Last Star

Last Star
Bab 14 - Last Star




Sebuah bintang terlihat bersinar terang di langit sendirian. Shota yang melihat bintang tersebut merasakan sebuah perasaan yang hampa.


Dia berada tepat di depan apartemennya, tidak ada seorang pun yang menemaninya.


Tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Shota.


'Selamat kepada Nakamura Shota karena berhasil lulus dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di universitas Tokyo! Harap konfirmasi untuk ketersediaan saudara untuk menerima atau tidak menerimanya beasiswa ini!'


Saat membaca pesan tersebut, tidak ada rasa bahagia sama sekali dalam diri Shota.


"Aneh? Seharusnya aku merasa bahagia karena mendapatkan beasiswa ini, bukan? Tapi, kenapa rasanya aku benar-benar tidak—" batin Shota dengan lemas.


Keesokan harinya, Shota pun kembali pergi ke sebuah restoran tempat dimana dirinya bekerja. Dia sudah bekerja selama satu bulan penuh, manajer bahkan sangat senang dengan kehadiran Shota sebagai pelayan restoran itu.


Namun, saat ini keadaan Shota tidak terlihat cukup baik. Manajer pun menghampiri Shota karena merasa penasaran, "Shota? Ada apa dengan mu?" tanya manajer dengan bingung.


"Uhm, maafkan aku manajer karena tidak bekerja dengan baik!" ucap Shota dan membungkukkan tubuhnya untuk memohon maaf kepada manajer di depannya.


Tiba-tiba sebuah panggilan masuk merusak suasana, manajer meminta untuk menerima panggilan tersebut.


"Halo? Dengan Nakamura Shota? Bagaimana, apa saudara Nakamura mau menerima beasiswa ini?" tanya seorang yang berada di ujung telepon.


"Sepertinya tidak?" jawab Shota yang membuat manajer menjadi kebingungan.


Manajer pun menarik ponsel milik Shota dan bertanya, "Maaf, Tuan? Shota mendapatkan beasiswa apa ya?" tanya manajer dengan penasaran.


"Oh, ini pasti Ayahnya! Putra bapak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Tokyo!" ucap seseorang di ujung telepon.


"Apa!?" teriak manajer dengan terkejut.


"Halo? Halo?"


"Shota! Kenapa kamu tidak menerima beasiswa yang sangat luar biasa ini?" tanya manajer dengan berbisik kepada Shota.


"Aku tidak punya ongkos untuk pergi ke Tokyo!" ucap Shota apa adanya.


"Huh! Halo, ah! Setelah kami pertimbangkan, Shota akan menerima beasiswa tersebut, Pak!" seru manajer yang membuat seseorang yang berada di ujung telepon pun gembira.


"Baguslah! Minggu depan, putra Anda harus segera berada di hari pembukaan para mahasiswa baru! Karena di saat itu kami akan memberikan kabar tentang pembagian asrama untuk mahasiswa!" ujar seseorang yang berada di ujung panggilan dan panggilan telepon itu seketika juga berhenti.


Shota merasa bingung dengan dirinya yang menerima sebuah beasiswa sedangkan dirinya bahkan tidak memiliki ongkos yang cukup untuk pergi ke kota besar itu.


"Tenang saja! Kamu harus giat belajarnya! Kamu telah mendapatkan beasiswa yang sangat luar biasa, sayang sekali jika tidak kamu terima!" ujar manajer dengan tersenyum.


"Tapi, aku harus memenuhi kebutuhan ku darimana?" jawab Shota kebingungan.


Manajer itu pun segera pergi ke meja kasir, dia menghubungi seseorang dengan berteriak, "Hei! Aku mau meminjam uang mu! Aku akan ambil di kasir saja! Totalnya seratus ribu yen!"


"Hei, tunggu dulu—" ucap penerima panggilan dan panggilan pun dimatikan oleh manajer itu.


Manajer pun langsung memberikan seratus ribu yen itu kepada Shota dengan lepas tangan.


Shota menerimanya dengan begitu gugup, dia membungkuk kan tubuhnya kembali dan berterima kasih terhadap manajer dan beberapa karyawan restoran pun langsung mengerumuni Shota dan mulai berdo'a.


"Semoga perjalanan mu aman dan belajarmu di kota sana membuahkan kesuksesan!"


Setelah do'a selesai, seorang gadis tiba-tiba saja mencium pipi Shota dengan mendadak.


"Kamu harus ingat untuk kembali kemari, ya? Jangan lupakan kita jika kamu sudah sukses disana!" ucap gadis itu dengan malu.


"Hei, kau curang! Shota, meskipun aku tau ini bukan waktu yang tepat. Tapi, aku berkata jujur bahwa aku suka padamu!" teriak gadis itu yang membuat karyawan-karyawan disana terkejut.


Shota pun ikut terkejut, "Rasanya, aku belum pernah disukai oleh seorang pun gadis? Tapi, kenapa setelah mimpi itu aku menjadi sedikit populer?" batin Shota kebingungan.


