Last Star

Last Star
Bab 6 - Last Star




Sang ayah benar-benar terkejut dan marah untuk saat ini. Ketika dirinya tidak lagi mampu menahan kekuatan cekikan dari anaknya, sang ayah langsung mendorong Hoshiko dengan kuat hingga terbentur ke sebuah nakas dan terjatuh.


Sebuah pisau pengupas apel ikut terjatuh akibat benturan itu, sedangkan Hoshiko mengalami pendarahan di bagian kepalanya.


Mendengar suara keributan, ibu Hoshiko pun membuka matanya dan terkejut melihat sosok putrinya yang saat ini kepalanya bercucuran darah akibat benturan yang dia terima saat didorong ayahnya sendiri.


Meskipun Hoshiko telah terbentur dengan begitu kuat, dia tetap mampu berdiri dengan sorot mata kosongnya.


Sang ayah merasa bersalah, dia terpaku diam sedangkan sang ibu mulai menangis dan menatap tajam ke arah mata suaminya tersebut.


Karena merasa sangat khawatir, sang ibu pun langsung menjurus untuk melihat kondisi anaknya. Namun, sangat disayangkan. Hoshiko langsung menusuk sang ibu menggunakan sebuah pisau pemotong apel yang sebelumnya terjatuh dari nakas tempat dia terbentur.


Melihat hal itu, sang ayah menjadi takut dan kebingungan. Dia menangkap tangan Hoshiko yang ternyata membuat dia membulatkan matanya karena tidak percaya.


"Sebenarnya kenapa tenaganya besar sekali? Dia bukan putriku!" batin sang ayah dan langsung mendorong Hoshiko dengan kuat.


Meskipun begitu, Hoshiko tetap mampu untuk berdiri dan menjurus menyerang sang ayah dengan pisau kecil di tangannya. Sang ayah benar-benar kewalahan, ketika dia mundur sedikit saja. Hoshiko langsung mengubah targetnya, dia menusuk kembali ibunya dengan sang ibu yang masih sadarkan diri.


"Ho—shi—ko?" gumam sang ibu yang tersenyum melihat putrinya menusuknya dengan air mata yang membanjiri kelopak matanya dan mulai membasahi pipinya.


Ketika melihat air mata yang keluar dari mata sang ibu, tiba-tiba saja Hoshiko terpaku menatap kosong ke arah sang ibu.


Dia mengedipkan matanya dan melihat bahwa sekujur tubuh ibunya kini mengalami pendarahan yang sangat menyeramkan, Hoshiko pun mulai menangis melihat sosok ibunya yang kini sudah sekarat.


Saat Hoshiko akan mendekati ibunya, sang ayah langsung menghalangi Hoshiko dan membentaknya dengan sangat kuat.


"Jangan kemari! Hosh—Hosh—" bentak sang ayah dengan perlahan menggendong istrinya keluar dari kamar.


Setelah dia keluar kamarnya, sang ayah hendak pintu dengan Hoshiko yang ingin mengejarnya karena ketakutan.


"Diam di dalam atau aku akan membunuhmu!" ancam sang ayah yang membuat Hoshiko semakin kebingungan.


Pintu langsung ditutup oleh sang ayah dan tidak lupa untuk mengunci pintu tersebut dan meminta agar beberapa anak buahnya mengawasi kamarnya.


Dia pun akhirnya pergi dari kediaman keluarga Ito dengan sangat panik membawa sang istri pergi dari sana.


Sedangkan Hoshiko sendiri hanya terpaku diam di dalam kamar, posisinya masih berdiri. Dia melihat kedua tangannya dengan pandangannya yang mulai buram.


"Apakah aku yang melakukannya?" batin Hoshiko kebingungan.


Dia pun terjatuh dan mulai tak sadarkan diri, mendengar bahwa di dalam kamar ada sesuatu yang jatuh. Seorang pengawal kediaman keluarga Ito yang sedang menjaga kamar itu penasaran, dia membuka pintu kamarnya dan melihat putri dari majikannya tidak sadarkan diri dengan darah yang memenuhi tubuhnya.


Sang pengawal pun akhirnya memindahkan Hoshiko dari tempat tersebut ke kamarnya, dengan dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga. Kepala Hoshiko mulai diperban meskipun saat ini dia masih tidak sadarkan diri.


Saat Hoshiko membuka matanya, dia kebingungan dengan apa yang telah terjadi. Dia melupakan tentang malam sebelumnya, dia hendak keluar dari pintu kamar. Tapi sayang, dia tidak bisa keluar karena kondisi pintu yang terkunci dan tidak ada seorang pun yang membuka pintu untuknya.


