
Shota benar-benar merasa terkejut karena pria tua itu mengetahui tentang semua hal dengan begitu mudahnya.
"Sebenarnya siapa pria tua ini?" bingung Shota dengan penasaran.
"Yah, untuk sekarang dan ke depannya, jika kamu mau membuat gadis itu selamat. Kamu bisa tinggal disini bersama dengan gadis itu dan aku akan mempelajari tentang roh miliknya!" ucap pria tua itu menjelaskan.
"Apa kamu benar-benar bisa mengeluarkan roh di dalam tubuhnya?" tanya Shota penasaran.
"Aku tidak yakin! Tapi, aku akan berusaha untuk mencobanya!" jawab pria tua itu dengan percaya diri.
Shota merasa kebingungan, dirinya belum pernah bertemu dengan orang yang berada di depannya.
"Sepertinya kekuatan membaca pikiran ku telah hilang?" batin Shota kebingungan karena semenjak dia terbangun, dirinya bahkan tidak mampu untuk mendengarkan apa yang dikatakan pria tua itu di dalam pikirannya.
Hoshiko tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar tersebut, dia langsung memeluk Shota karena merasa khawatir.
"Hei, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Hoshiko dengan rasa cemasnya.
"Aku tidak apa!" jawab Shota dengan tersenyum.
Shota diberikan sebuah kursi roda yang terbuat dari kayu oleh pria tua itu. Hoshiko sendiri mendorong kursi roda itu dan mengajak Shota untuk menghirup udara segar di luar kediaman yang merupakan sebuah pagoda lima lantai.
"Aneh, rasanya sejuk sekali di tengah kota Tokyo, bukan?" batin Shota merasa kebingungan.
Hoshiko menyapu pandangannya dan melihat sebuah pohon apel di depannya. Dia tersenyum dan berlari untuk memetik buah apel itu.
Saat sebuah apel didapatkan olehnya, Hoshiko berlari kembali menghampiri Shota dan memberikannya apel itu kepada Shota.
"Bagaimana rasanya?" tanya Hoshiko dengan antusias.
"Ehm, enak sekali!" jawab Shota.
"Rasanya tempat ini damai sekali, aku bahkan berpikir bahwa kita telah tiada! Suasana tempat ini benar-benar berbeda! Tapi, meskipun aku telah mati. Bukankah seharusnya Hoshiko masih hidup di luar sana?" batin Shota kebingungan.
"Hei hei! Lihat kelinci-kelinci itu! Mereka memiliki keluarga yang sempurna! Aku merasa iri hanya terhadap seekor kelinci!" ucap Hoshiko dengan air matanya yang mulai menggenang di kelopak matanya.
"Hei, maukah kamu berkeluarga dengan ku?" lanjut Hoshiko yang membuat Shota tersipu malu.
"A–apa maksudmu? Berkeluarga? Itu—" jawab Shota yang merasa gugup dan perkataannya saat itu juga dipotong kembali oleh Hoshiko yang kini telah memegang tangannya.
"Hahaha! Aku bercanda!" ucap Hoshiko dengan tertawa terbahak-bahak.
Hari-hari terus berlalu, di setiap malamnya Hoshiko akan diawasi oleh pria tua itu dan kini Shota pun ikut menyaksikan saat-saat dimana Hoshiko berteriak di dalam sebuah ruangan.
"Lepaskan aku dari tempat ini! Aku harus membunuhnya! Aku harus menjadi seorang samurai yang patuh terhadap perintah tuannya!" teriak Hoshiko di dalam ruangan yang bisa dilihat oleh Shota dan pria tua itu.
Shota meneguk ludahnya dengan tak percaya. Kini, Hoshiko sedang memaksakan dirinya untuk keluar dari sebuah ruangan dengan memaksa menerobos beton yang sangat kuat. Meskipun begitu, Hoshiko benar-benar tidak mampu untuk menghancurkan beton tersebut meskipun dia telah memukul dinding itu berulang kali hingga tangannya bahkan sudah berlumuran darah.
Shota pun yang penasaran kembali bertanya kepada pria tua itu sembari menggendong Hoshiko untuk mengembalikannya ke dalam kamarnya, "Apakah masih lama untuk bisa mengeluarkan roh samurai itu dari tubuhnya?"
