
Boy yang dari tadi asik sendiri dengan makanannya terlihat sedang serius memikirkan sesuatu, obrolan Bobi dan Flora.
Pandangan Boy memang fokus pada makanan di hadapannya, namun pikirannya melayang memikirkan sesuatu yang akan terjadi jika Hansel akan mengambil Flora dan anaknya, kemanakah ia akan pergi dan menggantungkan hidupnya kelak.
Sebelum bertemu dengan Flora, hidup Boy penuh dengan masalah dan juga perjuangan hidup yang tidak mudah, hidup di jalanan bersama para preman adalah ketakutan terbesarnya. Kekerasan, pemerasan dan intimidasi adalah makanannya sehari-hari.
Melawan hancur tidak melawan babak belur, bertemu flora yang saat itu sedang hamil besar dan mengalami kram perut saat di jalanan adalah awal mula kehidupannya yang baru.
Meskipun saling canggung, namun karena saling membutuhkan bantuan dan perlindungan mereka berdua memutuskan untuk hidup bersama, hingga Khansa lahir, Boy lah yang setia menjaga dan menemani Flora.
Menjadi pengasuh sekaligus ayah pengganti untuk khansa kecil, tak terasa matanya perlahan buram tertutup air mata yang sudah di pelupuk.
“Say, aku sudah kenyang, aku pamit istirahat, aku capek.” Boy beranjak pergi.”Biar Khansa istirahat ya, Say. Sudah malam.” Boy juga mengambil alih Khansa yang sudah terlihat sayu dan mengantuk.
“Iya. Bay... bay cantiknya aunty cup-cup.” Luna menyerahkan Khansa sesudah ia ciumi pipi gembul gadis imut itu.
Flora tau sebenarnya Boy tidak baik-baik saja, Pria gemulai yang biasanya selalu ceria dan banyak bicara itu mendadak diam murung setelah bertemu dengan Hansel, namun demi merahasiakan masalah itu dari dua kawannya, Flora memilih diam dulu hingga tamunya pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Bobi dan Luna pamit pulang. Di sinilah, tepatnya di dapur minimalis dengan perabotan yang lumayan lengkap. Flora sedang membereskan sisa makanan dan mencuci perabotannya.
Hidup bersih dan rapi merupakan kebiasaan Flora dan Boy, pekerjaan Flora yang menyita waktu dan Boy yang lebih mengutamakan mengasuh babi Khansa mengharuskan mereka berbagi tugas rumah.
Meskipun Flora adalah pemilik rumah tersebut namun, ia tak pernah menganggap Boy adalah pelayannya, hidup sebatang kara dan terbuang dari dua saudaranya membuat Flora sangat menyayangi dan menghargai Boy sebagai saudaranya.
Ting tong...
Ting tong...
Bel apartemen berbunyi beberapa kali.
“Siapa yang bertamu malam-malam begini? Apa barang mereka ada yang ketinggalan?” guman Flora sambil meraih tisu untuk mengeringkan tangannya yang basah. Pandangannya menyapu ke sofa ruang tamu, ia mengira ada barang Luna atau Bobi yang tertinggal.
“Nggak ada yang ketinggalan, terus siapa yang datang?” Flora membuka perlahan pintunya sambil memegang erat pentungan, berjaga-jaga kalau ada penjahat yang datang.
Brukk,
Baru saja pintu terbuka, tubuh besar seorang pria jatuh menimpa Flora.
“Aduh, ini apa-apaan sih, kamu siapa? Main peluk-peluk, lepaskan!” Flora mencoba mendorong tubuh yang memeluknya semakin erat.
Malam yang sunyi, sepi, hanya gemerlap bintang yang menerangi langit malam tanpa rembulan. Hansel duduk di balkon apartemen di temani oleh Flora di sebelahnya.
”kenapa,, kenapa kita harus bertemu sekarang? Kenapa tidak dari dahulu sebelum keluargaku menanggung beban balas budi terhadap Mia dan keluarganya?” rintih Hansel dengan kepala menunduk menahan sendu dalam hatinya.
“Memangnya apa yang terjadi, Pak.” tanya Flora tetap dalam menghormati Hansel sebagai atasannya.
“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Pertanyaanmu sungguh menganggap bebanku ini hanyalah sebuah masalah sepele.tidak tahukah kamu, selama ini aku terus mencarimu, setelah malam itu aku tidak pernah sedetik pun melupakanmu.” terang Hansel dengan pandangan menatap Lekat wajah Flora, hingga membuat wanita tangguh itu bersemu malu.
“Memangnya kenapa anda mencariku? Bukankah kau tidak pernah menuntut ataupun menyalahkan anda.”
“Kamu pikir meniduri seorang gadis yang masih perawan itu bukanlah sebuah kesalahan? Apa kamu pikir aku sebrengsek itu?” tatapan yang tadinya sendu kini berubah garang.
Terlihat raut kemarahan. Flora yang dari tadi bersikap tenang kini mulai mengambil sikap bijak.
