
"Hei, bukankah kasus ini sama seperti rumor beredar itu?" tanya Kojima kepada teman sekamarnya.
"Ah, maksudmu rumor tentang gadis psikopat? Aku tidak percaya dengan rumor itu!" jawab Haruto merasa bahwa rumor yang dia terima benar-benar tidak masuk akal.
"Gadis psikopat?" batin Shota mulai merasa bingung.
"Ah, kenapa banyak sekali ingatanku tentang gadis itu? Kenapa dia terlihat diselimuti oleh aura darah setiap kali bayangannya muncul di dalam pikiranku!?" lanjut Shota yang mulai bermonolog.
Shota pergi ke kamar mandi dan segera membasuh wajahnya serta buang air kecil tentunya. Setelah selesai, Shota kembali ke kamar dan duduk di antara teman-temannya.
"Apa maksudnya gadis psikopat?" tanya Shota penasaran.
Menurut rumor yang beredar, di kota Tokyo setiap harinya terjadi kasus pembunuhan dan orang hilang. Seorang saksi mata diduga melihat dan menyebarkan bahwa dia melihat sosok dari pembunuh tersebut dua kali di tengah malam.
Meskipun kasus ini terus berlangsung dengan waktu yang sangat panjang. Pihak kepolisian Tokyo tidak dapat mengatasi masalah ini karena ketidaktahuan mereka tentang sosok yang bahkan tidak meninggalkan jejak pembunuhan sama sekali.
Semua ahli forensik bahkan telah menduga bahwa sosok pembunuh itu adalah orang yang sama, orang yang selama ini terus membunuh di setiap harinya dengan tanpa henti.
Karena seorang saksi yang mengatakan bahwa si pembunuh merupakan sosok seorang gadis, sebuah nama julukan akhirnya dia dapatkan karena rumor yang terus beredar tersebut.
Rumor tentang 'Gadis Psikopat' terus tersebar luas hingga banyak sekali orang yang mengetahui julukan tersebut.
"Kamu bilang, gadis psikopat akan selalu muncul di malam hari? Lalu, kenapa tidak ada seorang pun yang bisa menangkapnya?" tanya Shota dengan kebingungan.
"Sudah ku katakan, itu hanya rumor! Mereka tidak nyata, hanya karangan dari orang tua - orang tua untuk membuat anak-anaknya pulang cepat!" jawab Haruto dengan percaya diri.
Di kampus, turunlah seorang pria dengan jas hitam miliknya menggunakan mobil mewah tepat setelah melihat Shota baru saja akan keluar dari kampus.
"Aku harus mencari pekerjaan paruh waktu!" batin Shota dengan menggendong tasnya keluar dari kampus.
Pria berpakaian hitam itu langsung memanggil Shota, "Kamu!" dengan dirinya yang terlihat acuh tak acuh terhadap Shota.
"Ah, dia Kakaknya Hoshiko tempo hari itu!" batin Shota merasa bingung dengan kehadirannya.
"Sebelumnya aku belum memperkenalkan diriku, namaku Ito Ryota! Kakak dari Hoshiko!" ujar Ryota dengan menjelaskan.
"I-Ito Ryota! Aku pernah membacanya! Ah, itu benar! Dia berasal dari keluarga Ito yang super kaya! Tapi, kenapa aku tidak terkejut sama sekali?" batin Shota yang merasa kebingungan.
"Orang biasa akan terkejut saat mendengar namaku! Tapi, ada apa dengan anak ini? Mungkinkah dia tidak mengenalku?" batin Ryota kebingungan juga.
"Ah sudahlah! Yang lebih penting adalah kesembuhan Adikku!" batin Ryota dan pandangan pun dikembalikan ke hari sebelumnya.
Seorang pria paruh baya meminta izin untuk menghentikan mobil Ryota saat baru saja menjemput Hoshiko.
"Kenapa aku merasa tidak asing dengan sosok pemuda barusan?" batinnya kebingungan.
"Tuan muda! Aku ingin membicarakan tentang sesuatu yang penting mengenai —" ucap pria paruh baya itu dengan melirik sekilas diri Hoshiko yang saat ini menatap keluar jendela mobil dengan penuh rasa kesepian.
"Ah, sepertinya kita harus pergi karena ada urusan! Hoshiko, kamu pulanglah bersama Tuan Horikita!" ucap Ryota yang menyebutkan nama dari supirnya.
