
Hoshiko menangis mengingat tentang masa lalunya yang buruk. Dia terkejut saat pintu kamarnya terbuka dengan sendirinya.
Saat pintu kamarnya terbuka, sosok seorang pemuda yang tidak lagi asing terlihat di depan matanya.
Shota menyapa Hoshiko, "Yo! Apa kabar?"
Hoshiko menyadari bahwa ada sebuah bayangan yang tertinggal di balik pintu kamarnya, dia tidak asing dengan bayangan dari seorang ayah kandungnya sendiri.
"Dia masih membenciku?" batin Hoshiko yang melihat bayangan di belakang pintu itu mulai pergi menjauh dari sana.
Sedangkan Shota yang bisa mendengar pikiran orang lain, dia mengerti bahwa Hoshiko saat ini kesepian. Dia mengira bahwa ayahnya sendiri membencinya.
Nyatanya, sang ayah benar-benar ingin memeluk putrinya untuk saat ini. Tapi, sang ayah benar-benar merasa takut. Bukan takut kepada anaknya, melainkan takut melihat ingatan tentang istrinya yang telah dibunuh oleh anaknya sendiri.
Shota duduk di sebuah kursi yang tersedia disana. Dia melihat sebuah rantai hancur yang berada di kamar Hoshiko, Shota merasa sedih melihat kamar dari seorang nona muda keluarga Ito yang tidak benar-benar terlihat baik.
Tidak terlalu bersih dengan tampilan barang-barangnya yang tidak diganti. Beberapa barang bahkan terlihat rusak, meskipun begitu Hoshiko tetap menggunakannya.
"Hei, mulai hari ini aku akan menemanimu!" ucap Shota dengan tersenyum.
Hoshiko kebingungan, "Kenapa kamu tidak takut padaku? Padahal, sebelumnya aku telah mencoba untuk membunuhmu!" ujar Hoshiko dengan nada suaranya yang lemah.
Shota tersenyum ringan, "Bagaimana bisa aku takut pada seorang gadis yang sangat cantik?" jawab Shota yang membuat Hoshiko merasa malu untuk saat ini.
"Cantik? Apakah aku benar-benar cantik di matanya?" batin Hoshiko dengan rasa sedikit bahagia di dalam hatinya dan juga merasa tidak percaya akan kata-kata yang keluar dari mulut Shota.
Hari mulai gelap, seperti biasanya. Hoshiko di rantai oleh pengawal kediaman keluarga Ito sebelum dirinya tidur. Shota yang sedang menyaksikannya pun bingung dan merasa sedih melihat apa yang terjadi di depannya.
"Apakah sekarang kamu merasa takut? Setiap tengah malam, entah kenapa aku harus membunuh seseorang!" ucap Hoshiko sembari meneteskan air matanya.
Shota mendekati dirinya dan langsung mengusap rambut Hoshiko dengan lembut, "Tenang saja, aku percaya padamu!" ucap Shota dan langsung membuat Hoshiko merasa tenang.
Semua orang pergi dari sana, kecuali Shota yang tertidur di sofa hingga waktu mulai menunjukkan tengah malam. Hoshiko membuka matanya secara mendadak, dia melepas rantai yang kuat dengan mudahnya. Saat pecahnya rantai yang mengikatnya, disaat itu juga Shota mendengar sebuah suara keributan.
Shota membuka matanya dan terkejut saat Hoshiko sudah akan mencekik dirinya sendiri, "Jangan takut! Jangan takut! Lihat itu, hanya seorang gadis yang cantik untuk apa harus takut?" batin Shota yang meyakinkan dirinya sendiri.
Shota tersenyum dan kembali mengusap rambut Hoshiko dengan lembut, "Tenang saja, ada aku disini!" ucap Shota yang seketika membuat cengkraman tangan Hoshiko mulai melemah.
Hoshiko pun langsung tidak sadarkan diri dan jatuh ke dalam pelukan Shota.
Tiba-tiba saja, air mata Shota terjatuh begitu saja tanpa penyebabnya.
"Entah mengapa? Rasanya, aku ingin memelukmu selamanya!" batin Shota merasa tenang dan damai saat dirinya memeluk Hoshiko.
