
Setelah menang tipis 3-2 atas Torino, aku dan teman serekanku merayakan kemenangan pertama kali. Aku berkali-kali di spam pujian oleh mereka.Ya, rasa ku di spam.Walaupun kenyataan tidak bisa diubah kalau akulah man of the match kali ini. Aku juga begitu senang dan berulang kali mengingat olympic goal yang kuciptakan. Mengingat Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi untuk gol pertama saja tidak olympic goal. Namun bukan itu. Aku ingin membuat prestasi untuk Fiorentina di semasa kedatangan ku dan aku bakalan menjadi pemain di Jepang. Karena dalam karir aku berusia 16,aku bakalan ikut piala Dunia U-20 . Aku aslinya padahal hampir kepala 3 juga. Tapi senangnya kembali muda dan di jenjang karir yang berbeda
Aku menyandarkan daguku dengan tangan yang terbuka dan tenggelam dalam lamunan. Suara kesenangan dan keributan perayaan teman serekanku itu tidak menggemingkan diriku yang sudah dalam lamunan.
Sehingga dalam satu kesempatan, Biraghi mendekatkan pundaknya ke pundakku dan itu lumayan mencengangkan ku dan terlepas dari lamunan.
"Hey, anak muda. Tidak sehat melamun seperti itu. Kau seakan terbayang sesuatu. Kalau dilihat-lihat, kau sepertinya tidak senang atau penuh pikiran. Jangan terlalu dipikirkan. Itu tidak sehat untuk pikiranmu. " ucap si kapten menasihatiku.
Aku hanya membalas senyuman pada sang kapten yang sangat peduli dengan kesehatan mental ku. Ya, aku sedang kepikiran ibuku yang sendiri di rumah. Aku jadi khawatir siapa yang akan menjaganya. Aku masih ingat dia berteriak sebelum aku mati kesetrum dan dibawa kesini.
Entah kenapa aku terkadang juga merasa bodoh dengan diriku yang tercengang ketika disini. Aku kadang merasa mati dan terbawa disini hal yang normal. Kenapa ya? Aku baru ingat.Temanku yang bernama Pasha pernah bilang.
...****************...
Aku masih kecil sekali. Dari kecil aku sudah maniak game seperti sebelum kematianku. Aku dengan tampang culun ditambah dengan kacamata bundarku sedang duduk di ayunan di tengah senja dari musim gugur. Di sebelahku duduklah Pasha.
"Hey Kyouma, " ucapnya "kau tahu tidak? "
"Tahu apa? " heranku
"Kau barangkali sulit mempercayai ini. "
Aku mulai membuka telingaku mendengarkan keluh kesah dari Pasha yang badannya besar itu. Walaupun berbadan besar, tapi hatinya tidak kalah dengan badannya. Maka dari itulah kenapa aku ingin berteman dengannya. Dengan senang hati pun aku mendengarkan nya.
"Kemarin" lanjut nya dengan suara lirih "ibuku pergi meninggalkanku"
Ucapan itu pecah menjadi tangisan dan aku meletakkan tanganku di kedua bahunya.
"Dihari itu pula ada konser J-Pop terkenal. Mereka mendatangi para idola mereka dengan antusias tanpa memedulikan desakan. Kalau ditanya apakah mereka pecinta J-Pop itu seperti nya bukan sebuah pertanyaan karena mereka pasti pecinta para idola mereka. Andai mereka juga mencintai keluarga mereka, tokoh agama mereka, tuhan mereka seperti mereka mencintai sebagaimana mereka mencintai idola mereka. Nabi Muhammad pernah berpesan"
"Muhammad? " heranku yang asing siapakah itu
Dengan senyuman manis dan mata biru khas Eropanya itu mengangguk iya padaku. Oh manisnya dia.
" 'Kau akan bersama orang yang kau cintai' dan aku sangat mencintai Tuhan, nabi Muhammad dan kemudian keluarga ku dan tentu saja buku yang suka ku baca. Bahkan ketika kita menghembuskan nafas terakhir pun kita akan bersama mereka "
Aku melihat dia seakan tidak dapat membayangkan bagaimana itu bisa terjadi. Aku diam sejenak dan mengatakan padanya
"Oh jadi begitu"
"Ya, aku pulang dulu ya. Aku ingin beres-beres rumah" dia pun beranjak dari ayunannya
"Baiklah, sampai jumpa"
Dia melambaikan tangannya padaku dan meninggalkan ku ditaman dan tersenyum ketika dia pergi dan balas lambaiannya.
