Last Star

Last Star
Bab 3 - Last Star



"Siapa dia?"


Pemuda itu kebingungan setelah membaca nama yang asing yang bahkan tidak diketahui olehnya sama sekali.



"Nakamura Shota, itu artinya umurnya masih sama persis sepertiku!" gumam Shota.


*𝑀𝑢𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖, 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑟𝑜𝑡𝑎𝑔𝑜𝑛𝑖𝑠 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑆ℎ𝑜𝑡𝑎 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑁𝑎𝑘𝑎𝑚𝑢𝑟𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑟𝑔𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑠𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛 𝑆ℎ𝑜𝑡𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑎𝑛𝑦𝑎.


Tokyo, 20 Februari 2020.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan taman tersebut karena gadis itu yang telah mengajak Shota untuk ikut bersamanya.


Tentu saja Shota akan ikut karena dia benar-benar merasa bingung dengan apa yang telah terjadi padanya.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Menanggapi dengan adanya kasus pembunuhan di kota Tokyo, kami menghimbau agar penduduk untuk tidak keluar di malam hari guna untuk menghindari aksi pembunuhan tersebut!"


Sebuah siaran berita televisi baru saja didengar oleh Shota saat dirinya melewati sebuah toko kecil bersama dengan gadis bermata merah.


"Namaku Hoshiko Ito!" ucap gadis itu dengan datar dan suara yang agak berbisik.


"Ito Hoshiko ya? Eh, Ito?" batin Shota menanggapi perkataan gadis tersebut yang langsung mengakui bahwa dia bermarga 'Ito' yang tentunya membuat Shota terkejut.


"Bukankah artinya kamu berasal dari keluarga besar?" tanya Shota penasaran.


"Ya, aku adalah seorang nona muda dari keluarga Ito di keluarga besar!" jawab Hoshiko dengan santai.


Shota menelan ludahnya kebingungan, "Hei! Bukankah berbahaya jika kamu berkeliaran di malam hari!" bisik Shota meskipun tidak terlalu dekat dengan telinga Hoshiko.


"Ini sudah larut! Sebaiknya kita istirahat!" ucap Hoshiko dan masuk ke dalam sebuah hotel dengan gaya depan hotel tersebut begitu gemerlap dengan cahaya yang bersinar terang dan penuh warna itu.


"Hei! Apa maksudnya itu? Dia mau berisitirahat di '𝘓𝘰𝘷𝘦 𝘏𝘰𝘵𝘦𝘭' bersamaku? Tidak mungkin! Dia pasti bercanda atau mungkin dia tidak akan membawaku? Yah, itu sudah jelas lagi pula siapa aku?" batin Shota yang bermonolog seorang diri.


Shota melangkah maju menghindari Love Hotel untuk pergi dari sana. Namun, dirinya tiba-tiba saja ditarik kembali oleh Hoshiko dengan paksa.


"Sebelumnya dia tidak kuat saat menarik ku untuk berdiri? Kenapa sekarang dia kuat?" batin Shota kebingungan.


"Ah, untuk apa Kamu menarik ku masuk?" tanya Shota penasaran.


"Kita tidak bisa memesan kamar jika datang seorang diri ke hotel ini, b o d o h! Mungkinkah kamu seorang perjaka?" tanya Hoshiko yang mulai menertawakan Shota.


Pemesanan kamar pun telah selesai dilakukan, mereka berdua telah mendapatkan kamar yang terletak di lantai teratas dan kamar yang letaknya di ujung koridor.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar tersebut dengan Shota yang merasa gugup.


"Sebenarnya apa yang saat ini sedang terjadi? Ah Iya! Aku harus melihatnya!" gumam Shota dan langsung berlari ke walk-in-closet dan melihat sebuah cermin besar disana.


Dia mengusap wajahnya berulang kali karena merasa takjub akan dirinya yang benar-benar tidak mengenali sosok yang dia lihat untuk saat ini.


"G i l a! Ganteng sekali diriku!" batinnya dan mulai merasa bangga akan dirinya sendiri. Shota pun bergaya macho di depan cermin dan ditertawakan oleh Hoshiko yang melihatnya.


