
Karena kehilangan cukup banyak darah, Shota pun berakhir di atas kasur yang empuk dengan Hoshiko yang menemaninya tidur di satu ranjang yang sama dengannya tanpa sepengetahuan Shota itu sendiri.
Sedangkan di Mansion Tian Xian, sebuah mansion dengan gaya khas Tiongkok yang terlihat ramai baru saja dimasuki oleh seorang pria berkacamata yang tentunya dikenal oleh semua karyawan di dalamnya.
"Tutup restoran ini! Aku ingin menggunakannya!" ucap pria itu dengan dingin.
Seketika itu juga, beberapa orang yang mendengarnya merasa disambar petir. Bahkan beberapa pelanggan yang mengenalnya langsung pergi melarikan diri dari Mansion Tian Xian itu.
Hanya beberapa saat kemudian, mobil hitam pun tiba di depan mansion tersebut dan mendapatkan sambutan hangat oleh para pelayan yang berada di sana.
"Selamat datang di Mansion Tian Xian, Tuan Ito!" sapa beberapa pelayan dengan membungkukkan tubuhnya memberikan hormat.
Ryota masuk ke dalam mansion dengan dikawal oleh dua orang kepercayaannya untuk berhadapan dengan pria kejam yang merupakan pemilik dari mansion tersebut dan juga, "Ternyata Anda telah tiba terlebih dahulu, Tuan Nakamura!" ucap Ryota dan memberikan salam terhadap Nakamura Kojiro atau biasa dikenal sebagai pemimpin kelompok Yakuza di negara Jepang dan berpusat di Tokyo, Kabukicho.
"Jadi, apa yang Anda inginkan, Tuan Nakamura?" tanya Ryota dengan penasaran.
"Aku hanya mau 50 persen saham dari perusahaan farmasi mu tentunya!" ucap Nakamura Kojiro dengan senyuman yang menyeringai.
"Kurasa Anda sedang merampok, Tuan Nakamura? Lagi pula, jika Anda menginginkannya maka aku bisa saja membunuh Adikmu!" ancam Ito Ryoko yang memberikan sebuah salinan dari kertas tentang identitas Nakamura Shota.
"Setelah ku cari informasi ini dengan lebih detail, ternyata Kamu memiliki seorang adik yang ternyata dia pernah sekamar dengan adikku di Love Hotel!" ketus Ito Ryota dengan kesal.
Nakamura Kojiro merasa tidak senang, dia memukul meja di depannya dengan sangat kesal dan marah.
"Apakah kau sedang bercanda dengan ku, Ryota?" teriak Nakamura Kojiro dengan amukan yang dahsyat, kedua pengawal Ryota pun akhirnya berjaga-jaga dengan hal buruk apa yang akan terjadi.
Sedangkan Nakamura Kojiro terlihat putus asa, dia mengeluarkan air matanya dengan perasaan kecewa yang sangat dalam.
Nakamura Kojiro lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto akan dirinya bersama dengan sebuah foto yang dikalungi oleh bunga.
Foto yang berarti bahwa dia mengabdikan sebuah kenangan dengan adiknya sendiri.
"Adikku telah meninggal 5 tahun lalu!" teriak Nakamura Kojiro dengan putus asa.
Ito Ryota merasa bingung untuk saat ini, "Hei, bukankah dia adalah β" batin Ryota yang mulai bingung dengan apa yang dia pikirkan untuk saat ini.
"Siapa yang bersama Adikku?" lanjut Ryota bergumam kebingungan.
Sedangkan di sisi lainnya, Hoshiko baru saja terbangun dari tidurnya. Di tengah malam, dirinya terpaku menatap langit-langit kediaman dengan sembari mengeluarkan air matanya.
"Apa yang terjadi? Dimana dia? Siapa? Siapa dia?" batin Hoshiko kebingungan.
"Kenapa dua hari sebelumnya aku tidak membunuh seorang pun? Hanya semalam aku membunuh seseorang dan kenapa aku bisa sampai kemari?" batin Hoshiko merasakan sebuah perasaan yang aneh.
Perasaan akan kehilangan seseorang yang bahkan tidak dapat dia sadari sama sekali.
Karena hari telah mencapai tengah malam, Hoshiko dengan mata merahnya yang mulai bersinar pun keluar dari kamarnya dengan tanpa kendali sama sekali.
Setelah membuka sebuah kamar, dirinya melihat sosok seorang wanita paruh baya yaitu Bibi Sakura. Hoshiko langsung melangkahkan kakinya masuk dengan Bibi Sakura yang menyadari akan kedatangan dari Hoshiko.
