Lonely

Lonely
Berdebat Lalu Berpisah



Seorang gadis cantik terpaksa terpaksa bangun dari tidurnya kala tangan kekar seorang pria tepat memeluk perut rampingnya. Kepalanya yang masih pusing terpaksa bangun dengan menyingkirkan tangan yang menindih tubuhnya tersebut.


Sedetik kemudian ia sadar, refleks Flora menjerit dan menendang pria tampan yang tertidur lelap di sampingnya dengan keras hingga tubuh polos pria itu terjerembab ke lantai.


“Auww!! sia***. beraninya kau menendangku?” teriak Hansel sangat marah.


Sedangkan di atas kasur, Flora membelalakkan matanya menatap tubuh polos yang sedang memegangi pantatnya  yang beradu dengan kerasnya lantai keramik.


“Apa yang kamu lakukan di kamarku?” tanya Hansel begitu sadar ada gadis di kamarnya.


“A-apa? Kamarmu? Ini kamarku! Kamu yang seenaknya saja tidur di kamarku. Dan ...” Flora melemparkan selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuh Hansel yang polos.


Kini giliran Hansel yang melotot tak percaya melihat sebuah pemandangan indah yang membuat mister J kembali menengadah meronta-ronta ingin kembali menjelajah.


“Aaaa....!!!” jerit Flora sambil menutup matanya dengan bantal.”Tidak sopan! Kamu sudah menodai mata suciku.” umpatnya.


“Ckk, kamu pikir hanya kamu yang ternoda? Sekarang lihatlah, apa kamu mencoba menggodaku?” cibir Hans yang tengah susah payah menahan gemuruh gejolak napsunya yang sudah mencapai ubun-ubun.


Flora yang sadar segera menutupi tubuh polosnya dengan bantal.


Beberapa saat kemudian, baik Hansel maupun Flora sudah selesai mandi membersihkan diri dari sisa-sisa peluh semalam. Kini mereka berdua sedang duduk bersama sembari menikmati sarapan yang di pesan oleh Hansel beberapa saat lalu.


“Siapa, namamu?” tanya Hansel setelah meneguk habis air mineral dalam botol.


Dengan acuh Flora menjawab.


“Kita tak usah saling mengenal, kejadian semalam,,, anggap saja  hanya kecelakaan.”


Hansel mengerutkan keningnya bingung, bagaimana bisa seorang gadis yang masih perawan dengan mudahnya mengatakan hal itu setelah mahkotanya terenggut.


“Gadis aneh!” cibir Hansel.”Apa kamu tidak menyesal telah memberikan sesuatu yang paling berharga itu untukku?” tanya Hansel selanjutnya.


“Tidak!” jawab Flora tegas, gadis itu lalu berdiri dan mengambil tas kecil dan memakai sepatunya.


“Aku sudah selesai, aku pergi duluan!” dengan tenangnya Flora melangkahkan kakinya meninggalkan seorang pria yang semalaman telah melewati malam panas bersamanya.


Menyesal, kecewa dan marah tentu saja gadis itu merasakannya, namun dibalik rasa itu, kecewa dengan kedua saudaranya yang telah berniat menjodohkannya dengan rekan bisnisnya yang telah beristri membuatnya jauh lebih kecewa.


“Huffm,,, dengan begini aku akan lolos dari jerat perjodohan ini, aku tidak mau jika harus jadi madu wanita lain,”


Flora berjalan pelan seraya menghapus lelehan air matannya.


Seseorang mengetuk pintu kamar hotel yang kemudian terbuka lebar, menampilkan sosok rupawan Hansel yang tengah rapi dengan pakaian kerjanya.


“Apa kamu sudah siap?” tanya Tomi kepada Hansel.


“Hmm, apa jadwal kita hari ini?” tanya Hansel kepada Tomi sahabat sekaligus tangan kanannya.


“Hari ini jadwal kita mengunjungi hotel dan vila yang ada di puncak, setelah itu bertemu dengan investor yang akan bekerja sama dengan hotel baru kita yang di pantai X.” terang Tomi.


Hansel dan Tomi sudah berada di mobil mewah yang akan membawa mereka menuju tempat yang sudah dijadwalkan.


Di sebuah rumah sakit swasta. Di sinilah, Flora ditemani dengan kakak ipar dan juga istri pertama dari pria yang akan menikahinya.


Hari ini Flora akan menjalani tes keperawanan, salah satu syarat yang diajukan oleh Prasetya, pria  beristri yang akan menjadikannya istri kedua untuk mengandung buah hati mereka.


Prasetya tidak bisa memiliki keturunan dari istri pertamanya yang sangat dicintainya meskipun kondisi mereka dinyatakan sehat.


