
“Dia adalah Flora, Ma. Exekutive Ceff.”
“Baiklah, kalau begitu segera lamar dia untuk mama.” Grac sangat antusias dengan pilihan anaknya.
“Tapi bagaimana dengan Mia? Aku sudah terlanjur berjanji dengan Prasetya, Ma?” desah Johan.
“Pa, aku kan sudah berulang kali bilang sama papa, jangan pernah menerima perjodohan dengan alasan bisnis. Aku tak suka itu.” kesal Hansel.
“Tapi, papa tak enak hati, mereka sudah banyak menolong Ana sewaktu Ana kecelakaan.”
Kejadian satu tahun lalu di mana Ana kecelakaan membuat Mia menyumbangkan banyak darahnya untuk menyelamatkan nyawa Ana, di balik itu Prasetya dan istrinya Diana meminta Johan agar mereka membalas budi dengan menjodohkan putra putri mereka.
“Menolong itu harus iklhas, Ma. Pa. Jangan berharap imbalan.” sahut Hansel yang kecewa sekaligus geram.
“Maafin Ana yang membuat masalah untuk kalian.” Ana yang dari tadi terdiam kini ikut bersuara. Dengan mata berkaca-kaca gadis itu menyuarakan penyesalan atas musibah yang ia alami.
Hansel merengkuh tubuh sang adik tercinta.”Jangan sedih, aku dan papa akan mencari jalan keluar terbaik dari masalah ini.” ucap Hansel menenangkan Ana.
Flora kembali ke rumahnya hampir terlambat. Khansa juga sudah rewel dari tadi mencari-cari dirinya hingga membuat Boy kebingungan.
Ceklek.
“Maaf,, sayang. Mimi terlambat.” sesal Flora sambil menggendong Khansa yang terus menangis.
“Ada apa, Say? Kenapa kamu terlambat?” tanya Boy.
“Tadi ada masalah sedikit di hotel. Oh, ya apa seharian ini Khansa rewel terus?”
“Iya, Say. Entah kenapa dengannya, padahal aku sudah mengajaknya jalan-jalan keluar tapi dia terus saja rewel.” Terang Boy sambil mengelus rambut Khansa yang tengah tertidur di pelukan ibunya.
‘Apa karena papinya ada di kota ini? Dia seperti ini?’ batin Flora.
“Apa dia sudah makan, Boy?” tanya Flora yang melihat putri kecilnya tidur dengan wajah sendu dan sesekali sesenggukan.
“Sudah, Say. Meskipun hanya sedikit.”
“Baiklah aku akan bawa dia ke kamar.’’
“Apa kamu sudah makan, Say?” tanya Boy ketika Flora sudah di depan pintu kamarnya.
“Belum, Boy. Tadi aku langsung pulang setelah kamu kirim pesan tadi.”
“Baiklah aku akan siapkan makan malam dulu untukmu.”
Flora meletakkan Khansa di kasur dengan sangat hati-hati agar gadis kecilnya tidak terbangun lagi. Sebenarnya ia ingin pergi membersihkan diri terlebih dahulu, tetapi pelukan tangan mungil itu enggan melepas ibunya.
“Apakah serindu itu kamu pada mimi?” Flora terus menciumi anaknya.
Malam ini baik Flora maupun Boy menghabiskan makan malamnya di kamar Flora dengan Boy yang menyuapi Flora. Khansa enggan melepas pelukannya dan sesekali menangis.
Tengah malam badan Khansa mendadak panas, hal itu membuat Flora maupun Boy panik. “Boy siapkan mobil kita ke rumah sakit terdekat.” Flora menyiapkan keperluan Khansa, sementara Boy mengambil susu formula di dapur.
Kali ini Boy yang mengemudi dan Flora duduk di sampingnya. Meskipun Boy adalah pria yang gemulai, namun dalam kondisi tertentu ia sangat bisa diandalkan.
Lima belas menit kemudian mereka tiba dirumah sakit. Khansa segera ditangani dokter.
“Bagaimana ini Boy, apa yang terjadi sama Khansa?” Flora terus saja panik dan menangis mendapati anaknya terbaring di ranjang rumah sakit.
“Tenang, Say. Khansa baik-baik saja. Wajar kan kalau anak seusianya tiba-tiba sakit.’’ ucap Boy menangkan Flora.
