
Shota pun menerima panggilan dari kakak Hoshiko dengan sigap. Saat panggilan itu dia terima, di saat itu juga dirinya dikejutkan karena teriakan kakak Hoshiko kepadanya.
"Hei, apa yang kau lakukan sehingga membuat adikku kecewa?" teriaknya yang membuat Shota mengerti.
"Dia pasti memiliki beberapa bawahan yang bertugas untuk memantau ku sepertinya!" batin Shota mengerti.
Shota menghela nafas dan menjawab, "Huft, tentu saja karena dia ingin agar aku membawanya naik ke menara Tokyo dan sudah tentu karena aku takut ketinggian!"
"Oh, seperti itu rupanya! Yah, bukan salahmu sih, sudahlah ajak kemana pun adikku berkeliling kota! Itu akan membuatnya sedikit lebih baik!"
Panggilan pun berakhir, Shota kembali menghampiri Hoshiko, "Ayo, kita jalan-jalan ke tempat lain saja, oke?"
Hoshiko pun menjawab Shota dengan penuh semangat. Dia tidak menyangka bahwa Shota akan tetap mengajaknya berkeliling meskipun hari sudah mulai gelap.
Di sore hari, di jalanan kota Shinjuku terlihat padat dan ramai. Lebih tepatnya di depan stasiun Shinjuku Hoshiko merasa bingung akan melewati banyaknya kerumunan itu. Shota pun berinisiatif untuk menggenggam tangan Hoshiko.
"Aku akan memegang mu! Tenang saja!" ujar Shota yang membuat Hoshiko tiba-tiba saja merasa aman.
Terus berjalan hingga sampailah mereka berdua di Akihabara, tempat yang saat ini membuat mata Hoshiko berbinar karena dia mengingat tempat ini.
Hoshiko tersenyum sembari meneteskan air matanya karena mengingat tentang orang pertama yang mengajaknya pergi ke tempat tersebut ialah ibunya.
"Uhm, kenapa kamu menangis? Jika kamu tidak suka, kita cari tempat lainnya saja?" tanya Shota yang merasa bersalah.
Hoshiko menggelengkan kepalanya, dia tersenyum dan menjawab, "Tidak apa, aku suka dengan tempat ini! Ibuku pernah mengajakku kemari untuk membeli beberapa buku komik!"
Merasa aman-aman saja, Shota melepaskan genggaman tangannya dan memberikan ruang agar Hoshiko bisa pergi untuk melihat-lihat. Namun, Hoshiko menguatkan genggaman tangannya yang membuat Shota kebingungan.
"Ayo, kita lihat-lihat!" seru Hoshiko dan mereka berdua pun berjalan kembali menyusuri Akihabara yang penuh dengan warna itu.
Hari mulai gelap, Hoshiko saat ini merasa takjub dengan apa yang dia lihat di depan matanya.
"Hei, kenapa disini banyak sekali komik berwarna? Aku juga melihat gambar komiknya bergerak! Benar-benar hebat!" seru Hoshiko dengan bersemangat.
"Sepertinya Kamu benar-benar ditelantarkan oleh keluarga mu hingga kamu bahkan tidak mengetahui, ah sudahlah —" batin Shota yang langsung memikirkan tentang Hoshiko yang polos.
"Hei, kamu lihat ini! Ini namanya anime, setelah komik laris dijual, mereka akan membuat animasi maksudnya gambar yang bisa bergerak! Apa kamu mau menontonnya?" jelas Shota dan mendapatkan tanggapan yang serius dari Hoshiko itu sendiri.
"Aku mau!" jawab Hoshiko dengan bersemangat.
"Baiklah, kalo begitu kita pulang ya?" tanya Shota yang mulai lemas.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah toko dimana Shota dan Hoshiko sedang berbelanja.
Shota tidak merasa ragu sama sekali, saat dirinya melakukan pembayaran. Hoshiko sudah gembira dengan apa yang ada ditangannya untuk saat ini.
"Nonton anime! Nonton anime bersama Shota! Yes, yes!" ujar Hoshiko yang bersemangat. Perkataan berhenti saat dirinya melihat sebuah bayangan hitam di yang menghalangi pandangannya.
