
Di saat kedua pria itu berada tepat dihadapan Shota, dirinya sudah mengendap masuk melewati kedua penjaga tersebut dengan tanpa diketahui sama sekali.
Shota merasa ragu saat dia telah berada di dalam bangunan kosong tersebut, dia berjalan menelusuri tempat yang benar-benar misterius dalam pandangannya.
"Sebenarnya tempat apa ini?" batin Shota dengan menyapu pandangannya ke segala arah.
Sebuah ruangan terlihat terang karena lampu yang menyala. Shota beranggapan bahwa ruangan tersebut adalah ruangan tempat dimana gadis yang dia yakini Hoshiko tepat berada di dalamnya.
Saat Shota mengendap-endap dan melihat ke dalam ruangan tersebut, tiba-tiba saja seseorang telah memegang bahunya.
"Nak, sebaiknya Kamu tidak bermain di tempat seperti ini!" ketus pria yang telah memperingatkan Shota.
Tiba-tiba saja, Hoshiko berteriak sembari menangis, "Ahh! Apa yang kau lakukan padaku?" teriak gadis itu yang tidak asing di telinga Shota.
Benar, gadis itu memanglah Hoshiko. Shota langsung berlari ke dalam ruangan itu dan menyaksikan dua orang pria kini sedang menyentuh bagian ******** dari Hoshiko.
Merasa marah, Shota langsung menjurus dan menendang pria itu dengan sangat kuat hingga pria yang ditendangnya terlempar jauh dengan tendangannya.
Shota sendiri bahkan tidak mengerti tentang kekuatan kakinya, hingga ketiga pria lainnya pun akhirnya mengeluarkan sebuah samurai dan salah satunya langsung menodongkan samurai itu terhadap Hoshiko hingga membuat Shota terpaksa untuk menyerah.
Shota diikat di sebuah pilar dengan tali tambang dan dengan sangat kuat. Dirinya pun dipermainkan oleh pria-pria itu hingga tubuh Shota mulai bercucuran dengan darah.
Shota merasa lemah, dia meneteskan air matanya saat melihat sosok Hoshiko yang tidak dapat dia jaga.
Karena hari mulai mencapai puncaknya, air mata Hoshiko seketika itu berhenti. Mata merahnya mulai bersinar dengan menatap tajam ke arah dua orang yang saat ini gembira dengan menyiksa Shota berulang kali.
"Hentikan!" ucap Hoshiko dengan dingin.
"Hee? Padahal dia belum mati, untuk apa kita harus menghentikannya? Hahaha! Lagi pula, dia bukan berasal dari keluarga Ito!" ujar seorang pria dengan meremehkan Hoshiko.
Saat sebuah pisau dilempar dan tepat mengenai telapak tangan Shota, di saat itu juga Shota berteriak kesakitan dan tali yang mengikat Hoshiko kini telah terlepas begitu saja.
Hoshiko menjurus dan mencekik salah seorang pria dengan kuat. Hanya dalam hitungan detik, pria itu mati di tangan Hoshiko begitu saja.
Merasa ketakutan melihat Hoshiko yang membunuh dengan begitu mudahnya. Pria satunya mengeluarkan samurai dan tersenyum menyeringai, "Hei, aku diperintahkan untuk tidak melukai mu! Namun, jika kamu menginginkannya! Aku terpaksa harus melukai mu!" ucap pria itu dengan penuh percaya diri.
Saat Hoshiko berjalan ke arahnya, karena takut pria itu hendak menebas Hoshiko. Namun, samurai di tangannya bahkan bisa ditahan menggunakan kedua jari Hoshiko dengan mudahnya.
"Hei, ini bukankah sangat aneh! Ini bukan novel yang bercerita tentang seorang samurai yang hebat! Tapi, kenapa dia bertingkah laku seperti itu?" teriak pria itu dan melempar samurai itu kepada Hoshiko.
Dirinya pun melarikan diri untuk memanggil bantuan, sedangkan Shota saat ini lemah. Hoshiko melangkahkan kakinya menuju ke arah Shota dengan sebuah samurai di tangannya.
"Kenapa kamu membuatku tidak bisa membunuh seseorang selama dua hari ini!" ketus Hoshiko dengan tegas.
