Love In War

Love In War
ᨄᨛᨊᨛᨍᨍᨖᨛ



Aku mengernyitkan kening. Pemberontak?


"Apa maksudmu?"


Dia kembali terdiam. Menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


"Apa…" Kutelan kasar salivaku." Kamu penjajah?"


Entah mengapa pertanyaan itu yang tiba-tiba timbul dalam pikiranku.


Sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian.


"Dari negara mana?" Rahangku seketika menegang.


"Bukankah kau sudah tahu? Untuk apa kau bertanya kembali?" Balasannya tak acuh seraya menyingkirkan kasar tanganku pada pergelangan kakinya.


Dari buku sejarah yang pernah aku baca selain Belanda dan Jepang, juga ada beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia.


Sebenarnya dari negara mana yang ia maksud? Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris atau Jepang?


Tapi yang banyak dibahas dalam buku-buku sejarah adalah kekejaman pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang.


Apa aku benar-benar kembali ke zaman penjajahan? Membayangkan hal tersebut membuat bulu kudukku meremang.


Mengingat bagaimana para pejuang kemerdekaan, memperjuangkan tanah air. Berkorban darah demi mengusir para penjajah di tanah bumi Pertiwi.


"Dalam sejarah, kalian akan terus kami kenang. Bagaimana kejamnya kalian terhadap bangsa ini. Apa kau pikir kau akan hidup dalam damai, tanpa bayang-bayang rasa bersalah?" Aku menatapnya dengan tatapan menghunus.


Kening pria itu mengkerut. Wajahnya mengisyaratkan kebingungan.


"What do you mean?"


Aku tersenyum sinis.


Belum sempat aku menjawab pria itu tiba-tiba saja membekap mulutku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan mengunci tubuhku agar tidak memberontak.


"Diamlah!"


Aku semakin memberontak saat mendengar langkah kaki beberapa orang. Mungkin, saja suara kaki itu milik penduduk sini.


"Ze zijn hier niet."


Tubuhku seketika berhenti memberontak begitu mendengar suara asing itu.


Pria itu melepas bekapannya setelah memastikan orang-orang tadi sudah menjauh dari tempat.


"Mau sampai kapan kamu diam di sana?"


Aku menoleh ke arahnya, yang tengah berdiri menatapku dari jarak satu meter.


"Bukankah tadi itu adalah teman-temanmu?"


Pria itu menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh ke arahku. Tapi tak sepatah kata pun yang ia keluarkan.


"Apa kamu hanya akan diam di sana saja?" tanyanya tak menggubris pertanyaanku.


Kuhela napas berat seraya menyeka air yang jatuh dari pelupuk mata lantas berdiri."Aku akan kembali ke desaku."


"Apa kamu pikir desamu masih utuh?"


Urung kakiku melangkah. Berbalik. Menatapnya. "Apa maksudmu?"


Pria itu diam dengan wajah datarnya menatapku.


"Aku bertanya, apa maksudmu dengan desaku sudah tidak utuh?" tanyaku frustasi. Aku tidak suka didiamkan saat sebuah informasi kubutuhkan.


"Tembakan dan bom yang kamu dengar. Bukankah sepatutnya kamu sudah bisa menduga, apa yang sedang terjadi?"


Mataku sontak membeliak. Mamak, Ayah.


"Lepaskan!" Pria itu mencekal erat pergelangan tanganku. Menahan gerak kakiku yang hendak berlari menerobos hutan ke arah desa.


"Did you think you'll be safe if they catch you?" Ia melayangkan tatapan nyalang. "No, you're not," imbuhnya. Membuat tubuhku luruh. Tangisku pecah.


****


Cahaya keindahan senja sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Meninggalkan kesunyian dalam heningnya malam.


Kusandarkan punggungku pada batang pohon sembari menikmati rembang petang pembatas siang dan malam itu dalam kekalutan.


"Makanlah!" Pria itu menyimpan beberapa buah raspberry di sampingku.


Aku tersenyum tipis. Menatap buah merah keunguan itu. Bahkan aku sampai melupakan rasa lapar yang sedari tadi mendera.


"Apa kamu memang punya hobi diam?"


Kuhela napas pasrah, saat tak mendapat tanggapan apa pun.


