Lonely

Lonely
Khansa



Setelah dekat pria itu menarik tangan  Flora yang endak menyerahkan laporannya.


Arghh


“Apa yang bapak lakukan?” teriak spontan Flora yang terkejut dan kini duduk tepat di pangkuan Hansel.


Dengan erat Hansel memeluk Flora yang terlihat panik dan tidak nyaman.


“Tidakkah kau mengingatku? Tidakkah kau merindukan aku?” lirih Hansel yang menempelkan wajahnya tepat di punggung Flora.


“A-apa maksud anda?” tanya Flora pura-pura tidak tahu.


“Kamu kejam, kamu tidak berperikemanusiaan. Sejak memperko** ku, kau tinggalkan aku begitu saja.”


Plakk plakk


“Lepaskan saya, apa anda sendang mabuk?” Flora memukul tangan yang melingkar erat diperutnya.


“Aku kini telah sadar, setelah sekian tahun hanyut dalam kerinduan.” jawab Hansel masih dalam mode bucin menyalurkan semua kerinduannya.


“Apa maksud anda? Sekarang anda lepaskan saya atau saya akan berteriak!” ancam Flora.


“Teriak saja, tidak akan ada yang mendengar teriakanmu, tidak kah kamu lebih memahami ruangan ini?” Hansel merapikan rambut Flora yang berantakan karena terlalu banyak memberontak.


Tring ...


Satu pesan masuk ke dalam ponsel Flora. Setelah dilihat ternyata dari Boy.


“Siapa itu? Apa dia kekasihmu?” tanya Hansel tajam. Setelah melihat nama Boy di layar ponsel Flora.


“YA! Dia kekasih saya.”


Pelukan erat itu terlepas dengan penuh amarah dan kekecewan Hansel.


“Bisa-bisanya selama ini aku mencari, dan merindukan wanita murahan sepertimu? Bisa-bisanya aku tidur dan menghabiskan malamku dengan wanita sepertimu?” teriak Hansel frustasi.


Dari pada menanggapi bos gilanya, lebih baik Flora kabur dari ruangan tersebut, untuk menemui Boy yang bisa dipastikan bahwa anaknya mencarinya kembali.


Hansel berteiak dan beberapa kali menggebrak meja, melampiaskan amarah yang membuncah. Kekecewaan yang begitu besar tengah membutakan hatinya.


Flora telah sampai di ruangannya.


“Kenapa lama sekali, Say? Teman-temanmu sudah kembali dari tadi.” tanya Boy yang sedang menidurkan Khansa yang susah sekali untuk tidur.


“Tadi masih ada sedikit masalah yang saya bahas dengan direktur.


Flora menidurkan anaknya sebentar dan Boy keluar untuk mencari sesuatu di swalayan terdekat.


Setelah Khansa tertidur Flora menidurkannya dan kembali bekerja mencari referensi menu makanan baru yang akan ia berikan untuk bos nya.


Flora meninggalkan Khansa sendirian setelah ia mendapatkan laporan bahwa di dapur sedang terjadi masalah dengan masakan yang dibuat asisten ceffnya.


Tanpa di sadari Khansa terbangun dengan perginya mumu yang keluar ruangan.


Khansa ikut berjalan tertatih keluar ruangan bertepatan dengan Hansel dan Tomi yang baru saja akan ke dapur melakukan peninjauan.


“Anak siapa itu, Tom?” tanya Hansel.


“Entahlah, aku juga tidak tahu.” jawab Tomi datar.


Karena tubuh mungil Khansa tidak seimbang hampir saja gadis kecil itu terjatuh spontan Hansel dan Tomi berlari menghampiri dan meraih tubuh mungil tersebut.


“Ouwh, kamu tidak apa-apa cantik?” tanya Hansel sambil menyiah rambut poni Khansa.


“Cantik sekali....” puji Tomi.


Menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan ada orang tua yang kehilangan bayinya. Namun  tak ada siapapun juga di sekitar tempat itu.


“Mana ada tamu di sekitar dapur,Bos.” ucap Tomi mengetahui apa yang dipikirkan bos besarnya.


“Ya siapa tahu ada orang tua kesasar?”


“Tapi ...” belum selesai Tomi bicara Boy sudah muncul dan menghampiri mereka berdua.


“Maaf, anak dia anak saya.” Boy ingin mengambil Khansa namun Hansel tak memberikannya.


“Mana mungkin dia putrimu, pria aneh sepertimu tidak akan bisa memiliki bidadari ini.” sanggah Hansel masih memeluk erat Khansa.


Dan Khansa juga terlihat nyaman berada dipelukan Hansel terlihat beberapa kali gadis kecil itu memainkan wajah tampan ayah biologisnya.