Setelah selesai memeluk Hoshiko, Shota langsung menidurkan Hoshiko di kasur miliknya karena dia tidak mau memberitahuku bahwa Hoshiko telah berubah, dia takut jika Hoshiko kembali dirantai.
Di pagi hari, semua orang di dalam kediaman Ito terkejut. Ada beberapa pelayan yang bahkan saat bangun tidur terlihat berada di bawah kasurnya menggunakan futon untuk bersembunyi dari Hoshiko yang kemungkinan akan membunuh seseorang.
Shota membuka matanya karena menyadari hari sudah pagi. Dia pergi keluar dan menghirup udara segar sembari membasuh wajahnya di taman belakang.
"Aku tidak membunuh seseorang, bukan?" batin Hoshiko saat dirinya baru saja bangun dari tidurnya. Dia melihat sosok Shota yang terlihat terakhir kali di depannya yang berada di atas sofa itu dengan teliti.
"Ha? Aku membunuhnya?" batin Hoshiko dan berlari keluar dari kamarnya.
Beberapa pelayan itu menyingkir dari Hoshiko karena merasa takut saat melihatnya. Hoshiko menyadari hal tersebut. Namun, saat ini dia hanya berpikir bahwa seseorang yang baru saja dikenalnya mati karenanya, itu tidaklah baik.
Saat Hoshiko ingin pergi mencarinya, dia pun terkejut akan sinar mentari yang menyilaukan masuk ke dalam kediaman dan memperlihatkan sosok siluet seseorang yang kini berdiri di sebuah taman.
Hoshiko pun akhirnya melangkahkan kakinya secara perlahan untuk menemui Shota.
Air mata pun menggenang di kelopak mata Hoshiko, dia benar-benar tidak percaya dengan dua hari yang berturut-turut dirinya tidak lagi membunuh seseorang.
Hoshiko melompat dengan gembira dan memeluk Shota dengan bahagia.
"Terimakasih!" seru Hoshiko dan Shota pun merasa kebingungan. Namun, Shota membalas perkataan dari gadis yang tengah memeluknya itu, "Bukan apa-apa!"
Sedangkan di sisi lainnya, dua orang pria paruh baya sedang mengobrol. Satunya adalah ayah dari Hoshiko dan satu orang lainnya saat ini sedang membaca berkas yang berada di depan matanya.
"Begini Tuan Ito! Menurutku, kita bisa memanfaatkan pemuda itu untuk menjadi acuan agar Hoshiko putrimu bisa terbebas dari kelainannya! Yah, itu menurut apa yang telah ku perkiraan dengan perhitungan yang matang, setidaknya!" ujar pria itu menjelaskan.
"Jadi, bagaimana cara agar aku bisa memanfaatkan pemuda itu?" tanya tuan Ito dengan penasaran.
"Berikan saja waktu untuk mereka berdua saling mengenal satu sama lain, berikan Hoshiko kesempatan untuk berlibur saja!" jawabnya dengan percaya diri.
"Aku mengerti! Jadi, mereka akan liburan untuk menyegarkan Hoshiko agar tidak terlalu banyak berpikir, ya? Baiklah, Ryota segera kamu berikan sejumlah uang untuk anak itu dan minta dia untuk pergi jalan-jalan bersama Hoshiko!"
"Baik, Ayah!"
"Oh, satu hal lagi! Kamu tugaskan beberapa pengawal untuk menjaga mereka tentunya!" lanjutnya dan obrolan pun selesai.
Hari sudah siang, Shota dan Hoshiko sedang makan siang bersama dengan riang gembira.
"Sudah lama sekali, aku tidak makan bersama seseorang!" batin Hoshiko dan mulai meneteskan air matanya.
Mendengar suara hati Hoshiko dan juga melihat penampakan gadis cantik itu, Shota merasa sedih karena hal buruk telah menimpa hidup Hoshiko.
"Dia bahkan tidak mengetahui apa penyebab dirinya membunuh seseorang di setiap malamnya? Ini benar-benar aneh!" batin Shota penasaran.
Saat Shota menyelesaikan makanannya, dia pun pamit ke toilet untuk buang air kecil kepada Hoshiko. Setelah selesai buang air kecil, Shota membuka pintu toilet dengan tenang.
Tiba-tiba seseorang menariknya paksa saat Shota keluar dari toilet tersebut.