
Shota merasa bingung, dirinya bahkan tidak mengingat tentang asal usul keluarganya.
"Sejak kapan ini terjadi? Kenapa aku tidak bisa mengingat tentang masa kecilku?" batin Shota yang mulai berusaha untuk melihat jauh ke dalam ingatannya.
Shota benar-benar merasa bingung untuk saat ini karena dia tidak pernah mengingat tentang masa kecilnya sama sekali.
Namun, saat Shota terus memaksakan dirinya untuk melihat masa lalunya. Tiba-tiba saja sebuah suara berita terdengar jelas di telinganya. Ya, saat ini operator warnet melihat sebuah berita utama di sebuah siaran berita terupdate di kota Tokyo.
"Diketahui, pelaku tidak terlihat sama sekali di setiap kamera pengawas! Tidak ada jejak sama sekali tentang kasus pembunuhan ini! Karena demikian, pihak kepolisian hanya menganggap bahwa korban itu melakukan bunuh diri meskipun dalam penyelidikannya tidak terlihat dengan kasus bunuh diri... "
Saat mendengar berita terbaru itu, Shota merasa terkejut. Dia tiba-tiba saja melihat sebuah bayangan yang dimana dirinya melihat sosok gadis yang semalam dia lihat itu terlihat mirip seperti sosok seorang gadis kecil yang berada di depan matanya.
Sosok gadis kecil dengan mata merah yang bercahaya itu tengah memegang sebuah pisau.
"Aku mencintaimu! Maka dari itu kamu akan selamanya jadi milikku jika kamu mati di tangan ku!" ucap gadis itu dan saat pisau akan segera menusuk Shota.
Dirinya terkejut dan merasa bahwa bayangan di depan matanya terlihat sangat nyata.
"Ada apa?" tanya Shinomiya Hinata dengan penasaran.
Shota mengusap pelipis kepalanya dengan bingung, "Tidak ada apa-apa!" jawabnya dengan keringat dirinya yang mulai terlihat pucat.
"Kamu pasti tidak baik-baik saja! Sebaiknya kamu ikut aku saja ke kediaman ku!" ucap gadis itu yang membuat Shota terkejut.
"Eh? Apa maksud mu?" tanya Shota kebingungan.
"Kamu terlihat pucat, aku akan memasakkan sesuatu untuk mu! Tenang saja, jaraknya cukup dekat dari sini!" jawab Hinata dengan tulus.
Melihat ucapan tulus tersebut, Shota tidak mampu untuk menolaknya. Dia pun akhirnya pergi bersama Hinata ke sebuah apartemen yang berada tinggi di lantai atas.
"Permisi!" ucap Shota saat memasuki apartemen milik Hinata.
"Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke apartemen seorang gadis! Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku?" batin Shota kebingungan.
"Kamu tunggulah sebentar! Aku akan memasakkan sup dan bubur untuk mu!" ucap Hinata yang membuat pemandangan saat ini terlihat seperti sepasang kekasih.
Selagi Hinata memasakkan sesuatu untuk Shota, Shota menonton acara televisi di ruangan itu dengan bingung.
"Makanan telah tiba! Ayo, dimakan!" seru Hinata dan menghidangkan bubur serta sup di depan Shota.
"Selamat makan!" ucap Shota sebelum memulai makannya.
Waktu berlalu, Shota tidak dibiarkan untuk pergi dari kediaman Hinata hingga saat malam terjadi, Hinata mengenakan pakaian yang serba minim. Lekukan tubuhnya terekspos jelas di depan mata Shota, tidak ada yang bisa menahan godaan ini terlebih lagi Hinata adalah seorang gadis yang cantik dengan tubuhnya yang terlihat mulus dan berisi membuat Shota merasa haus.
Hinata mulai mendekati Shota, hingga saat di malam hari sebelum mereka tidur. Hinata mengajak Shota untuk melakukan kegiatan bercinta yang tentunya membuat kepala Shota panas.
Shota duduk di kasur milik Hinata, sedangkan Hinata telah melepaskan pakaiannya hingga tidak terlihat sehelai benang pun yang menyentuh kulit putihnya yang mulus.
Shota menelan ludahnya, dia benar-benar melihat sosok gadis sempurna yang membuat pikirannya tidak karuan.
Saat Hinata duduk di pangkuan Shota, kedua bibir pun saling bersentuhan antara satu sama lainnya.
