Last Star

Last Star
Bab 15 - Last Star




Perjalanan menuju Tokyo memang sangat melelahkan, setelah tiba di kota besar itu Shota mencari hotel untuk menginap.


Dia tertegun sejenak saat melihat sebuah hotel cinta yang terasa tidak asing dalam ingatannya, dia mencoba masuk dan memesan sebuah kamar kepada resepsionis hotel.


"Maaf! Satu kamar minimal untuk dua orang!" ucap resepsionis tersebut dengan jelas.


"Ah, hanya aku seorang diri saja! Aku tidak bersama siapapun!" jawab Shota dengan gugup.


"Itu benar, untuk memesan satu kamar, Anda harus bersama seseorang di hotel ini!" ucap resepsionis itu yang kemudian menjelaskan.


Shota keluar dari hotel tersebut dengan perasaan kesal, "Aneh sekali! Kenapa aku tidak bisa memesan kamar untuk diri sendiri?" gumam Shota dan melangkahkan kakinya secara cepat dan pergi berlalu untuk menjauh dari hotel tersebut.


Dia pun akhirnya melihat sebuah hotel kapsul yang berada di dekat sana. Dia merasa tertarik untuk menginap di hotel tersebut karena biayanya yang relatif murah. Namun, hal tersebut dia tangguhkan karena dirinya tidak begitu mengenal tempat tersebut dan tidak ada seorang pun yang dapat dia tanyai.


Oleh karena itu, Shota pun berjalan-jalan seorang diri di tengah kota Shinjuku di malam hari.


Dia terus berjalan dengan tanpa arah dan tujuan sama sekali, "Lusa adalah hari pertamaku berkuliah di Tokyo University of Foreign Studies?"


"Masih ada banyak waktu, seharusnya aku bisa berkeliling menikmati malam hari di kota ini bukan?" batin Shota dan melanjutkan langkah kakinya.


Dia berkeliling kota dengan tanpa henti hingga dia tidak menyadari bahwa saat ini waktu malam telah sampai di titik puncaknya. Saat Shota merasa mengantuk, dia bertemu dengan seorang pria yang baru saja selesai akan pekerjaannya.


"Mungkin ini tidak bagus, tapi aku benar-benar mengantuk untuk saat ini!" gumam Shota dan berlari menghampiri pria itu dengan percaya diri.


Saat berada di depan pria tersebut, Shota membungkukkan tubuhnya dan berkata, "Permisi, aku mengganggu waktu mu, apakah aku bisa mengetahui tempat istirahat terdekat dari sini?" tanya Shota penasaran.


Pria itu melihat Shota dengan penuh perhatian, dia pun mengerti dengan keadaan Shota dari penampilannya yang membawa tas besar dan sejumlah kantung tas yang dijinjing olehnya.


"Oh, dari sini kamu bisa melewati gang ini untuk mempercepat perjalanan! Kamu bisa melihat sebuah warnet yang berada di dekat stasiun Shinjuku!" ucap pria itu dan Shota pun kembali membungkukkan tubuhnya seraya mengucapkan terimakasih.


Setelah selesai, pria itu pergi sedangkan Shota mulai melihat gang yang gelap di depan matanya.


Dia melangkahkan kakinya masuk dengan sedikit ragu. Namun, dirinya sudah tidak mampu lagi menahan rasa kantuknya yang terus merajalela di dalam dirinya.


Saat Shota menelusuri jalanan tersebut, dia terkejut karena saat dia masuk ke dalam gang kecil yang sepi itu dia melihat sosok seorang gadis yang tengah membunuh seseorang di depan matanya.


Shota merasa terkejut. Namun, dia mengusap kembali wajahnya dengan mempercayai pikirannya bahwa apa yang dia lihat hanya sebuah delusi semata karena dirinya benar-benar merasa lelah.


Shota pun berlanjut keluar gang dan melihat sebuah tempat yang cukup ramai. Dirinya kini berada di daerah jalanan depan stasiun Shinjuku. Shota mencari sebuah warnet yang dikatakan oleh pria sebelumnya.


Saat dia melihatnya, dia pun masuk dan bertanya untuk bagaimana cara menggunakan warnet serta tidur secara gratis.


