
Di hotel Royal Galaxi, seorang pemuda sedang bercengkrama bersama kedua orang tua dan adik semata wayangnya di sebuah ruangan pribadi yang cukup besar.
Di sinilah Hansel akan bekerja mulai pekan depan, karena Johan dan istrinya Gracia akan menemani Ana putri sekaligus adik Hans untuk kuliah di luar negeri, cina.
Kebetulan Ana sangat gemar memasak dan ayahnya sangat mendukung cita-cita anaknya untuk kelangsungan hotel mereka kelak.
Baik Johan dan Gracia tak pernah memaksa kehendak mereka kepada anak-anaknya, membebaskan mereka memiliki hobi apapun asal bisnis mereka kelola dengan baik.
“Hans, apa kamu tidak ingin secepatnya mencari pasangan, kami akan sangat kesepian setelah Ana pergi ke luar negeri.” tanya grac penuh harap .
“Ma, jangan merusak suasana dengan kembali menanyakan hal itu.” Hansel berdecak sebal pasalnya Gracia terus saja menuntutnya mencari pasangan hidup, sedangkan Hansel sendiri tak pernah bisa melupakan wanita yang beberapa tahun lalu pernah ia tiduri.
“Jika sudah saatnya jodohku akan datang sendiri, Ma.” Hansel melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar di hotel ini yang akan menjadi kamar pribadinya setelah mulai bekerja.
“Gadis bodoh, di mana kamu berada? Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sudah melupakan aku?” monolog Hansel sambil merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan tangan kekarnya.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun namun ingatan Hansel tak pernah luput dari gadis yang terlihat menyimpan luka, penyesalan terbesarnya mengapa saat itu tak mencegah kepergian gadis itu.
Entah masih hidup atau sudah mati karena frustasi lalu bunuh diri asalkan Hansel sudah menemukan makamnya baru ia bisa bernapas lega.
Pagi itu sebuah drama rumah tangga yang tak sempurna dimulai.
Khansa yang biasanya sangat penurut, tiba-tiba merengek minta ikut miminya bekerja.
“Nggak bisa, Sayang. Mimi harus bekerja dulu, baru nanti malam kita bisa bermain bersama lagi.” bujuk Flora. Namun Khansa tetap merengek sesekali menjerit keras.
“Boy, ajaklah Khansa bermain di kamar sebentar, aku sudah terlambat.”
“Iya, Say...”
“Maaf ya, Boy. Hari ini adalah hari penting, Dirut utama akan datang dan kami harus menyambutnya sekaligus pengenalan pertama sebagai staffnya.”
Terang Flora sambil memakai sepatunya.
“Berangkatlah, Say. Biar Khansa aku yang menenangkan.”
“Ok, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku.” Flora tidak sempat memberi ciuman untuk Khansa agar anak itu tidak menangis lagi.
Flora dengan langkah terburu-buru segera menaiki mobilnya menuju hotel tempatnya bekerja.
Tepat kurang 3 menit, Flora telah sampai di lobi Hotel. Semua staf dan karyawan segera berkumpul untuk menyambut Dirut mereka yang baru.
Setelah penyambutan siang nanti akan diadakan rapat sekaligus makan siang bersama untuk saling mengenal satu sama lain dengan beberapa anggota baru yang Dirutnya bawa dari hotel lain.
Hansel selalu melakukan turnover karyawan agar bisnis yang ia pegang semakin berkembang dengan karyawan dan Staff yang lebih terlatih.
Itulah salah satu hal yang membuat usaha bisnis perhotelan mereka berkembang pesat secara bersamaan setiap waktu.
Selain pelayanan yang ramah dan fasilitas yang lengkap, hotel mereka juga tidak asal menerima ceff untuk mengolah menu yang menggugah selera para tamunya yang kebanyakan kurang nafsu makan karena pengaruh tekanan pekerjaan dan masalah lainnya.
Flora, Bobi, dan Luna serta karyawan lain berjajar rapi sepanjang pintu untuk menyambut Tuan Johan dan anak istrinya.
