Last Star

Last Star
Bab 8 - Last Star




Pria tampan menarik Shota dengan diam-diam. Dia memberikan sebuah kartu rekening kepada Shota dengan berkata, "Hei, mulai hari ini Kamu bisa ajak Hoshiko pergi berlibur! Dengan kartu ini, kamu bisa membeli apapun!" ujar pria yang merupakan kakak dari Hoshiko itu dengan perlahan.


"Meskipun Ayahku membiarkan mu menemani Hoshiko untuk pergi berlibur bersamanya, tapi kamu harus ingat satu hal! Jangan melakukan hal yang tidak masuk akal kepada Adikku atau tidak—" lanjut pria itu mengancam Shota dengan jari telunjuknya yang terlihat sedang memotong lehernya sendiri.


"Bagaimana mungkin aku berani macam-macam dengan keluarga terkaya nomor satu di Jepang! Ini adalah sebuah kehormatan bagiku untuk menemani Hoshiko pergi berlibur!" ucap Shota dengan sedikit gugup.


"Baguslah jika kamu paham dengan posisi mu sendiri!" ketus pria itu dan langsung berlalu pergi begitu saja.


"Dia hanya memberikan ku kartu ini tanpa rencana lainnya? Hei, apakah dia mengira bahwa aku ini adalah seorang pemandu wisata?" gumam Shota dengan bingung.


Shota kembali ke tempat dimana terakhir kali dia bersama dengan Hoshiko, dia pun dengan gugupnya berkata, "Hoshiko, apakah kamu mau jalan-jalan?"


Mendengar kalimat tersebut, Hoshiko pun mengeluarkan air matanya yang membuat Shota merasa bersalah.


"Eh? Kamu tidak ya? Kalo begitu tidak perlu, aku—"


"Aku mau! Terakhir kali aku berlibur adalah beberapa tahun lalu, ibuku yang mengajakku pergi berlibur!" ujar Hoshiko dan kembali mengenang masa lalunya.


"Huft, aku pikir dia benar-benar akan marah terhadapku?" batin Shota.


Menyadari bahwa pakaian Hoshiko tidak terlalu banyak, Shota tidak membawakan Hoshiko koper itu karena dia pun tidak memilikinya.


Tanpa persiapan apapun, Shota dan Hoshiko pun pergi dari kediaman yang sebelumnya Hoshiko hanya berpamitan dengan kakaknya yang terlihat begitu tidak peduli padanya.


Hanya kakaknya sendiri dan Shota yang mengetahui bagaimana perasaan kakaknya Hoshiko untuk saat ini.


"Hoshiko! Aku berharap kamu bisa memaafkan Kakakmu ini! Hiks..."


Tidak diantar menggunakan mobil, itu karena sebelumnya dokter kejiwaan yang memberikan saran untuk menyembuhkan Hoshiko berharap bahwa Hoshiko hidup bebas untuk saat ini dan Hoshiko juga tidak menginginkan diantar menggunakan mobil mewah yang membuat dirinya sendiri risih.


Setelah keluar dari luasnya kediaman Ito, mereka pun akhirnya bisa melihat sebuah kota yang cukup ramai.


Shibuya, pusat kota yang sangat padat di Tokyo. Kota dimana banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing.


"Ah, kamu mau pergi kemana dulu?" tanya Shota dengan penasaran.


"Uhm, aku tidak tahu! Selama ini, aku hanya membuat kaligrafi, melukis dan membaca komik di kamar! Aku tidak yakin dengan tempat liburan dan hal-hal semacam itu!" ujar Hoshiko yang berterus terang.


"Dia hanya melakukan ketiga hal tersebut? Yah, itu sudah pasti sih! Mungkin keluarganya takut membiarkan Hoshiko berkeliaran? Tapi, kenapa saat bertemu denganku, dia bebas berkeliaran di luar?" batin Shota kebingungan.


"Hei, selama ini kamu tinggal dimana? Bukankah kamu tahu, setiap malam?" tanya Shota dengan sedikit ragu-ragu.


Meskipun mendapatkan pertanyaan yang sungguh membuat hati Hoshiko berkecamuk, dia tidak dapat menyangkalnya bahwa dia telah membunuh ribuan orang selama hidupnya.


Hoshiko pun mengajak Shota untuk duduk di sebuah kursi di pinggiran jalanan.


