
Seorang pria yang besar terlihat di depan mata Shota, "Maafkan kami! Kami hanya bercanda saja!" jawab ketiganya secara bersamaan dengan nada rendah.
"Hahaha! Apa kalian mau bergabung dengan klub sumo kami?" tanya pria besar itu dengan penuh harap.
"Ah, bukankah klub sumo hanya untuk orang-orang yang besar, ya?" tanya Shota penasaran.
"Siapa yang mengatakan itu? Tentu saja tidak, siapapun boleh bergabung mau itu pria atau wanita! Lihat disana!" ujar pria besar itu dan menunjukkan seorang gadis cantik lainnya yang terlihat memakai pakaian sumo.
Mereka sangat terkejut karena melihat pakaian putih yang agak transparan dengan celana sumo yang membuat gadis itu terlihat benar-benar sangat wow.
"Hee? Dasar m e s u m!" ucap Hinata dengan jijik saat melihat ketiga pria di depannya menatap m e s u m ke arah gadis cantik dari klub sumo itu.
Namun, saat Hinata melihat Shota menatap gadis sumo itu dengan tatapan m e s u m, tiba-tiba saja sebuah pikiran masuk ke dalam diri Hinata.
"Apa Shota suka dengan hal yang seperti itu?" batin Hinata dengan penasaran.
"Eh? Apa maksudnya ini? Kenapa? Tidak, tidak, tidak! Shota hanya dijadikan sebagai alat pelampiasan ku saja karena dia cukup tampan! Bukan yang lain!" lanjut Hinata dengan rona merah yang mulai menyebar di wajahnya.
"Hinata? Apakah kamu sakit?" tanya Shota saat melihat Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
"Sakit? Kamu yang sakit!" ketus Hinata dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.
"Hei, dia kenapa?" tanya Haruto kebingungan.
Sedangkan di sisi lain, di sebuah ruangan seorang pria tengah memegang secarik kertas.
"Maafkan aku Ryota!" gumam seorang pria yang kini melihat sebuah berkas pemindahan saham sebesar 50 persen di depannya.
"Aku membutuhkan uang untuk mencari pelaku siapa yang telah membunuh adikku!" lanjutnya dan segera menyimpan berkas saham itu dengan tertata rapih di sebuah brangkas.
Saat dia akan menutup brangkas tersebut, dia hanya melihat sebuah foto seorang anak kecil yang terlihat tampan dan terlihat mirip dengannya. Dia pun menutup brangkas tersebut dengan rasa bersalah.
"Maafkan, Kakak!" gumamnya dengan air mata yang langsung mengalir begitu saja.
Mendengar ketukan pintu, pria itu kini menghapus jejak air matanya dan berupaya untuk tetap terlihat tegar.
"Hei, kamu mau mencari pelaku pembunuh itu lagi? Jangan buang-buang waktu mu dengan hal yang tidak berguna!" ucap wanita itu dengan tegas kepada pria yang kini telah mengepal kuat tangannya.
"Kau mau apa datang kemari?" tanya pria itu dengan dingin.
"Ayo, temani aku pergi ke mall? Aku lihat ada barang bagus yang baru saja sampai!" jawab wanita itu dengan tanpa tahu malu.
Pria itu kini melangkahkan kakinya mendekati wanita itu dengan dingin, dia melihat sebuah bayangan tentang ingatan satu bulan sebelumnya saat dimana Ito Ryota menyinggung tentang keberadaan adiknya.
Sebuah pukulan saat ini sedang melayang dan mendarat tepat di wajah wanita yang kini sudah terkapar di lantai dan tak sadarkan diri.
"Buang dia!" ucap pria itu kepada seorang pria yang berada di dekat pintu.
Benar, dia adalah Nakamura Kojiro. Seorang pemimpin mafia di kota Tokyo, namanya telah dikenal di negeri ini. Namun, tidak ada yang bisa menangkapnya karena Nakamura Kojiro tidak pernah terlibat di dalam hal yang dia atur. Pekerjaannya benar-benar bersih tanpa meninggalkan jejak hingga pihak kepolisian tidak berdaya dengan sosok Nakamura Kojiro.
"Berani-beraninya j a l a n g itu menyepelekan adikku!" batin Kojiro dan berlalu begitu saja dari ruangan tersebut.
Seorang pria baru saja masuk ke dalam kediaman Nakamura, dia meminta agar pasukannya segera turun dari sana.
Tiba-tiba saja, seorang wanita sedang diikat oleh dua orang pria di depan mata Kojiro.
"Apa ini?" tanya Kojiro dengan dingin.
"Tuan muda! Saat saya memeriksa sebuah rekaman kamera pengintai di sebuah toko. Wanita itu terlihat berada di jendela dan melihat kejadian pembunuh pada suatu waktu! Namun, dia tidak mau mengatakan siapa pembunuhnya! Saya telah mencoba berbagai cara, dia tetap tutup mulut!" ujar pria itu menjelaskan kepada Kojiro.
Kojiro pun melangkahkan kakinya mendekati wanita itu dengan datar, dia mencengkram rahang dari wanita itu dan bertanya, "Sebutkan siapa pembunuh itu?"
"Aku— aku tidak bisa mengatakannya!" jawab wanita itu dengan tangisan yang tiba-tiba deras begitu saja.
"Jadi, kamu tetap tidak memberitahu ku? Baiklah!" ucap Kojiro dengan datar.
"Apa kamu akan membebaskan ku?" tanya wanita itu dengan penuh harap.
"Tentu saja!" jawab Kojiro dengan senyuman yang menyeringai.
Kojiro mengambil sebuah samurai yang berada di punggung seorang bawahannya dan dia langsung dengan begitu saja memotong kepala dari wanita itu dengan dingin dan tanpa rasa takut.
"Siapapun di dunia ini yang berani menyepelekan adikku, dia pantas mati!"