Hoshiko kebingungan, saat pintu terbuka. Hanya seorang pelayan wanita yang memberikan makanan kepada Hoshiko dan pergi dengan mengunci pintu kembali.


Hoshiko benar-benar tidak mengerti, dia tidak makan sama sekali karena saat ini hatinya sepi.


Dia tidak mengerti dengan apa yang telah dia lakukan, hingga saat malam telah tiba. Hoshiko merasa lapar, dia pun makan makanan yang telah dingin itu dengan sembari menangis.


"Mama! Aku mau bertemu Mama! Maafkan Hoshiko jika Hoshiko membuat Mama marah! Hiks... Hiks.."


Tangisan tersebut tentunya didengar oleh seorang pria tua yang ternyata adalah sang ayah. Dia menangis di balik pintu mendengar suara anaknya yang saat ini menangis tak henti.


"Putriku? Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?" batin sang ayah dengan tangisan yang terus membasahi pipinya.


"Hinata, apa yang harus ku lakukan? Aku benar-benar bingung!" gumam sang ayah dan menjatuhkan dirinya.


Saat setelah waktu yang lama telah berlalu, sang ayah pun pergi ke kantor pribadi tempat dia bekerja di rumahnya. Dia pun tertidur disana karena dirinya belum bisa tidur di kamar yang memberikan kenangan buruk untuknya.


Tiba-tiba saja, tepat saat tengah malam. Hoshiko membuka matanya dengan pandangan matanya yang tentunya kosong. Kamar yang terkunci dia dobrak dengan kekuatan yang benar-benar aneh.


Seorang gadis kecil mampu mendobrak pintu kamar dengan begitu mudah. Hal tersebut benar-benar menentang hukum alam.


Hoshiko membuka kamar yang ada di depan matanya. Namun, tidak ada seorang pun yang berada di sana, dia menelusuri koridor dan seorang pelayan tua saat ini terkejut karena melihat nona mudanya.


"Nona muda sudah boleh keluar sama Ayah?" tanya pelayan wanita tua itu penasaran.


Namun, tidak ada balasan sama sekali yang keluar dari mulut Hoshiko. Dia terkejut saat sorot mata Hoshiko tertuju padanya dengan senyuman yang menyeringai.


"Nona muda?" tanya wanita tua itu yang mulai merasa ketakutan.


Hoshiko tiba-tiba saja menjurus dan mencekik wanita tua itu dengan begitu mudahnya. Menyadari ada sebuah suara teriakan, beberapa pengawal keluarga Ito pun berlari untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Mereka semua terkejut saat menyaksikan bahwa Hoshiko saat ini sedang mencekik pelayan wanita yang terlihat tidak lagi bernyawa.


Hoshiko pun ditangkap dengan begitu mudahnya oleh beberapa pengawal tersebut, sang ayah yang mendengar kabar buruk dari bawahannya langsung pergi untuk menyaksikan hal apa yang telah dilakukan oleh putrinya.


Dia benar-benar terkejut karena kematian dari pelayan yang selama ini telah setia mengabdi kepada keluarga Ito, dia mulai ketakutan saat melihat Hoshiko putrinya sendiri.


Keesokan harinya, Hoshiko membuka matanya di pagi hari. Saat dia hendak berdiri karena tidak lagi kuat untuk menahan kencingnya. Dia terkejut karena saat ini, pergerakannya dibatasi oleh sebuah rantai yang mengikat dirinya.


"Kenapa sekarang aku dirantai?" batin Hoshiko kebingungan dengan tangisan yang mulai membasahi pipinya.


Sedangkan sang ayah hanya mengintipnya dari lubang kamar dan meneteskan air matanya.


Hingga saat tengah malam terjadi kembali. Hoshiko kembali melepas rantai yang mengikatnya dengan begitu mudahnya. Dia keluar dari kamar yang di depannya telah dijaga ketat oleh dua orang pengawal keluarga Ito.


Saat Hoshiko keluar, kedua pengawal keluarga Ito sendiri bahkan ketakutan dan melarikan diri dari sana. Hoshiko yang melihatnya kedua pengawal itu berlari, dia mengejarnya hingga membuat sebuah keributan di kediaman tersebut.


Saat Hoshiko telah mengejarnya cukup jauh, dia sampai di sebuah ruang tamu. Hoshiko berhenti seketika saat melihat dua buah foto dengan karangan bunga yang melingkar di foto tersebut.


Di saat itu, air mata Hoshiko menetes dengan sendirinya.


Dia pun kembali mengingat tentang hari-hari sebelumnya, dimana dia melihat bahwa tangannya telah menusuk ibunya dan juga mencekik seorang pelayan wanita.