"Benar sekali! Tapi, aku sebenarnya telah memiliki cara yang sangat cepat dan akurat!" jawab pria tua itu dengan percaya diri.
"Nah, kenapa kita tidak melakukan yang itu saja?" tanya Shota dengan penuh harapan.
"Syaratnya adalah mengorbankan satu roh dan roh yang paling tepat untuk hal ini adalah... Kamu!" ujar pria tua itu yang membuat Shota kebingungan.
Shota pun kebingungan, dia benar-benar tidak rela jika dirinya harus merelakan hidupnya untuk Hoshiko. Hingga berminggu-minggu lamanya, Shota terus menyaksikan Hoshiko yang terus tersiksa di dalam sebuah beton yang tebal dan mengelilinginya.
Hanya ada teriakan di setiap malamnya, Shota benar-benar merasa putus asa karena Hoshiko sendiri mulai terlihat lemah dan tidak bertenaga.
"Cara ini hanya mengorbankan daya tahan gadis itu dan daya tahan dari roh yang bersemayam di dalam tubuhnya! Seseorang yang bertahan untuk yang terakhir kalinya, dialah pemenangnya!" ucap pria tua itu dengan tegas.
Kata-kata dari pria tua itu terus terpikirkan di dalam benar Shota, "Jika Hoshiko terus seperti ini, dia sendiri yang akan bunuh diri bukan?" batin Shota terkejut.
Saat di pagi harinya, Hoshiko berada tepat di depan Shota dengan sebuah apel yang saat ini dipotong olehnya.
"Shota? Ini untukmu!" ucap Hoshiko dan menyodorkan sepotong jari yang berdarah kepada Shota.
Shota membulatkan matanya tidak percaya, Hoshiko tersenyum dan berkata, "Sepertinya aku benar-benar lelah dengan semua ini!" pisau yang dipegangnya kini telah berada di depan lehernya.
Saat pisau itu Hoshiko tusukkan tepat di lehernya, di saat itu juga Shota membuka matanya dengan tidak percaya.
Shota melihat sosok Hoshiko yang berada tepat di pangkuannya dengan tubuh Shota yang masih dalam kondisi penuh dengan luka.
"Huft! Ternyata hanya mimpi yang sangat panjang?" batin Shota dan kembali mengangkat Hoshiko untuk keluar dari dalam hutan tersebut.
Shota benar-benar merasa bahwa mimpinya terlihat sangat nyata. Dia tertatih membawa Hoshiko pergi dan dirinya tiba-tiba saja mendengar sebuah suara deru mobil yang tidak jauh dari sana.
Shota akhirnya menyadari bahwa perkotaan sudah mulai dekat, dia berniat menghubungi kakak Hoshiko dengan ponselnya. Namun, ponsel miliknya kini tiada dari dalam saku celananya.
"Ah, benar! Mereka mengambil ponselku!" ucap Shota dan terus membawa Hoshiko keluar dari sana.
Sedangkan di bangunan kosong tersebut, tiga orang pria saat ini akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tempat dimana Shota dan Hoshiko disekap.
Saat mereka akan masuk ke dalamnya, tiba-tiba saja sesosok yang misterius melesat dan menebas leher seorang pria dengan mudahnya.
"Apa barusan itu? Ninja?" tanya seorang pria yang menyadari bahwa dirinya bahkan tidak dapat melihat sosok yang bergerak dengan sangat cepat karena temannya telah ditebas tepat di hadapannya.
"Cepat katakan dimana Nona Ito berada?" tanya sesosok misterius itu dengan dingin.
"Maksudmu gadis itu bukan? Dia ada di ruangan itu! Ampuni kami aku sudah memberikan kalian informasi!" ujar pria itu dengan merasa ketakutan bahkan dirinya sudah mengeluarkan air kencing yang membasahi celananya sendiri.
Namun, hanya dalam beberapa saat saja. Kedua pria yang tersisa itu dibunuh juga oleh sosok yang tidak terlihat dengan mudahnya.
Saat sosok misterius itu masuk ke dalam ruangan tempat Hoshiko berada, mereka tidak melihat apapun hanya melihat sebuah jejak noda darah di sana.