. Rasa sakit pada ulu hatiku pun semakin menjadi-jadi.
"Kamu tidak apa-apa?"
Aku menggeleng seraya mendudukkan diri di atas rumput liar dengan deru napas yang naik turun.
"Mayor!"
Aldert berbalik. Berjalan cepat ke arahku.
"Are you, okey?"
Kugelengkan kepala. "Sepertinya maagku kambuh."
Aku punya maag akut, yang kadang datang saat telat makan.
"Naiklah!" Pria itu menyuruhku untuk naik ke punggungnya.
"Tidak perlu. Aku masih bisa berjalan."
Tak mengguris ucapanku, ia menggendongku, yang sontak membuatku melototkan mata.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku."
"Diamlah! Atau kau akan jatuh."
Tak ada yang dapat kuperbuat selain pasrah, tubuhku juga lelah dan sakit pada ulu hatiku kian perih.
Aku mengerjapkan mata. Entah sejak kapan aku tertidur. Bersandar punggung pada pohon kayu yang menjulang tinggi.
Di depanku kini sudah ada api unggun yang menyala.
"Kamu sudah bangun?"
Sander duduk di sampingku, menyodorkan beberapa ikan bakar yang telah dibungkus dengan daun pisang.
"Terima kasih."
Sander tersenyum, menganggukkan kepala.
Mataku menyapu sekeliling, mencari keberadaannya. "Alder kemana?"
"Mayor, sedang berburu di hutan."
"Malam-malam buta begini?"
Sander menganggukkan kepala."Sejak dulu, jiwa berburu Mayor sudah mendarah daging. Tidak peduli mau itu pagi ataupun malam."
"Apa matanya punya laser? Bagaimana dia bisa melihat dalam kegelapan?"
"Laser itu apa?"
"Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation sebuah mekanisme suatu alat yang memancarkan radiasi elektromagnetik, biasanya dalam bentuk cahaya yang tidak dapat dilihat maupun dapat lihat dengan mata normal, melalui proses pancaran terstimulasi."
Sander tertawa. "Maksudmu Mayor mempunyai mata bercahaya?"
Aku mengangguk.
"Tidak, Laila. Mayor berburu menggunakan instingnya. Seperti yang sudah aku katakan dalam dirinya sudah ada jiwa pemburu."
"Kedengarannya tidak masuk akal."
Sander tersenyum tipis. "Kamu lihat." Aku mengikuti arah tunjuknya yang menunjuk bulan purnama.
"Kami menggunakan cahayanya dalam berburu. Dalam dunia militer kami sudah dilatih untuk itu, berlatih merayap di malam hari, bersembunyi dalam rawa-rawa. Tak ada penerangan, dengan satu tujuan agar dapat mengelabui musuh. Sama halnya, dalam berburu, hewan buruan adalah musuh yang harus kami tangkap."
"Tidak ada gunanya menjelaskan pada orang yang bradyphrenia," tukas seseorang seraya duduk di atas batang pohon yang telah tumbang.
Kutatap ia dengan tatapan tajam. "Apa kau sedang mengejekku?"
"Apa itu terdengar seperti pujian?" Dia memasukkan ranting pohon ke dalam api unggun.
Aku mendengus kesal.
"Sudah. Sudah. Sebaiknya kamu habiskan makananmu, sepertinya sudah sangat dingin, " sela Sander. Mengurungkan niatku untuk membalas ucapan dari Aldert.
Malam sepertinya sudah kian larut. Berkali-kali kucoba tuk memejamkan mata tapi sulit. Dua pria itu sudah mengarungi samudra mimpi. Meninggalkanku yang tengah diliputi perasaan gelisah.
"Awww." Meringis tatkala rasa nyeri melilit perutku.
Mataku menyapu sekitaran hutan. Mencari tempat yang cocok untuk mengeluarkan isi perut. Terlalu gelap. Apa aku berani?
"Awww." Sekali lagi ringgisan itu kembali keluar. Ah, terserah. Takut itu urusan belakang sesuatu yang mau keluar ini adalah urusan yang paling utama.
"Astaghfirullahaladzim." Tersentak kaget, reflek tubuhku menoleh saat seseorang tiba-tiba saja menahan lengan kananku.