Dia temanku yang baik, sangat ramah, dan ada saja cerita dia mengisi jiwa kosongku yang tidak terselamatkan oleh game itu.
...****************...
Dimanakah kini Pasha? Dia kini kembali ke Turki dan menjadi seorang arkeolog. Namun kini aku tidak banyak berbicara padanya. Tapi mungkinkah dia mau datang ke pemakamanku?
Tapi entah kenapa aku tidak merasa mati sama sekali. Aku bilang begitu karena aku masih merasakan sakit dan keadaanku disini benar-benar masih kunalar.
Aku tidak mungkin membiarkan diriku mati penasaran dengan kematianku. Kalau tidak ada yang ingin membantu ku, biar aku yang cari sendiri tentang apa yang terjadi.
Namun, kalau dipikir-pikir lagi aku suka dengan dunia dibawah sadar ini. Aku bisa merasakan hidup yang enak. Seperti nya aku tidak akan peduli. Ah dudukku di ruang ganti sebentar tapi entah kenapa pikiranku sudah buat dua kubu dan akan berperang.
Ya, aku tidak mau pulang. Aku akan tetap berada disini. Ini baru liga Italia. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika dipertemukan dengan Ronaldo atau Messi nanti nya. Aku juga ingat misiku,yaitu menjadi G. O. A. T. Tentu perlu mengalahkan mantan 2 raksasa Spanyol itu.
Menimbang usiaku yang terlalu muda di universe ini, memang masih jauh. Tapi, apa masalahnya. Kylian Mbappe saja bisa membawa Prancis juara di Piala Dunia 2018.
Apakah ini yang dilakukan profesional? Mereka tidak memikirkan pendidikan sehingga mereka bisa menjadi luar biasa di bidang mereka?
Tetapi, untungnya IQ dan pengetahuanku tidak hilang . Masih seperti di dunia nyata.
Nikola Gonzalez menepuk pundakku. Dia menatap mataku dengan baik. Walaupun pemikiran tadi panjang, pikiran yang menggerogoti ku barusan hanya 5 menit. Kecepatan pikiran jauh lebih cepat dari cahaya sebodoh apapun dirinya. Ya itu memang panjang, tapi jika dikonversikan dengan waktu memang singkat
"Hey, apa yang kau pikirkan. Ayo minum biru bersama kami"
Dia memberiku gelas dan menuangkan biru sehingga gelasku penuh. Baunya menyengat sekali. Dan aku tidak percaya langsung diberi biru seperti ini. Orang Jepang seperti ku padahal asli nya tidak bisa sedekat ini dengan orang baru.
Giacomo Bonavetura pun protes pada Gonzalez
"Hey, dia masih muda, kenapa kau berikan minuman keras?"
Yah padahal umur asliku 26 tahun. Aku dengan santun mengangkat bicara .
"Tidak apa, aku sudah biasa dengan yang seperti ini. Terimakasih, paman"
"Apa? " lanjut Bonaventura "kau terbiasa? hahahaha. dasar kau anak nakal juga ya, bocah harapan"
"Yang kuherankan orang muda seperti mu bisa menjadi man of the match. Kenapa tidak boy of the match ya? " ucap Cristiano Biraghi.
Spontan seluruh orang di ruang ganti tertawa dengan guyonan asli seorang kapten itu. Aku juga ketawa walaupun sempat tidak mengerti.
"Emang tidak boleh, ya? " sela Nzola agak kasar "aku malah lebih menyayangkan dia mabuk di usia muda ini"
"Jangan panggil dia bocah untuk hari ini" ucap Arthur "dia hari ini adalah pria. Ingat itu"
Kami pun duduk bersama di ruang ganti dan disana juga hadir sang manajer, Italiano. Kami minum, bersenda gurau, berbicara, curhat. Andai aku tahu dunia sepakbola seperti ini mungkin aku bakal melatih diriku menjadi seorang pemain sepakbola.
Aku suka kehidupan disini, Ibu. Namun aku merasa bersalah meninggalkan mu sendirian. Maafkan anakmu ini.