"Sudah saatnya giliran ku? Selamat tinggal Hoshiko!" gumam wanita paruh baya itu dan Hoshiko pun mulai mencekiknya hingga wanita paruh baya itu tidak lagi dapat bernafas.
Di pagi harinya, Hoshiko terbangun dan menyadari bahwa dirinya telah membunuh pengasuh dirinya sewaktu kecil dulu.
Karena kekuasaan mutlak keluarga Ito, mereka menyembunyikan fakta tentang Hoshiko yang memiliki kelainan jiwa karena di setiap malam akan selalu membunuh seseorang.
Hoshiko berlari mencari ayahnya, saat dirinya telah tiba di depan kamar ayahnya. Hoshiko merasa takut, dia tidak berani masuk ke dalam kamar dari ayah kandungnya sendiri.
Namun, sebuah perasaan aneh tiba-tiba saja muncul di dalam pikirannya. Hoshiko kembali ke kamarnya dan duduk di sebuah sofa dengan perlahan.
Lagi-lagi sebuah perasaan aneh tiba-tiba saja muncul jauh di dalam penglihatannya dan juga di setiap indra miliknya.
"Sebenarnya, apa alasan waktu itu selama dua hari aku tidak membunuh seseorang?" batin Hoshiko mulai penasaran.
Saat dirinya keluar dari kamar, Hoshiko ingin bertanya kepada pelayan-pelayan yang ada di depan matanya. Namun, semua pelayan itu merasa takut akan kehadiran dari Hoshiko itu sendiri.
Hoshiko pun mulai menangis, air matanya tidak henti untuk terus keluar dari matanya yang membuat sosok seorang kakak yang telah mengalami kerugian mengamuk dan mulai membentak Hoshiko, "Ini semua salahmu danβ" teriak Ryota yang mulai kebingungan dengan sebenarnya apa yang ingin dia katakan selanjutnya.
"Siapa yang mau aku singgung?" batin Ryota kebingungan.
Merasa dibentak oleh kakaknya, Hoshiko pun keluar dari kediaman keluarga Ito dengan menangis tanpa henti meskipun saat ini hari sedang hujan.
Hoshiko merasa sangat kebingungan, dia tidak mengingat tentang siapa sosok yang akhir-akhir ini memberikan Hoshiko dukungan dan mengajaknya pergi keluar rumah. Dia benar-benar penasaran. Namun, semuanya tidak dapat dia ingat dengan jelas.
Sementara di sisi lainnya, Shota baru saja terbangun di depan apartemen tinggi tempat dimana dirinya terjatuh dari lantai atas.
"Ehm, sepertinya aku tidak mati?" gumam Shota yang merasa kebingungan.
"Mimpinya aneh sekali!" lanjutnya bergumam.
Shota kembali ke kamarnya dengan perasaan bingung yang terus menyelimuti dirinya sendiri. Shota masuk ke dalam apartemen miliknya dan segera untuk membersihkan dirinya.
Saat dirinya berada di depan cermin yang besar, dia benar-benar terkejut karena saat ini luka di tubuhnya telah hilang sepenuhnya.
Bukan hanya itu, saat Shota melihat wajahnya, dia benar-benar kembali terkejut karena parasnya kini telah berubah menjadi paras yang tampan rupawan.
"Apakah ini aku?" batin Shota penasaran.
Keesokan harinya, Shota pergi ke sebuah restoran kecil di pagi hari. Dia mengenakan setelan kemeja berwarna putih dengan sedikit berkas yang ada pada tangan kanannya.
Shota berniat melamar pekerjaannya, meskipun hanya dalam waktu singkat dirinya diterima untuk bekerja menjadi pelayan restoran itu, Shota tidak merasa bahagia sama sekali.
Shota benar-benar merasakan sebuah perasaan yang hilang dalam dirinya sendiri.
Sama halnya dengan Hoshiko yang kini sedang membaca komik, air matanya terjatuh bersamaan dengan Shota yang juga ikut meneteskan air mata saat melayani pelanggan.
"Sebenarnya, kenapa aku merasa kehilangan?"
Bersambung..
Ada yang merasa kebingungan engga ya kira-kira sama penyampaian ku? Kalo ada, bisa komentar terlebih dahulu dan berdiskusi dengan pembaca lainnya π Barangkali ada yang ngerti sama engga kan, kalian bisa berdebat di komentar bawah π
*Rilis ulang setelah diperbaharui dan aku penasaran apa masih ada yang menantikan novel hujan karyaku ini?