Saat Shota sedang menikmati prosesnya, dia pun mencoba untuk menutup matanya karena ingin lebih menikmati proses ini. Namun, tiba-tiba saja sebuah bayangan dari seorang gadis bermata merah itu kembali muncul di dalam pikirannya. Shota mulai terdiam meskipun Hinata saat ini sedang m e l u m a t habis mulut Shota.
Air mata Shota lagi-lagi terjatuh dengan sendirinya, Shota mendorong Hoshiko sesaat dan pergi keluar dari kamar Hinata dengan dingin.
"Huh! Padahal aku belum memulainya! Apa mungkin dia sudah keluar? Huh! Dasar p e r j a k a!" gumam Hinata dan mulai kembali mengenakan pakaiannya.
Sedangkan Shota keluar dari apartemen Hinata dengan perasaan yang bercampur aduk di dalamnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" kata itu terus terngiang di dalam pikirannya hingga beberapa saat kemudian, Hinata pun keluar untuk menemui Shota.
"Hei, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Hinata dengan penasaran.
"Aku tidak tahu!" jawab Shota sekenanya.
"Begitu? Yah, pikirkan kembali besok! Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur karena besok harus pergi ke acara sambutan!" ucap Hinata dan menarik Shota kembali masuk ke dalam apartemennya.
Dia kembali menarik Shota ke atas kasurnya, meski begitu Shota tidak bergerak sama sekali. Melihat reaksi Shota, Hinata pun kehilangan semangatnya untuk bercinta dengan Shota malam ini.
Dia memapah Shota tidur di atas kasurnya dan dirinya juga tidur di atas kasur yang sama bersamaan dengan Shota.
"Kenapa kamu melakukan ini dengan seseorang yang baru saja kamu temui?" tanya Shota penasaran.
"Hm, aku melihat mu cukup tampan! Jadi, aku ingin melakukan itu dengan mu! Hehe, aneh bukan?" jawab Hinata dengan tanpa rasa malu sama sekali.
"Tidak aneh, mungkin kamu punya alasan tersendiri?" gumam Shota.
Hinata pun memeluk Shota dengan kuat, "Hei, apa suatu saat nanti kamu mau melakukannya dengan ku?" tanya Hinata dengan penasaran.
"Aku tidak yakin, tapi untuk saat ini sepertinya aku tidak bisa!" jawab Shota dengan datar.
"Sebenarnya ya, aku ini masih suci! Aku belum pernah melakukannya sama sekali dengan siapapun! Haha! Aku merasa ingin melakukannya dengan mu karena kamu adalah satu-satunya orang yang tidak mengenal ku!" ujar Hinata dengan berterus terang.
Hinata terus menerus berbicara, dia bahkan telat menyadari bahwa saat ini Shota telah tertidur pulas di sebelahnya.
Hinata cemberut, dia memeluk tubuh Shota dan menatapnya dengan tanpa henti hingga tertidur.
Saat di pagi hari, Shota merasa lemas. Dia tidak bisa bergerak sama sekali karena tubuhnya telah tertindih oleh pelukan Hinata yang tiada henti.
"Entah kenapa, padahal ada gadis cantik yang mau berhubungan dengan ku? Tapi, kenapa aku tidak merasa tertarik untuk melakukan itu sama sekali dengannya ya?" gumam Shota yang tentunya terdengar oleh Hinata.
"Apa mungkin Kamu tidak normal?" tanya Hinata penasaran.
"Hei, itu tidak benar! Kamu memiliki paras yang cantik dan tubuhmu itu, uhm sejujurnya aku sangat menyukainya!" jawab Shota yang tiba-tiba saja mendapatkan sebuah tamparan dari Hinata.
Hinata langsung pergi begitu saja ke kamar mandi sedangkan Shota mengusap pipinya yang merah dengan bingung, "Hei, sebenarnya apa yang terjadi padanya, sih!?"
Semua mahasiswa telah berlalu-lalang di kampus tempat dimana saat ini Shota akan melanjutkan pendidikannya.
Saat dirinya baru saja masuk bersamaan dengan Hinata, karena keasyikan mengobrol dengan Hinata, Shota tidak menyadari bahwa seorang gadis kini menghentikan langkah kakinya dan membuat Shota menabraknya jatuh.
Shota merasa bersalah. Namun, saat dia membuka matanya. Dia melihat sosok seorang gadis yang tidak asing dalam bayangannya, gadis cantik bermata merah tepat berada di depannya yang baru saja dia tabrak.