Ryota dan pria paruh baya itu pun akhirnya turun dari mobil dan berjalan pergi ke sebuah restoran yang terlihat dekat dari berhentinya mobil barusan.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Ryota dengan penasaran.
"Sebenarnya aku merasa tidak asing bahwa pemuda yang bersama dengan Nona Hoshiko pernah ku jumpai sebelumnya. Namun, aku tidak yakin akan hal tersebut!" jawab pria paruh baya itu dengan ragu.
"Ternyata bukan hanya aku yang merasa demikian!" seru Ryota dan segera menghubungi sebuah nomor dalam panggilannya.
"Segera cari informasi mengenai pemuda yang—" ucap Ryota dan terhenti seketika saat dia menyadari bahwa dia merasa pernah melakukan apa yang saat ini dia lakukan.
"Ada apa, Tuan muda?" tanya seseorang yang berada di ujung panggilan dengan kebingungan.
"Ah, kamu cari informasi mengenai seorang pemuda yang bernama— Ah, kamu tidak perlu melakukannya!" ucap Ryota saat menyadari bahwa dia bahkan belum mengetahui nama dari pemuda itu.
"Entah kenapa Tuan muda, rasanya akan sangat baik jika pemuda itu selalu bersama dengan Nona Hoshiko! Tapi, itu tergantung keputusan mu!" ucap pria paruh baya itu dengan sedikit gugup.
"Tenanglah! Sebenarnya aku sangat mempercayai semua ucapan yang keluar dari mulut Anda! Bagaimana pun juga Anda adalah psikiater dari adikku selama ini!" ujar Ryota merasa bahagia atas kesetiaan dari psikiater yang bahkan bisa saja menjadi korban dari kelainan Hoshiko yang biasa membunuh seseorang di setiap harinya.
"Besok aku akan menemuinya!"
Hingga saat dia tersadar dari lamunannya, Ryota mengusap lembut pelipis matanya.
"Pemuda ini berasal dari kota yang sangat jauh! Keuangannya benar-benar sedikit, dia baru pertama kali datang ke kota besar ini! Aku harus memanfaatkannya!" batin Ryota dan menatap percaya terhadap Shota yang berada di depan matanya.
"Aku ingin mengundang mu untuk minum teh!" ucap Ryota dengan jelas.
"Apa lama? Hhe, aku mau pergi mencari pekerjaan!" tanya Shota dengan merasa ragu.
"Kebetulan sekali! Aku sebenarnya ingin memberikan sebuah pekerjaan untuk mu!" ujar Ryota dan Shota pun mengangguk, dia mengekor di belakang Ryota dan masuk ke dalam mobilnya.
Mobilnya melaju di tengah kota, mereka pun sampai di sebuah hotel yang terlihat cukup sepi. Namun, saat setelah Shota melihat nama dari hotel tersebut, dia benar-benar mengingatnya.
Hotel yang selalu muncul di acara 'Daftar Populer' yang membuat Shota mengetahui bahwa saat ini dia akan masuk ke sebuah hotel yang sangat mewah.
Hotel biasa dengan nuansa Jepang yang kuno membuat hotel tersebut terlihat sejuk. Meskipun begitu, saat mereka masuk ke dalam hotel tersebut, mereka merasa nyaman.
"Selamat datang!" ucap seorang penjaga hotel dengan menyambut kedatangan Ryota, Shota dan seorang pria paruh baya.
Saat mereka semua masuk ke dalamnya, mereka pun memasuki sebuah kamar yang terasa nyaman dan seorang wanita dengan pakaian kimononya masuk ke dalam kamar tersebut dengan duduk di luar lalu membuka pintu geser tersebut.
"Hotel ini akan memberikan rasa sejuk dikarenakan fengshui telah diatur sebaik mungkin! Itulah yang kalian rasakan!" ujar wanita itu dengan sebelumnya yang telah memberikan hormat kepada para tamunya.
"Tuan-tuan mau memesan apa?" tanya wanita itu berlanjut.
"Silahkan kamu bisa memesan apapun yang kamu inginkan!" ucap Ryota dan mempersilahkan Shota untuk memilih makanan apa yang akan dia makan.
Saat Shota melihat nominal yang tertera di dalam daftar menu. Dia merasa tercengang melihat harga-harga makanan yang tidak masuk akal.
"Tempe sepuluh ribu yen, apa-apaan dengan harga itu?" teriak Shota di dalam hatinya.