Saat Shota mengatakan hal tersebut, semua karyawan kembali terkejut atas jawaban dari Shota.


"Hei, siapa yang kamu sukai? Siapa? Pasti aku bukan?"


"Tidak, dia pasti menyukai ku!"


"Tidak,.Shota pasti menyukai ku karena milikku adalah yang paling besar diantara kalian!"


Shota melihat beberapa gadis itu yang ternyata memperebutkannya, dia merasa senang sekaligus bersalah.


"Maaf, tidak ada dari kalian yang aku cintai!" seru Shota yang membuat beberapa gadis itu menjadi kecewa.



Ini adalah hari terakhir Shota menjadi seorang pelayan di restoran itu, saat hari mulai malam. Shota pun akhirnya pulang seorang diri, tidak langsung berisitirahat. Shota mengemasi beberapa pakaiannya dan melihat sebuah gantungan kunci yang keluar dari salah satu pakaiannya.


Gantungan kunci itu bertuliskan 'Tokyo' yang keluar dari pakaian saat Shota bangun dari mimpi panjangnya.


"Tidak, aku tidak pernah menerima ini dari siapapun! Sebenarnya aku bahkan tidak pernah mengetahui sejak kapan aku membeli pakaian yang terlihat mahal ini! Sebenarnya kenapa mimpi itu terasa sangat nyata?" gumam Shota dengan perasaan yang campur aduk.


Air matanya lagi-lagi menetes dan membasahi pipinya.


Sedangkan saat ini di Tokyo, terlihat seorang gadis yang tengah mempersiapkan sebuah berkas dari sekolah rumahnya.


Itu benar, Hoshiko tidak bersekolah ke SMA, dia bersekolah di rumah atau biasa disebut sekolah di rumah atau home schooling.


Hoshiko baru saja menyelesaikan ujiannya. Namun, saat ini dia berada di hadapan ayahnya.


"Mulai minggu depan, kamu akan kuliah di Universitas Tokyo! Ayah telah mempersiapkan segalanya! Ingatlah untuk tidak pulang larut malam karena kamu—Ah, sudahlah kamu pasti mengerti!" ucap ayahnya dan segera pergi dari kamar Hoshiko.


"Hm, bersekolah ya? Kenapa saat SMP hingga SMA aku tidak diperbolehkan sekolah? Namun, setelah lulus aku harus bersekolah kembali? Bagaimana ini?" batin Hoshiko dan mulai mengemasi pakaian sekolahnya.


Pakaiannya berada tepat di sebuah lemari yang saat ini dia keluarkan, saat Hoshiko mengambil seragam sekolah semasa kecilnya, tiba-tiba saja sebuah gantungan kunci terjatuh dari lemari itu.


Hoshiko menaruh pakaiannya kembali ke lemari dan melihat sebuah gantungan kunci yang telah jatuh itu.


Saat dirinya melihat gantungan kunci tersebut, tiba-tiba saja Hoshiko teringat tentang masa lalunya.


Hoshiko saat ini sedang bermain dengan seorang anak lelaki, dia merasa bahagia bersama anak lelaki itu dengan tanpa sadar. Mereka bermain cukup lama di luar kediaman Ito.


Hoshiko memberikan sebuah gantungan kunci kepada anak lelaki itu yang sama persis dengan milik Hoshiko.


"Hei, hei? Apakah kamu mau berjanji satu hal denganku?" tanya Hoshiko penasaran.


"Hm, janji apa?" jawab anak lelaki itu dengan acuh.


"Suatu hari nanti, kamu harus menikah dengan ku, ya?" ujar Hoshiko kecil dengan senyuman yang lembut.


Melihat sosok gadis di depannya tersenyum, anak lelaki itu pun memalingkan pandangannya karena merasa malu.


"Baiklah! Aku akan menikahi mu!" jawab anak lelaki itu dengan canggung.


"Yes! Lihat-lihat itu, di langit sebenarnya ada dua bintang yang bersinar terang! Apa kamu melihatnya?" tanya Hoshiko dengan penasaran.


Anak lelaki itu pun melihat bintang-bintang di langit dengan seksama.


"Oh, aku melihatnya! Memang ada dua bintang yang bersinar terang!" jawab anak lelaki itu dengan bingung.


"Kenapa mereka tidak bersama saja ya? Bukankah jika seorang diri akan merasa kesepian?" tanya Hoshiko yang mulai meneteskan air matanya.


Melihat anak perempuan menggemaskan yang sedang menangis di depannya, anak lelaki itu akhirnya memeluk Hoshiko dengan penuh kasih sayang.


"Tenang saja, mungkin saat ini mereka belum bertemu! Jika saatnya nanti mereka bertemu, mereka pasti akan hidup bersama!" ucap Shota dengan mengusap rambut panjang Hoshiko.