"Sepatutnya…. "


"Habiskan buahnya. Kita harus segera pergi sebelum malam, " tukasnya.


Aku mendengus. "Siapa bilang kalau aku mau ikut denganmu?"


Lagi-lagi pria itu tak menggubrisku.


Tak mau ambil pusing kuhabiskan raspberry tersebut hingga habis tak tersisa.


"Ayo."


"Bukankah tadi aku bilang, kalau aku tidak akan ikut denganmu? Aku mau pulang."


Ia menghentikan derap langkahnya. Berbalik. Menatapku.


"Pergilah! Aku juga akan pergi ke tempat tujuanku, " ucapku seraya melangkah dari sana.


Tapi lagi-lagi dia mencekal pergelangan tanganku, yang baru saja melangkah beberapa langkah.


"Lepaskan!"


Ia menatapku dengan tatapan tajam." Apa kamu tahu apa yang akan terjadi jika mereka menangkapmu?"


"Aku tidak peduli."


Saat ini aku hanya ingin pergi dari sini menemui Mama dan Ayah. Firasatku mengatakan telah terjadi sesuatu pada mereka.


"Mereka akan menjadikanmu gundik."


"Apa bedanya denganmu. Bukankah kamu juga akan memperlakukanku seperti mereka?"


"Iya, tapi tidak sekarang." Dia menyeret tanganku pergi dari sana.


"Kurang ajar. Aku bilang lepaskan!" Pria itu tak mengindahkan pemberontakan yang aku lakukan, bahkan dia semakin erat mencekal pergelangan tanganku saat kugigit tangannya.


"Naik!" Titahnya menyuruhku naik ke atas perahu.


"Tidak mau. Apa kamu pikir aku sudi ikut denganmu?"


Rahang tegas yang dipenuhi brewok itu terlihat mengeras."Get on or I'll rape you right here!"


Kutelan kasar salivaku, nyaliku tiba-tiba menciut mendengar ucapannya.


"Apa yang akan kamu lakukan, jika aku ikut denganmu?" Aku memberanikan diri menatapnya dengan nyali yang semakin menipis.


"Aku tidak suka kesabaranku diuji. Naik!"


"Aku hanya bertanya, jangan sampai kau--Iya baiklah!" Aku segera naik saat pria itu mendekatkan tubuhnya ke arahku.


"Kita mau ke mana?" tanyaku setelah kami melewati beberapa pohon rumbia juga pohon nipah.


"Ke suatu tempat," jawabnya tak acuh sambil mendayung perahu.


"Kamu tidak berencana menyekapku, kan?"


Pria itu tidak menjawab. Oh, untuk apa aku bertanya. Penjajah tetaplah penjajah.


Dalam berbagai literatur sejarah, disebutkan bahwa Indonesia merdeka setelah lepas dari penjajahan selama ratusan tahun.


Penderitaan, air mata, tak pernah luput dari masyarakat bangsa ini sendiri. Begitu pun nasib para wanita pribumi.


Sejarawan Reggie Baay menuturkan, saat itu para lelaki Belanda memelihara gundik untuk melampiaskan kebutuhan biologis. Kondisi itu didorong oleh keberadaan mereka yang jauh dari istri yang menetap di Negeri Dam.


Tak hanya sebagai pemenuh hasrat seksual, para lelaki Belanda juga memanfaatkan para gundik untuk bekerja mengurus rumah dengan segala tugasnya, mulai dari menyapu, mengepel, hingga memasak.


Aku tiba-tiba tersadar akan sesuatu, jangan-jangan.. ..


"Apa kau hanya akan diam di sana? Atau kau menunggu buaya untuk menerkam tubuhmu?" Serunya yang sudah turun dari perahu lebih dulu.


Rasa takut kian mendera hatiku ketika pria itu membawaku ke sebuah gubuk tua.


Aku mengernyitkan kening, saat masuk sudah tersaji daging panggang yang terhidang di atas daun pisang.


"U al komen?" Aku langsung membalikkan badan hingga menubruk dada bidang pria itu, saat seorang pria tiba-tiba masuk membawa parang di tangannya.


Aku mendongak. Menatapnya. "Kamu tidak berniat memutilasi aku di sini, 'kan?"