"Sepertinya aku akan mati disini?" batin Shota dan dirinya memejamkan mata karena saat ini Hoshiko sudah mengangkat samurai di tangannya yang diarahkan kepada Shota.
Namun, Shota tidak merasa kesakitan sama sekali. Tali yang mengikat pergelangannya kini lepas karena Hoshiko yang menebasnya.
Sedangkan Hoshiko sendiri telah jatuh di hadapan Shota yang mulai tak sadarkan diri.
Shota pun akhirnya mengangkat tubuh Hoshiko dengan lemahnya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan jalan yang tertatih-tatih.
"Huh! Aku tidak mungkin bisa membawamu kabur dari sini! Lagi pula, sebenarnya ini dimana?" batin Shota mengeluh atas dirinya yang terus berniat menyelamatkan Hoshiko.
Menyadari di belakang bangunan itu ada sebuah hutan. Shota memasuki hutan itu untuk menyelamatkan diri karena dia sadar bahwa pria yang sebelumnya lari itu akan segera memanggil bantuan.
Oleh karena itu, Shota membawa Hoshiko untuk menyebrangi hutan yang dia perkirakan hanya hutan pendek yang mampu dia lewati dengan sebentar. Namun, kenyataan Shota sudah berjalan selama satu jam penuh di dalam hutan tersebut, dirinya terus berjalan hingga kelelahan dan menjatuhkan Hoshiko di tengah hutan karena saat ini Shota pun sudah tidak lagi sadarkan diri.
Malam berlalu dengan cepat, di pagi hari Shota membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dalam hutan.
Shota mencari keberadaan Hoshiko yang tidak terlihat di sekelilingnya, dia berniat untuk berdiri dengan tubuhnya yang telah diselimuti oleh perban untuk menutupi semua luka yang diterima oleh Shota.
Menyadari Shota telah sadarkan diri, seorang pria tua masuk ke dalam kamar Shota dengan tersenyum.
Pria tua itu membawa segelas air minum dan memberikannya kepada Shota.
Saat Shota meminum air itu, tiba-tiba saja sebuah guncangan terjadi dalam diri Shota. Guncangan yang benar-benar tidak diketahui itu tiba-tiba saja membuat Shota mulai kehilangan akan akal sehatnya.
Shota menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya dengan kuat. Hingga saat pria tua itu memberikan sejumlah jarum dengan sangat cepat dan ditempatkan di depan dada Shota.
Seketika itu juga gerakan Shota menjadi terhenti layaknya patung. Shota tidak bergerak sama sekali dan membuat pria tua itu kembali tersenyum dan bergumam, "Sepertinya kamu dan gadis itu dirasuki oleh sebuah roh yang saling memiliki keterikatan?"
"Aku tidak yakin bagaimana cara untuk menghilangkan roh ini dari dalam tubuh kalian karena roh yang masuk ke dalam tubuh kalian benar-benar sangat kuat!" lanjut pria itu berkata-kata dan Shota pun mulai sadar kembali dan jarum yang ditusukkan di depan dadanya itu seketika ditarik kembali.
Shota kembali terjatuh ke atas kasur itu dengan kebingungan.
"Apa kau bilang aku juga dirasuki oleh roh seseorang?" tanya Shota dengan penasaran.
"Tidak! Melainkan kamu sendiri yang merupakan roh tersebut!" jawab pria tua itu dengan tegas.
Shota merasa terkejut, tiba-tiba saja sebuah ingatan terlintas di kepalanya. Ingatan saat-saat terakhir Shota berpindah tempat ke kota besar ini.
Shota terkejut, dia kembali mengingat dimana tempat asalnya. Meskipun begitu, Shota benar-benar tidak mengingat tentang siapa dirinya sebenarnya.
"Apakah tidak ada caranya untuk menghilangkan roh yang merasuki Hoshiko?" tanya Shota dengan penasaran.
"Tentu saja ada! Sebelumnya aku telah berkomunikasi dengan roh itu, dia merupakan seorang samurai yang diberikan perintah untuk membunuh seseorang setiap tengah malam dengan darah dari korbannya yang akan dipersembahkan kepada Tuannya. Gadis itu selalu membunuh seseorang, bukan?" tanya pria tua itu yang membuat Shota kebingungan.