Ternyata, di dalam warnet tersebut telah tersedia sebuah ruangan khusus yang kecil untuk setiap komputer. Shota melihat harga paket malam yang ternyata dia anggap terlalu mahal.


"Mau bagaimana pun, ini di Tokyo! Sudah tentu harganya berbeda dari tempat asalku!" gumam Shota.


Bukannya tidur, Shota mulai mengoperasikan komputer dengan penuh penasaran. Dia menonton beberapa film dan mencoba memainkan permainan yang terlihat di layar desktop.


Shota memasukkan beberapa koin yen dan dia mendapat satu buah kopi kaleng dan satu kaleng ramen yang ternyata terasa hangat.


Saat kembali ke ruangannya, Shota membuka ramen terlebih dahulu karena penasaran.


Beberapa bungkusan terpisah dengan sebuah air yang sudah berada di dalam plastik. Shota membuka bungkusan-bungkusan itu dan mulai memasukkannya sesuai prosedur.


Saat ramen telah siap santap, Shota tidak langsung memakannya. Dia membuka kopi dingin miliknya dan meminumnya bersamaan dengan dirinya yang melanjutkan permainannya.


Karena dia adalah seorang pemula, maka wajar saja jika dia kalah dalam sebuah permainan. Shota membuka ramen miliknya yang terlihat bahwa mi ramen itu telah membesar. Setelahnya Shota melahap habis mi ramen dengan perasaan bahagia.


Dia terus bermain permainan hingga pagi hari dirinya masih tertidur di dalam sana. Shota memperpanjang waktu pemakaiannya karena hari dirinya mulai masuk kuliah masih tinggal beberapa waktu lagi.


Saat seorang gadis masuk ke dalam warnet, Shota merasa terkejut. Air matanya tiba-tiba saja keluar dan membuat gadis itu merasa bersalah.


Gadis itu langsung menghampiri Shota dan panik, "Uhm, maaf apa aku melakukan kesalahan? Aku mohon maaf jika aku melakukan hal itu!" ucap gadis itu yang langsung membungkukkan tubuhnya dan memohon maaf kepada Shota.


Shota sendiri kebingungan, "Ah, tidak! Sepertinya barusan mataku terkena debu! Haha!" ucap Shota dengan tawanya yang dipaksakan.


Gadis itu melihat ruangan Shota yang dipenuhi dengan kantung tas. Dia pun mengerti bahwa Shota bukan berasal dari Tokyo dengan aksen bicaranya yang cukup berbeda dari kebanyakan orang.


"Oh, sepertinya kamu baru pindah kesini? Kerja atau kuliah?" tanya gadis itu yang penasaran.


"Haha! Benar, aku berasal dari tempat yang cukup jauh! Aku kuliah di TUFS!" jawab Shota dengan gugup.


"Lagi pula, kenapa ada gadis secantik ini yang tiba-tiba mengajakku berbicara?" batin Shota meronta-ronta.


"Jadi seperti itu, aku juga baru akan masuk kuliah di universitas yang sama dengan mu!" ucap gadis itu dengan tersenyum.


"Hei, bisakah aku meminjam komputer mu sebentar?" lanjut gadis itu bertanya.


"Oh, baiklah!"


Gadis itu membuka sosial media miliknya, Shota benar-benar terkejut karena dia baru saja melihat seorang gadis yang ber-cosplay sebagai tokoh-tokoh animasi dan permainan.


"Hehe, aku adalah seorang cosplayer! Namaku Hinata Shinomiya!" ucap gugup gadis tersebut.


"Hhe, salam kenal Shinomiya! Namaku Shota—" jawab Shota dan dirinya kebingungan dengan nama keluarga miliknya.


"Eh, kenapa aku melupakan nama keluarga ku? Memangnya aku memiliki keluarga ya?" batin Shota kebingungan.


Dia membuka kartu identitasnya sendiri karena penasaran. Namun, saat dirinya melihat kartu identitasnya sendiri. Terlihat nama keluarganya yang buram di depan matanya.


Merasa bingung, Shota pun membuka beberapa lembar berkas penting miliknya untuk melihat nama keluarga yang dia miliki.


Namun, hasilnya nihil. Semua nama pemberian terlihat dengan jelas dan nama keluarga yang dia dapatkan semuanya buram dengan tanpa alasan.


"Tidak mungkin ini sebuah kebetulan, bukan?"