Terdengar suara derap langkah kaki seseorang mendekat.


“Berikan, dia anakku!” Flora mengambil paksa Khansa dari Hansel.


“Pantas cantik,” senyum miring tercetak dari wajah tampan Hansel, pria yang sudah kehilangan emosinya setelah Tomi memberikan data Flora yang ternyata belum menikah.


“Maaf, Pak. Saya permisi!” Flora berjalan masuk ke ruangannya, namun tak disangka Hansel mengikutinya.


“Kamu di sini saja bersamaku!” Tomi mencekal tangan Boy yang hendak ikut masuk keruangan Flora.


“Apa? Memangnya kamu mau apa?” tanya Boy yang takut terjadi sesuatu dengan Flora dan Khansa.


“Tenang saja, dia direktur utama hotel ini, tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka.” jelas Tomi lalu memberi saran untuk Boy beristirahat sejenak.


“Dia,,, putrimu? Dia anak....”


“Dia anakku!” tegas Flora. Terlihat wajah paniknya, takut jika Hansel akan merebut buah hatinya.


“Anak siapa?” tanya Hansel tajam.


“Anak,,, anakku dengan kekasih-”


“Cukup, Flo! Jangan tutupi apapun lagi, aku tahu semuanya. Dan kamu hanya berhubungan denganku tidak dengan laki-laki lain.” tegas Hansel yang geram karena Flora terus saja menghindarinya.


“Tidak!” tegas Flora lagi.


“Kita lakukan tes darah...” tantang Hansel.


“Tidak! Itu akan menyakitinya.” tolak Flora.


Hansel begitu bahagia melihat putri kecil yang di yakini adalah putrinya.


Selama itu pula, hansel menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Khansa dan mumu kucing kesayangan putrinya. Ya meskipun berkali-kali Hansel harus bersin-bersin efek alergi.


Hingga jam makan siang tiba pria itu tak kunjung keluar ruangan Flora. Boy masuk ke dalam tanpa permisi, setelah itu pria gemulai itu menyiapkan makanan untuk Khansa.


“Say, kamu makan sekarang!” Boy meletakkan makan siang Flora di meja kerjanya. Setelah itu ia berjalan dan menghampiri Hansel.


“Maaf,, Pak eh t-tuan,,, saya ingin menyuapi Khansa.” Boy yang tau bahwa Hansel adalah pemilik hotel menjadi sedikit canggung takut jika Flora mendapatkan masalah.


“Iya.” lalu Hansel meninggalkan Khansa yang baru sebentar saja langsung menangis lagi.


“Hay,,, cantik kita makan dulu baru bermain lagi.” bujuk Hansel.


Hal itu membuat mata Flora berkaca-kaca terharu dengan putrinya yang tidak mau berpisah dari ayah biologisnya.


Akhirnya mau tidak mau Hansellah yang menyuapi Khansa dan Boy makan siang bersama dengan Flora sambil sesekali bercanda gurau hingga membuat Hansel geram.


“Tomi panggil keamanan, usir virus menjengkelkan ini!” ucap Hansel menghubungi asistennya.


Boy mendelik takut.”Say,, aku bawa Khansa pulang, Ya.”


Mata Hansel melotot tajam memandang Boy.”Berani kau-” ancamnya.


“T-tidak... Pak!” jawab Boy gugup.


Flora yang merasa tidak nyaman pun memberanikan diri mengusir Hansel.”Maaf Pak, apa anda tidak berniat kembali bekerja?” tanya Flora.


“Hari ini aku hanya ingin bermain bersama anak cantik  ini!”


Kembali Hansel menggoda Khansa yang sesekali tertawa menggemaskan.


Huff,


Boy dan Flora mendengus putus asa dengan sikap atasannya yang menjengkelkan.


Sore hari waktunya Flora membawa putrinya pulang.


“Maaf, Pak. Waktunya saya pulang.” Flora mendekati Hansel yang masih terus menemani Khansa yang tengah teridur.


“Bisakah aku mengantar kalian?” tanya Hansel dengan tatapan memohon.


“T-tidak perlu saya bawa mobil sendiri.” tolak Flora, ia tak nyaman jika harus terus bersama dengan atasannya, belum lagi pandangan karyawan lain jika mereka dekat.


“Aku mohon,,, aku hanya ingin dekat dengannya.” sekali lagi Hansel memohon.


Melihat wajah memelas Atasan sekaligus ayah biologis anaknya membuat hati Flora terenyuh,”Baiklah, hanya mengantar. Tidak lebih!” tukas FLora sambil membawa keluar anaknya dan diikuti oleh Boy serta Hansel.