Pria besar itu langsung menggendong Hoshiko yang membuat Shota kebingungan. Barang belanjaan pun terjatuh dari tangan Hoshiko karena dia menggendong Hoshiko dengan paksa dan membawanya masuk ke dalam mobil hitam tersebut.
Terlihat dua orang pria berpakaian hitam yang juga tidak sadarkan diri tepat disebelah toko berada.
Shota pun berlari mengejar mobil hitam itu yang melaju dengan sangat cepat. Dirinya lemah karena kehilangan mobil hitam tersebut dari pandangannya.
Shota melangkahkan kakinya mulai keluar dari Akihabara, dengan mendengarkan pikiran-pikiran setiap orang. Dirinya mampu mendapatkan lokasi kemana perginya mobil hitam yang membawa Hoshiko pergi.
Hingga dirinya sampai di distrik Kabukicho. Tempat yang ramai pengunjung dengan penjagaan yang super ketat karena di setiap titik ada beberapa pria berpakaian hitam yang memantaunya.
Banyak sekali orang yang berlalu lalang dan membuat pikiran Shota terpenuhi. Tidak ada satu orang pun yang membahas tentang mobil hitam yang membuat Shota semakin kebingungan dengan dirinya yang harus pergi mencari Hoshiko hingga kemana.
Shota pun menekan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Namun, saat dirinya panggilan itu terhubung. Dua orang pria berpakaian hitam langsung menghampiri Shota dan berkata, "Tolong jangan menggunakan ponsel disini! Matikan ponsel mu, Nak!"
Merasa bingung, Shota pun mematikan ponsel tersebut karena pria yang menghampirinya itu bahkan terlihat membawa sebuah senjata tajam berupa samurai.
"Apa-apaan itu barusan? Dia benar-benar ingin membunuhku? Tempat apa ini sebenarnya?" batin Shota merasa terkejut.
Tiba-tiba saja, dua orang pria yang menghampirinya tadi menerima sebuah panggilan dari atasannya.
"Huh, kita berdua bertugas untuk mengawasi gadis cantik yang baru saja ditangkap? Sepertinya kita bisa bermain-main dengan gadis cantik itu!" batin dari salah satu pria itu yang terdengar oleh Shota.
Shota pun mengikuti kemana perginya dua pria berpakaian hitam itu karena informasi yang dia dapatkan dari pikiran mereka berkemungkinan sangat besar.
Sebuah bangunan kosong yang terletak di pinggiran distrik Kabukicho yang terlihat tidak lagi beroperasi. Kedua pria itu masuk ke dalam bangunan yang dijaga oleh dua orang pria berpakaian hitam lainnya.
"Ah, kami masuk dulu Bro!" seru salah seorang pria yang mulai bersemangat.
"Hei, jangan sentuh gadis itu atau kau akan mati! Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Bos!" seru pria penjaga yang sudah memperingati.
"Hah! Sayang sekali!"
Sedangkan saat ini Shota masih berada di balik sebuah tiang listrik dengan mengendap-endap karena takut akan ketahuan oleh pria-pria itu.
Tiba-tiba saja, sebuah suara yang sangat nyaring membuat Shota terkejut begitu pun dengan kedua pria berpakaian hitam yang sedang menjaga pintu masuk bangunan tersebut.
"Hei, apa yang mau kau laporkan?" tanya kakak Hoshiko yang kesal karena dirinya baru saja dihubungi oleh Shota lalu dimatikan.
"Sebenarnya, kedua bodyguard mu tidak berguna! Hoshiko diculik!" ketus Shota dengan suara yang tipis.
Mendengar hal tersebut, kakak Hoshiko mematikan panggilannya dan berteriak, "Bersiap untuk bertempur!"
Tujuh orang yang saat ini berada di atap pun langsung turun begitu saja dengan gesit.
"Ada seseorang yang berani menculik adikku! Aku ingin mereka semua mati!" ucapnya dan beberapa orang itu langsung menghilang begitu saja dari ruangan itu.
Sedangkan kedua pria yang menjaga bangunan itu mulai menghampiri asal suara dering telepon karena merasa curiga. Shota berkeringat dingin karena dia melihat dengan matanya sendiri bahwa masing-masing penjaga membawa sebuah samurai di tangan mereka.