Dokter sudah keluar dan ternyata Khansa tidak apa-apa hanya demam biasa, karena malam sudah larut, malam ini Boy menyarankan agar mereka bermalam di rumah sakit saja.
“Boy, besok pagi ada rapat penting, Bagaimana dengan Khansa?” tanya flora sebelum ia berbaring di ranjang dekat dengan putrinya.
“Ya seperti biasa saja, Say. Kita bawa Khansa ke hotel agar kamu tenang dalam bekerja.”
Dalam keadaan genting terkadang otak Flora menjadi lelet.
Di hotel itu mereka tau jika Flora mempunyai anak balita yang kadang ia bawa dan ia tidurkan di ruang kerjanya yang telah ia sediakan kasur lantai agar putri kecilnya bisa tidur dengan nyaman.
“Sudah siap semuanya, Boy?” tanya Flora yang juga sudah rapi meski belum ganti pakaian.
“Sudah, say. Yuk kita berangkat.”
Sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit tersebut, banyak pasang mata yang menatap geli mereka bertiga.
“cantik-cantik kok suaminya gemulai, ya?”
Terdengar kasak kusuk dari mulut ke mulut di sepanjang koridor rumah sakit, namun hal itu mereka abaikan.
Boy dan Flora yang sudah biasa menghadapi peliknya kehidupan sudah kebal terhadap masalah sepele hingga mereka enggan menanggapinya.
“Kita pulang sebentar, Say. Aku mau ambil mumu takutnya nanti Khansa menangis mencarinya.”
“Iya, tapi cepat ya, aku takut terlambat rapat.”
Mumu adalah kucing putih kesayangan Khansa, teman satu-satunya yang selalu setia menemani Khansa saat ditinggal Boy merapikan rumah dan memasak.
Mereka sampai di hotel, Flora keluar terlebih dahulu karena waktu rapat sudah tiba, tanpa menunggu Boy yang sedang memakirkan mobilnya, wanita satu anak itu segera lari masuk ke dalam.
Boy sudah terbiasa datang ke hotel tersebut dan karyawan lain termasuk Luna dan Bobi juga mengetahui hal tersebut.
Bobi yang baru datang, melihat Boy kerepotan mendorong kereta bayi dan menenteng tas besar keperluan Khansa segera mendekat.”Sinikan tasnya, biar aku bantu!”
“E-eh, ada mas tampan, terima kasih sudah membantu.” ucap Boy.
“Makanya cepet cari suami biar ada yang bantuin, jadi nggak kerepotan gini.” ledek Bobi.
“Apa mas Bobi mau jadi suami Boy?” bukan Boy namanya jika tidak bisa mengubah ledekan menjadi bumerang bagi lawannya.
Glekk
Bobi menelan salivanya kasar.
“Idih, ogah amit-amit bisa-bisa tumpul senjata ku kalau melawan terong.”
Ha haa haaa
Mereka berdua tertawa sambil terus masuk ke dalam lift menuju ruangan Flora.
Dari kejauhan Hansel yang juga baru saja tiba merasa geli melihat pasangan lelaki yang dia kira adalah pasangan suami istri yang mengidap kelainan, hingga menikah sesama jenis dan memiliki keturunan.
“Hi...! merinding aku, apa wanita di dunia ini sudah hampir punah hingga ada pasangan terong gitu.” monolog Hansel bergidik ngeri.
Rapat berakhir beberapa saat setelah Hansel selaku pimpinan memutuskan agar tim ceff menambah menu baru di restoran mereka agar semakin menarik peminat pelanggan hotel.
Kini tinggal Flora di ruangan itu berdua bersama Hansel.
Pria itu sengaja menahan Flora dengan alasan masih ada diskusi lanjutan.
Suasana hening sejenak sebelum Hansel mulai berbicara, dengan sikap tenang dan elegan, Flora hanya menunggu titah Hansel. Yang sebenarnya tersembunyi rasa gugup yang luar biasa dalam dadanya.
Kejadian yang terjadi 3 tahun silam masih tersimpan apik dalam memori ingatannya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Hansel.
“Baik, Pak.” jawab Flora tetap tenang dan profesional sebagai bawahan.
“Bawa laporanmu hari ini kemari.”
Flora berdiri tanpa curiga membawa laporan kepada Hansel yang memang duduknya berjarak beberapa kursi.