Dokter sudah selesai memeriksa flora dan hasilnya pun sudah keluar.


Dengan raut wajah kecewa  istri Prasetya meninggalkan kedua saudara itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.


“Flo ... apa yang sudah kamu lakukan? Sejak kapan kamu sudah tidak perawan?” tanya Erika dengan sangat marah.


“Sudah aku bilang kan, Kak. Aku sudah punya pacar dan aku sudah melakukan  hal itu berkali-kali.’’


Plakk


Sebuah tamparan keras tak dapat dihindari Flora. Erika begitu marah dengan sikap Flora. Wanita anggun nan angkuh itu meninggalkan sang ipar yang masih berdiri menatap sinis dirinya yang kian menjauh.


Flora segera pulang ke rumahnya untuk berkemas dan meninggalkan rumah keluarganya. Berharap perlidungan dari dua kakaknya sepertinya mustahil setelah kepergian kedua orang tuanya.


Flora menatap sejenak kamar yang selama ini ia tinggali, banyak sekali kenangan masa kecil bersama kedua orang tuanya tersimpan rapi di kamar ini.


“Ma, Pa. Maafkan anakmu yang tak berguna ini, doakan Flora menjadi anak sukses kelak bersama keluarga Flora.


Flora menyeret koper yang ia bawa  dan segera pergi ke bandara untuk meninggalkan kota kelahirannya tersebut.


Setelah kejadian pahit yang ia alami beberapa saat ini, Flora sadar jika kedua kakaknya sudah dibutakan oleh harta dan wanita.


Kakak yang lembut penuh kasih sayang dan perhatian itu perlahan pergi menjauhinya setelah mereka sukses dalam pekerjaan dan rumah tangga.


Flora bertekad dengan sisa uang tabungan yang ia miliki, ia akan kembali kuliah dan mengejar cita-citanya menjadi ceff terkenal.


***


2 tahun kemudian...


“Mimiiii,” celoteh gadis kecil yang menyambut Flora dengan pelukan hangatnya.


“Khansa, anak mami. Apa kabarmu hari ini sayang?” tanya Flora sambil menciumi pipi gadis kecil kesayangannya.


Gadis itu hanya menanggapi pertanyaan maminya dengan celotehan yang belum begitu jelas dan hanya Flora sendiri yang memahaminya.


“ayoo, kita masuk. Biar mami bersih-bersih dulu, kamu sama Boy dulu di sini.”


Cup cup Flora memberikan Khansa kepada Boy, pria gemulai yang selama ini membantunya mengasuh Khansa sejak masih bayi.


“titip Khansa dulu ya, Boy.” ucap Flora.


“Ok, Mimi,” sahut Boy genit.


“Sini cantikku, kekasihku, pujaan hatiku. Kita ke dapur menyiapkan makan malam untuk mimi.”


Flora tersenyum melihat kasih sayang yang diberikan oleh Boy untuk anak kesayangannya.


Flora tak menyangka jika kejadian pelik di masa lalu bisa menghadirkan bidadari kecil yang sangat imut dan merubah dunianya menjadi lebih berwarna.


Beberapa saat kemudian di sebuah meja makan kecil yang hanya terdiri empat kursi yang tersedia, duduklah flora, Khansa dan Boy yang sedang makan malam bersama.


Flora menyuapi anaknya dengan makanan khusus untuk balita sedangkan Boy telah menyiapkan ikan bakar lengkap dengan beberapa jenis lalapan dan juga sambal sebagai pelengkapnya.


“Boy, boleh minta tolong buatkan aku jahe hangat sepertinya aku masuk angin.” seru Flora yang merasa sedikit kurang nyaman.


“Apa? Kamu tidak enak badan, Say?” tanya Boy.


“Sepertinya kecapekan. Tadi di hotel sedang ada pesta besar ulang tahun istri direktur utama hotel tempat ku bekerja, ada banyak hidangan yang harus kami siapkan. Mungkin aku kecapekan karena itu.” terang Flora.


“Baiklah, Say. Tunggu sebentar aku akan buatkan.” Boy beranjak ke dapur dan segera menyiapkan apa yang Flora minta tak lupa menambahkan beberapa rempah agar lebih nikmat.


“Ini, Say.” Boy menaruh gelas itu di atas Meja tepat di depan Flora.


“Makasih, ya. Maaf merepotkan.” Flora meraih gelas itu dan segera meminumnya sedikit demi sedikit.


“Ngomong apa sih,Say. Jangan membuatku tidak nyaman dengan ucapanmu itu. Di sini akulah yang merepotkan wanita cantik sepertimu.” balas Boy yang tak enak hati karena selalu merepotkan Flora sejak pertama kali bertemu.