
Tiba di kantor dengan dua mobil berbeda, Flora menolak keras saat Hansel mengajaknya satu mobil bersama, wanita cantik satu anak itu berdalih tak enak hati kepada karyawan lain.
Saat Flora masih disibukkan dengan barang perlengkapan baby Khansa, tiba-tiba ia melihat pemandangan yang membuat hatinya berdesir panas.
Wanita seksi dengan gaya arogan, menghampiri Hansel, bergelayut manja dan tiba-tiba mencium mesra bibir pria yang baru semalam mengungkapkan perasaannya.
"Cih, laki-laki buaya. Bisa-bisa semalam aku termakan bujuk rayunya." ketua Flora menahan amarah.
Wanita yang telah lama mematikan perasaannya itu berjalan cepat dengan diikuti Boy menuju dalam gedung.
"Mia! apa-apaan kamu ini? beraninya berbuat seperti itu? apa kamu tidak malu jika dilihat orang?" Hansel memarahi Mia setelah ia berhasil mendorong tubuh Mia hingga terhuyung beberapa langkah kebelakang.
Beberapa karyawan yang lewat memandang mereka berdua dengan tatapan aneh dan tak sedikit dari mereka berbisik mencibir kelakuan Mia yang dinilai frontal.
"Kenapa sih, Hans....?"
Baru saja Mia hendak merayu Hansel kembali, pria itu langsung mengangkat tangannya, memberi tanda peringatan untuk menjauhkan diri darinya.
Tatapan tajam yang menghunus membuat Mia mengepalkan tangannya.
"Kurang ajar kamu, Hansel. akan aku bilang sama papa jika kamu berani menghinaku...!" murka Mia. Dengan menghentakkan sekali kakinya, gadis angkuh dan manja itu meninggalkan hotel milik Hansel.
Hansel berjalan tergesa-gesa mengejar Flora yang sudah terlebih dahulu masuk.
Pria yang kini menjabat sebagai atasan direktur itu tidak langsung menuju ke ruangannya, ia malah berjalan menuju ruangan Flora.
Brakk.
Pintu ruangan Flora terbuka dengan kasar. Hasil berdiri dengan angkuh, menatap dingin wanita yang kini berstatus ibu kandung buah hatinya.
"Kenapa kamu tiba-tiba meninggalkan aku, harusnya kamu menungguku."
"Maaf, Pak. Saya rasa tidak sopan menunggu Anda yang sedang bermesraan dengan kekasih anda. Apalagi saya mengajak anak kecil, bisa-bisa otak polosnya terlalu ternoda dengan pemandangan yang tak pantas di hadapannya." ketus Flora.
Hansel terdiam, kata-kata Flora membuatnya mati kutu.
"Maaf jika tidak ada kepentingan lagi, silakan Anda tinggalkan ruangan ini, saya ingin fokus bekerja."
"Kamu? Berani mengusir saya?" Hansel tak terima dengan sikap flora yang berubah menjadi ketus dan dingin, pria yang belum berstatus menjadi suaminya tersebut tidak menyadari jika wanita itu sedang marah cemburu.
Drtt drtt...
Dering ponsel, membuat Hansel menahan amarahnya. Ia segera merogoh ponsel yang ada di sakunya dan ternyata asistennya yang sedang menghubunginya. Mengingatkan jika pagi ini akan ada rapat dengan investor baru yang berasal dari Bali.
Hansel segera meninggalkan ruangan Flora sesudah ia mencium kening Putri kecilnya yang lucu.
"Tunggu papi kembali ya, Sayang. Jangan biarkan mami mau marah terlalu lama."
"Cihh." Flora yang mendengar langsung memalingkan wajah.
Di rumah besar di jalan x. Seorang gadis berpura-pura menangis dan mengatur kepada wanita cantik yang tak lain adalah Gracia.
Ternyata setelah pergi dari hotel tempat Hansel, gadis itu langsung menemui Gracia di rumahnya. Dengan air mata palsunya ia mengadu jika Hansel telah mempermalukannya.
"Tante, tolong Mia. Sikap Hansel benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia mempermalukan Mia di depan hotel. Setelah itu Mia diusir." ucapnya sambil mengusap air mata palsunya.
"Bisa-bisanya gadis ini datang kemari dan membuat keributan, menghancurkan mood ku saja." batin Gracia.