Ada beberapa yang membawa bucket bunga dan rangkaian bunga untuk istri tuan Johan yang terkenal lembut dan dermawan.
“Selamat datang tuan dan nyonya.”
Mereka semua menunduk secara hormat secara bersamaan.
“Calon atasan baru kita, tampan banget,ya.” ucap salah satu staf.
“Iya, dia idola banget,” sahut yang lain.
“Andaikan aku tidak sadar statusku, sudah aku pepet dia.” timpal yang lain lagi.
“Pepet,,pepet kamu kira kang ojol pengkolan main pepet saja.” seorang ceff laki-laki terlihat ketus ikut menimpali obrolan mereka.
“lanjut kerjanya, jangan gibahin Dirut terus. Bukannya dapat hatinya malah dapat surat cinta dan pesangon baru gigit jari kalian.” sahut ceff lainnya yang disusul gelak tawa di ruangan yang penuh dengan kepulan asap gurih dan pedas.
Sesuai rencana sebelumnya, para Ceff menyiapkan menu masakan terlezat di hotel mereka untuk makan siang hari ini.
“Flo, tiba-tiba Amel mengeluh sakit, kita kekurangan Ceff yang membantu kita di dapur.” tutur Luna kebingungan karena waktu makan siang sudah sangat mepet, ditambah lagi hari ini pengunjung restoran mereka juga sangat ramai dari biasanya.
Tanpa pikir panjang, Flora segera menutup beberapa dokumen yang ia kerjakan.”Berikan aku apron!”
“Ha? Kamu serius ingin membantu kami memasak?” tanya Luna bingung.
“memangnya kenapa? Aku juga Ceff di sini sebelum naik jabatan.” timpal Flora sambil memakai apron yang diberikan Flora untuknya.
Mereka berdua menuju dapur dan segera bersiap memasak menu terbaik hotel mereka.
Flora dikenal dengan julukan ratunya dapur di hotel tersebut, tangan lincahnya mampu mengolah berbagai masakan lezat yang membuat para pecinta rasa ketagihan dan selalu ingin dan ingin memakan masakan itu lagi.
Jam makan siang telah tiba. Luna dan Bobi sudah bersiap di ruang makan mengawasi para karyawan mempersiapkan tempat, sedangkan Flora masih di ruangannya membersihkan diri dari keringat serta bau ikan pada tubuhnya.
“Lima menit lagi makan siang di mulai, aku harus bergegas.” Flora keluar dari ruangannya dan menuju ke tempat yang telah disediakan. Ia berbaur dengan karyawan lain termasuk Bobi dan Luna dalam satu meja besar.
Orang yang di nanti telah tiba, empat orang berpengaruh telah memasuki ruangan dengan penuh hormat seluruh karyawan menyambut dengan hormat.
Acara pertama sebelum makan siang dimulai dengan pak Johan memperkenalkan anak-anaknya yaitu Hansel dan Ana kepada seluruh karyawannya.
Kini giliran para staff yang memperkenalkan diri termasuk Flora.
Mata jeli Hansel menatap lekat Flora yang baru saja memperkenalkan diri. Pertemuan beberapa tahun lalu masih melekat erat di ingatannya.
Tidak ada perubahan penampilan selain gaya busana Flora yang semakin modis.
Flora tetap tenang dan bersikap profesional selama bekerja, lain hal nya dengan Hansel yang sudah memanas tak dapat menahan diri untuk segera menyambut gadis impiannya.
Selama makan siang berlangsung netranya tak melepaskan Flora walau hanya sedetikpun.
Setelah acara berakhir, Hansel bicara dengan keluarganya di kamar orang tuanya.
“Pa, sepertinya gadis yang aku cari ada di hotel ini.” terang Hansel.
“Benarkah? Akhirnya anak mama menemukan belahanjiwanya.” sahut Grac antusias.
“Memang siapa orang tersebut?” tanya Johan datar.
Pria paruh baya itu kecewa karena anaknya menemukan gadis idamannya. Rencana perjodohanya dengan teman bisnisnya akan semain jauh dari angannya.
“Dia adalah Flora, Ma. Exekutive Ceff.”