“Pak, kejadian yang telah lalu, biarlah berlalu. Aku tidak akan menuntut atau menyalahkan anda tentang hal itu. Anda bisa menikahi wanita manapun yang anda mau, tanpa merasa terbebani dengan adanya saya dan Khansa.”
“Tapi,,, sejak kejadian itu, aku tak bisa melupakanmu, aku hidup dalam dekapan bayanganmu. Jika kamu mengizinkan, biarkan aku menikahimu dan menjadi ayah yang sesungguhnya untuk Khansa.” Hansel duduk bersimpuh di hadapan flora, memegang erat tangan wanita yang telah memberikan malaikat kecil untuknya.
“Tapi, itu tidak mungkin. Pernikahan anda dan Mia sudah direncanakan sejak lama, bahkan sebelum anda menemukan saya.” kini Flora mulai terisak, beban mental dan hati yang ia jalani saat hamil muda hingga melahirkan seorang diri kembali mencuat kepermukaan.
Sesuatu yang tak ingin ia ingat, sesuatu yang membuatnya enggan berumah tangga. Hamil tanpa suami membuat teman kuliahnya mencibirnya, menganggap dirinya adalah simpanan om-om.
Bekerja saat dirinya tengah dalam keadaan hamil muda, mual, lemas dan sering pingsan membuatnya kerap mendapat teguran dari atasan.
Beruntung saat itu ia bertemu dengan atasannya Pak Johan yang mau menampung dan memberikan pekerjaan.
“Aku mohon, jangan menangis. Maafkan aku...” ucap Hansel seraya memeluk tubuh Flora.
Pagi-pagi, suasana rumah menjadi bertambah ramai saat Boy dan Hansel berebut memandikan dan mengganti pakaian Khansa, tak ayal membuat gelak tawa dari bibir mungil gadis kecil itu.
Flora yang sedang menata makanan di meja makan tersenyum senang akhirnya putri kecilnya bisa merasakan kasih sayang ayahnya yang sesungguhnya.
“Ayo, kita sarapan!” seru Flora sambil menuangkan susu hangat.
“Kalian sarapan saja dulu, aku mau mandi mumpung Khansa ada yang memegang.” pamit Boy dengan wajah sendunya.
“Boy. Kemari!” panggil Flora.
“Aku mau mandi, Say.”
Hansel menatap tajam Boy yang memanggil Flora dengan panggilan manis, entah mengapa ia sangat tidak suka.
“Boy ...!” kali ini nyali boy menciut, dari pada terkena amukan Flora lebih baik ia duduk.
Flora menyuapi Khansa seperti biasa, dengan Boy dan Hansel memakan roti panggang spesial buatan Flora.
Hansel tersenyum bangga sekaligus bahagia melihat Flora begitu telaten menyayangi putrinya.
Hansel memotong kecil roti yang ia pegang, lalu menyuapkan kepada Flora.
“Eh,, apa yang kamu lakukan?” tanya Flora terkejut.
“Ayo buka mulutmu, nanti kamu terlambat sarapan.”
Flora tak mampu menyembunyikan wajah merahnya, tak dapat dipungkiri jika hatinya berdesir bahagia mendapat perhatian dari Hansel.
Dengan malu-malu, Flora menerima suapan pertama dari Hansel.”Makasih!” ucapnya.
Selesai sarapan Boy yang ingin beranjak dicegah lagi oleh Flora.
“Boy, tunggu. Aku mau bicara.’’
“Iya, Say.” jantung Boy berdetak lebih cepat. Ada rasa takut jika flora mengusirnya.
“Jelaskan dan katakan!” seperti sebelum-sebelumnya, ternyata Flora sudah mengetahui kegelisahan Boy. Dan Boy tak punya nyali untuk tetap diam.
“Say,,, apa,, setelah ini kamu akan mengusirku?” tanya Boy polos.
“Apa maksudmu?” tanya Flora bingung, sedangkan Hansel hanya diam menyimak obrolan mereka sambil sesekali menggoda Khansa yang terlihat memainkan wajahnya.
“Kan itu-” Boy menunjuk keberadaan Hansel dengan memajukan wajahnya sekilas.
“Astaga, Boy. Apa yang kamu pikirkan. Mau ke ujung dunia pun aku akan tetap membawamu. Kamu adalah temanku saudaraku yang menemaniku baik suka maupun duka, mana bisa aku jauh darimu.” seru Flora dengan mata berkaca-kaca.
“Benarkah,,, Say?” tanya Boy dengan wajah berbinar senang.
“
Of crouse!” Flora mengangguk.
“Oh, thank you, Say.... Ilove You.”
Ehemm
Baru saja Boy merentangkan tangan hendak berpelukan dengan Flora, harus mendapat peringatan dari Hansel.
“Cepat mandi dan siapkan keperluan Khansa, aku akan bawa dia ke hotel sekarang!”
“Haa?”
Flora dan Boy terkejut.
“Tidak ada bantahan!” imbuh Hansel.