"Hei! Apa yang sedang kau lakukan?" teriak Shota yang menutup matanya dengan kedua tangannya. Meski begitu, di sela-sela jarinya masih terbuka karena dia tidak bisa melihat tubuh mulus dari seorang gadis yang sangat cantik.


Hanya tersisa pakaian dalam yang belum dia lepaskan, Hoshiko pun mulai menggoda Shota dengan mengusap paha mulusnya dan satu tangannya m e r e m a s salah satu gunung kembar miliknya.


Shota menelan ludahnya karena penasaran, "Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mu! Akhirnya setelah lamanya aku menjadi seorang yang tidak dianggap kehadirannya kini bisa mendapatkan kesempatan bersama seorang gadis yang sangat cantik!" batin Shota sangat senang.


Namun, saat Shota akan menuju ke arah Hoshiko. Tiba-tiba saja dia mendengar sebuah suara. Suara yang tidak asing dari telinganya baru-baru ini.


"Heh! Setelah kau sampai di dekatku, aku akan membunuhmu!"


"He? Sepertinya aku mendengar dia berbicara? Tapi, kenapa mulutnya diam saja ya?" batin Shota merasa kebingungan.


"Sebentar! Aku mau pipis dulu!" ucap Shota yang memang benar dirinya berniat untuk buang air kecil.


"Ah! Kamu bisa pipis di dalamku!" seru Hoshiko yang tidak sabaran.


"Huh! Ayolah cepat! Aku benar-benar kelaparan!" seru Hoshiko di dalam batinnya.


"Sepertinya aku mendengar suaranya? Apakah mungkin aku bisa mendengar pikiran seseorang?" pikir Shota yang merasa bahwa dirinya benar-benar keren karena memiliki sebuah kemampuan yang luar biasa.


Namun, setelah dia merasa dia memiliki kemampuan yang hebat. Shota sendiri terkejut karena Hoshiko berniat membunuhnya.


Dia kembali mengingat tentang sebuah berita yang sebelumnya didengar olehnya di sebuah toko kecil yang dia lewati.


"Apakah mungkin dia adalah pembunuh itu?" batin Shota terkejut.


Shota masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menghidupkan air panas. Dia diam sesaat di dalam kamar mandi dengan pintu kamar mandi yang dikunci olehnya.


Shota melepaskan pakaiannya, dia merasa kebingungan dan hanya berdiam diri dalam kamar mandi hingga membuat Hoshiko merasa kesal.


Hoshiko beranjak berdiri dari kasurnya dengan perlahan menuju kamar mandi tersebut.


"Kenapa dia lama sekali di dalam kamar mandi itu! Aku belum sempat membunuh seseorang karena situasi yang tidak tepat!" batin Hoshiko yang tentunya terdengar oleh Shota.


"Dia benar-benar berniat untuk membunuhku? Lalu, apa yang harus ku lakukan? Aku tidak mungkin menyerang gadis cantik yang pertama kali aku temui bukan?" batin Shota mulai memikirkan sebuah rencana.


"Memangnya, dia membawa senjata? Sepertinya aku tidak melihatnya sama sekali! Itu artinya hanya ada satu kemungkinan! Senjata yang dia gunakan pasti berukuran kecil dan tajam, mungkin jarum atau silet? Mungkin juga pisau kecil atau cutter?" batin Shota mulai memikirkan tentang senjata yang digunakan oleh Hoshiko.


"Hei! Bisakah Kamu membawakan ku benda tajam! Aku perlu benda tajam untuk merobek pakaian ku sedikit!" teriak Shota.


"Huh! Untuk apa pakaian dirobek! Aneh-aneh saja, lagi pula aku tidak memiliki benda tajam! Hanya ada jarum di tanganku. Aku harus mencari benda tajam kemana? Ah sudahlah! Lagi pula dia akan mati, bukan?" batin Hoshiko yang terus bermonolog.


"Dia hanya membawa jarum? Oke, sepertinya aku bisa melawannya!" gumam Shota dan dirinya mengendap-endap untuk ke sisi pintu.


"Aku sudah membawanya! Jadi, bukalah pintu nya!" teriak Hoshiko dan dengan perlahan pintu pun mulai terbuka.


Hoshiko dengan mata merahnya yang memegang sebuah jarum tersenyum menyeringai dan bergumam, "Matilah Kamu!"