Semenjak Hamzah memberitahu bahwa ia sudah memiliki anak dan juga wanita idaman, rasa sukanya kepada Mia perlahan luntur.
Sebenarnya sudah lama Gracia tidak menyukai Mia, sikapnya angkuh, egois, dan manja. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Flora yang mandiri dan bekerja keras.
"Aku nggak mau tante, nafsu makanku pernah hilang. Aku nggak mau makan sebelum Hansel meminta maaf kepadaku!" kekeh Mia dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.
"Iya iya, nanti Tante akan bujuk Hansel supaya minta maaf kepada Mia. Sekarang kita sarapan dulu ya."
Karena Mia tak kunjung berdiri, akhirnya Gracia beranjak sendiri meninggalkannya yang masih berpura-pura sedih.
Ana datang dari lantai atas menghampiri sang mama yang terlihat jengkel.
"Mama, kenapa pagi-pagi mukanya ditekuk gitu, sih?"
"Nggak apa-apa, mama hanya sebal saja. Ada hama kecil merusak suasana rumah pagi-pagi." jawab Gracia ketus sambil menata piring untuk sarapan suami dan anaknya.
"Sudah sarapan terlambat, mana ada dia, hilang sudah nafsu makanku!" Gracia hanya duduk menemani Johan dan Ana sarapan.
Melihat istrinya yang tak menyukai Mia, membuat Johan sedikit tak suka.
"Ma, jangan begitu. Bagaimanapun dia anak temen papa."
Gracia melirik suaminya sinis."Kenapa, papa malah membela dia dan memarahi mama?"
Gracia tak terima, wanita paruh baya dua anak itu segera beranjak meninggalkan meja makan dan segera menuju ke kamarnya.
"Ada apa sama tante, Om?" tanya Mia begitu berpapasan dengan Gracia tanpa disapa.
Ana yang sudah selesai sarapan, segera mengelap bibirnya dengan tisu, lalu beranjak. Namun, sebelum ia pergi ke kamarnya gadis itu menyempatkan diri berhenti tepat di samping Mia.
"Mama bertengkar dengan papa, mereka berdebat karena hama yang mengganggu."
Setelah berucap, Ana segera melanjutkan langkah kakinya meninggalkan ruangan yang terasa pengap.
Hari ini hotel disibukkan dengan kedatangan investor baru yang akan bekerjasama membangun sebuah wahana bermain di dekat hotel mereka.
Pertemuan yang berlangsung sejak dua jam lalu itu belum juga nampak membuahkan hasil.
Perdebatan dan juga perbedaan pendapat antara Hansel dan investor itu berjalan sangat panjang.
Jika investor yang bernama Dion, menginginkan wahana outdoor sedangkan Hansel menginginkan wahana bermain yang mengusung tema keluarga.
Hansel mengambil napas sejenak."Tuan Dion sudah waktunya makan siang, bagaimana jika kita istirahat sejenak?"
"Waktu saya di sini sangat singkat, nanti sore saya sudah harus terbang ke pulau A, jadi selesai atau tidak masalah ini harus menemukan titik teran secepatnya, atau kerja sama kita batal."
Deg.
Hansel terdiam, baru pertama kali dalam sejarah akan ada seorang klien yang hendak menolak kerja sama dengannya.
"Baiklah, kalau begitu. Mari kita lanjutkan."
Akhirnya mereka berdua melanjutkan rapat yang berjalan sangat alot dan lambat tersebut.
Dion yang baru di dunia bisnis dengan pengalaman yang belum matang kekeh dengan pendiriannya, pria itu sangat sulit untuk diajak bernegosiasi, daya cerna otaknya sangat lambat."Untung saja ada asistennya yang cerdas, kalau tidak sudah darah tinggi aku." gerutu Hansel seraya melangkahkan kakinya keluar ruangan karena rapat telah selesai.
Di dapur dapur hotel.
Terlihat sebuah kegaduhan terjadi, beberapa orang terlihat sangat tegang, begitupun dengan Flora.
Saat jam makan siang, ada salah satu pelanggan kuliner di tempat mereka yang mengalami keracunan dan harus segera dilarikan ke rumah sakit.
"Kenapa hal ini bisa terjadi? Siapa yang mengolah makanan tadi?" tanya Flora tegas.