"Kamu tahu? Aku telah membunuh ribuan orang dengan tangan ini! Apakah sekarang kamu takut padaku?" tanya Hoshiko dengan penasaran.


"Lagi pula, mungkin aku sudah mati? Mati untuk yang kedua kalinya bukanlah masalah besar! Aku bahkan tidak mengenal siapapun disini! Ini adalah sebuah kesempatan untuk ku bisa melihat gadis secantik dirimu!" batin Shota dengan memberikan senyuman kepada Hoshiko.


Hoshiko benar-benar dibuat terkejut, dia tidak dapat mengira. Sosok pemuda tampan di depannya memiliki senyuman yang menarik perhatiannya.


"Perasaan apa ini?" batin Hoshiko penasaran dengan hatinya yang berdegup kencang.


"Sudahlah! Lagi pula, dari jawabannya barusan aku mengerti! Setiap hari Hoshiko akan membunuh seseorang di tengah malam. Karena menurut informasi dari ayahnya, Hoshiko benar-benar akan mengeluarkan tenaga yang benar-benar misterius! Tapi, kenapa aku tidak merasakan hal itu?" batin Shota penasaran.


Shota berdiri, dia menarik lengan Hoshiko dan berkata, "Ah, aku tahu tempat yang bagus untuk kita pergi saat ini!"


Shota pun pergi dengan menarik lengan Hoshiko dari sana.


Beberapa perjalanan pun telah berlangsung, kini Shota melihat ponsel yang diberikan oleh kakak Hoshiko sebelum kepergiannya untuk mengajak Hoshiko liburan.


"Benar-benar aneh! Aku masih mengingat tempat wisata yang ada di Tokyo karena menonton televisi! Tapi, kenapa aku bahkan tidak bisa mengingat siapa diriku sebenarnya?" batin Shota mulai merasa bingung.


Di depannya telah terlihat sebuah bangunan besar yang membuat Hoshiko takjub akan hal tersebut, Hoshiko dengan mata berbinarnya berlari dengan girang dan berteriak, "Hei! Hei, bangunan apa itu? Besar sekali!"


Shota mulai tersenyum tipis, "Yang benar saja? Ternyata prediksi ku benar! Dia bahkan tidak mengetahui menara Tokyo?" batin Shota mulai merasa senang ketika dia melihat Hoshiko juga mendengar apa yang sedang dipikirkan Hoshiko untuk saat ini.


"Besar sekali! Andai saja aku bisa melompat dari atas sana ke bawah sini? Bukankah aku bisa bertemu dengan Ibu dan memohon maaf padanya?" batin Hoshiko yang membuat Shota terkejut.


"Hei, bisakah kita naik ke atas? Tadi sepertinya aku melihat ada tulisan—" ujar Hoshiko dengan antusias.


"Baiklah, aku akan bertanya dulu kepada petugas itu, ya?" ujar Shota dan langsung pergi menghampiri seorang petugas yang sedang menjaga menara tersebut.


"Bukankah memang tidak bisa naik? Tapi, ya aku tidak peduli sih!" batin Shota dan mulai tersenyum seraya memberikan hormat kepada pria paruh baya di depannya.


"Pak! Saya mau bertanya, dimana arah jalan menuju Akihabara?" tanya Shota dengan penasaran.


Lalu, pria paruh baya itu menjelaskan tentang lokasi yang ditanyai oleh Shota dengan panjang lebar, sedangkan Hoshiko hanya melihat di kejauhan dan merasa kebingungan.


Hingga saat kehadiran Shota tepat berada di depannya, Hoshiko telah bersemangat untuk mendapatkan kabar baik dari Shota.


"Kita tidak bisa masuk ke dalam! Sedang ada masalah kata petugasnya." Ucap Shota dengan penuh kebohongan.


Melihat sosok Hoshiko yang saat ini terlihat kecewa dan bersedih, sesosok pria berpakaian hitam yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan pun menelpon seseorang.


"Bos! Sepertinya Nona muda terlihat sedih dengan perilaku dari pemuda itu?"


Hoshiko merasa kecewa, tiba-tiba saja sebuah panggilan telepon pun masuk ke dalam ponsel yang baru saja dia dapatkan dari kakaknya Hoshiko.


Shota pun menerima permintaan panggilan telepon tersebut sembari pergi menjauhkan obrolannya dari Hoshiko.