
Ninja-ninja yang baru saja membunuh orang-orang itu segera mengikuti aroma darah yang keluar dari bangunan itu dengan mengarah ke arah hutan dengan segera.
Hingga saat pagi hari telah tiba, Shota akan keluar dari hutan tersebut dengan membawa Hoshiko bersama mereka. Namun, sesosok ninja menepuk bahu Shota dengan pelan.
"Ikuti kami!" ucap salah satu ninja yang berjalan sedangkan ninja lainnya berlari dan melompat ke pepohonan.
Shota merasa takjub dengan kehadiran sosok ninja itu, awalnya dia merasa curiga dengan kehadiran dari sosok ninja tersebut. Namun, kemampuannya bisa mendengarkan isi pikiran dari orang lain membuat Shota percaya dengan ninja yang saat ini menuntunnya pergi adalah bawahan dari kakaknya Hoshiko.
"Tapi, kenapa mereka tidak membantuku menggendong Hoshiko sih!" teriak Shota di dalam hatinya.
Hoshiko mulai membuka matanya secara perlahan, dia terkejut saat membuka matanya melihat sosok Shota yang saat ini menggendongnya.
Meskipun begitu, Hoshiko merasa nyaman dan berpura-pura untuk tertidur kembali sembari tersenyum menikmati perjalanannya.
Hingga saat mereka jalan lebih jauh lagi, terlihatlah sebuah kediaman yang kosong berada tepat di depannya. Para ninja itu berlutut di depan Shota dan berseru, "Nona Ito! Tugas kami hanya sampai disini! Kami akan kembali melapor terlebih dahulu kepada Tuan Ito!"
Beberapa ninja itu pun akhirnya pergi dengan Shota yang kebingungan, "Apa-apaan coba? Mereka berlutut di depanku dan mengatakan Nona Ito! Padahal saat ini Hoshiko sedang tertidur pulas!" ketus Shota dengan dirinya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman tersebut.
Shota mengedarkan pandangannya ke segala arah dan dirinya bingung karena kediaman itu tidaklah berpenghuni.
"Kenapa mereka meminta ku berisitirahat kemari?" batin Shota dan tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari kediaman melihat Shota yang terluka parah dengan menggendong Hoshiko.
"Hoshiko!" ucap wanita paruh baya itu saat menyadari bahwa gadis yang digendong oleh Shota tidak asing dalam penglihatannya.
"Nak, bisa kamu bawa Hoshiko kemari!" ucap wanita paruh baya itu dan Shota langsung membawa Hoshiko tepat ke depan wanita paruh baya itu.
Saat melihat Hoshiko, wanita paruh baya itu pun menyentil dahi Hoshiko dengan sedikit kuat.
"Ah! Sakit sekali, Bi!" keluh Hoshiko kesakitan.
"Hehe, mau bagaimana lagi! Aku—" ujar Hoshiko dan perkataannya terhenti karena Shota melepas Hoshiko dan terjatuh dalam gendongannya.
"Huh!" ketus Shota dan melangkahkan kakinya untuk duduk di sebuah kursi di luar kediaman itu.
"Lihat, dia marah karena kamu! Lihat saja lukanya itu, ah! Bibi mau ambil kotak pertolongan pertama dulu!" ujar wanita paruh baya itu sedikit kesal dengan Hoshiko.
Hoshiko menghampiri Shota dengan perasaan bersalah, dia merasa malu untuk saat ini.
"Hei, aku minta maaf karena telah merepotkan mu!" ujar Hoshiko dengan penuh rasa bersalah.
"Iya, sudahlah! Aku memaafkan mu!" jawab Shota dengan ikhlas.
"Huh! Andai saja dia gadis yang jelek, aku akan memaki mu! Argh." lanjut Shota di dalam batinnya.
Wanita paruh baya itu keluar dan membawakan kotak pertolongan pertama untuk meredakan rasa nyeri di tubuh Shota.
Sedangkan di sisi lain, seorang pria dengan kaca mata hitamnya baru saja sampai di depan bangunan yang sebelumnya dijadikan tempat penyekapan Hoshiko.
Pria itu melangkahkan kakinya dan melihat empat sosok bawahannya telah mati terbunuh. Satu korban telah mati karena terlihat bekas cekikan sedangkan ketiga lainnya mati karena lehernya yang robek.
Pria itu dengan memakai sarung tangan putih menghampiri mayat-mayat itu dan mengeluarkan benda yang berada di dalam saku celananya masing-masing.
Saat menyadari bahwa ada sebuah benda di dalamnya yang berbentuk pipih, pria itu tersenyum dan mengeluarkan sebuah ponsel yang terlihat masih ada jejak panggilan telepon di layar itu.
Melihat nomor ponsel yang tidak asing itu, pria itu menekan ponselnya sendiri dan mulai menghubungi kakaknya Hoshiko.
"Yo! Tuan Ito atau haruskah ku panggil Ryoma? Aku tunggu di Mansion Tian Xian! Malam ini!" ucapnya dan panggilan pun dihentikan.