Aldert menatapku dengan tatapan elangnya.
"Mau kemana?"
"Perutku sakit. Aku butuh mengeluarkan sesuatu?" tukasku, melepas kasar tangannya seraya bergegas berlari memasuki hutan itu seorang.
Lega!
"Astaghfirullahaladzim." Lagi-lagi tubuhku terperanjat kaget saat mendapati pria itu yang tengah bersandar pada kayu pohon sambil bersedekap dada.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Menunggu rusa yang lewat."
Mataku menyipit, curiga. Menatapnya. "Jangan bilang kalau kau sedang mengintipku?"
"Aku tidak akan bilang." Dia melenggang pergi begitu saja.
"Aldert aku serius!" teriakku.
"Cepatlah! Atau kau ingin dimakan babi hutan."
Aku merenggut, tak ayal mengekorinya.
"Kalian dari mana?" tanya Sander saat kami baru saja tiba di tempat semula.
"Dari buang air besar."
"Berdua?"
"Ya, enggaklah cuma gue doang."
"Gue?"
"Maksudnya aku."
Kududukkan diri dengan raut wajah kesal yang masih kentara. Menatap tajam pria yang tengah memejamkan mata itu.
Pagi menyapa. Matahari sudah meninggi. Memancarkan cahayanya yang membakar kulit di atas langit biru.
Kami bertiga berhenti sejenak, untuk istirahat dari perjalanan panjang tak jelas ini.
"Apa perjalanan kita masih jauh? Sebenarnya kita mau ke mana?" Deru napasku memburu karena lelah.
Entah sudah berapa kilometer kami berjalan. Tak tentu arah, seperti gelandangan di hutan.
"Ke tempat yang aman." Aldert menjawab tak acuh.
"Aku ingin pulang."
Gerak tangan yang tengah memasukkan sesuatu ke dalam tas ransel itu terhenti.
Sander dan Aldert saling berpandangan lalu menoleh dan menatapku.
"Aku ingin tahu bagaimana keadaan Ayah dan dan Mamaku." Air mataku mengalir begitu saja. "Aku rindu mereka."
Aku rindu Ayah dan Ibu kandungku. Khawatir dengan keadaan Mamak dan Ayah angkatku di tempat antah berantah ini.
Kutatap bola mata biru Aldert. "Apa mereka akan baik-baik saja? Atau mereka juga akan dijadikan budak? Sama seperti yang pernah aku dengar."
Di zaman VOC alias Kompeni, waktu budak masih legal di Hindia Belanda, banyak orang kaya Belanda-Eropa punya belasan bahkan ratusan budak. Bagi yang belum terlalu kaya dan belum punya istri dari ras Kaukasian, biasanya melepas birahi lewat budaknya.
Pria itu bergeming. Ia menatapku tanpa menjawab apa pun.
"Kita harus pergi sekarang!"
Apa yang aku harapkan? Tentu saja pria itu tidak akan memberi jawaban apa pun. Bukankah dia salah satu dari orang-orang itu?
Dalam perjalanan tak ada yang membuka suara, bahkan Sander yang sering melontarkan cerita jenaka pun bungkam.
Sore kini berganti petang. Sebentar lagi malam akan menyapa alam. Sebenarnya kemana arah tujuan ini?
"Kita istirahat sejenak. Habis itu kita lanjutkan perjalanan lagi."
Kuhela napas lelah. Mendudukkan diri seraya menyadarkan punggung pada pohon kayu.
"Mereka pasti akan baik-baik saja, Laila."
Aku menoleh. Mengulas sebuah senyum tipis. Tak yakin atas ucapan Sander.
"Apa maagmu kambuh lagi?" Mendongak, hingga mataku bertemu dengan bola mata birunya.
Aldert menyodorkan buah pir liar padaku. "Makan ini dulu! Sebagai pengganjal perutmu selama aku berburu."
"Aku baik-baik saja." Gelengku.
"Tapi wajahmu tak mengisyaratkan bahwa kamu baik-baik saja." Gerakan kakinya hendak beranjak dari tempat tapi…
"Aku ingin kembali ke desaku."