
(Sudah saatnya pertandingan akan dimulai. Ini adalah pertandingan antara Fiorentina melawan Ac Milan. Ayo kita saksikan siapa yang akan memenangkan pertandingan hari ini)
Kedua belah pihak pemain sudah masuk lapangan dan saling berjabat tangan. Aku dijabat hangat oleh Oliver Giround
"Baru kali ini aku melihat mu, kau siapa? "tanya Giround
"Asagiri, senang bertemu denganmu" jawabku
"Jepang ya? Kau masih muda kelihatan nya"
"Ti..... Iya, aku baru masuk 16 tahun"
"Kau tidak suka ibu Jepang?"
"Apa yang kau bicarakan? itu hanya film. "
"Baiklah, sportif ya"
"Tentu saja"
Setelah salaman, semua menyanyikan lagu kebangsaan Itali walaupun ada yang tidak lancar, tidak pernah berbahasa Italia asal dia seperti menyanyikan lagu kebangsaan nya.
Semua ke formasi yang ditentukan manager mereka . Italiano memasang formasi 4-3-2-1 dan aku dipasang sebagai gelandang serang. Sementara dari tim Milan memasang formasi 3-2-2-3.
Aku sudah siap untuk laga penting ini dan akan melancarkan serangan yang sulit dilupakan
Dari pemilihan koin, seperti nya yang bakal pertama kali mendapatkan kick off adalah Fiorentina.
Nzola mengumpan padaku kemudian kusambungkan pada Rolando Mandragora.
Kami tidak bisa ikut skema Italia yang berpusat pada pertahanannya saja. Maka dari itu tidak perlu pula berlama-lama aku maju ke sisi kiri pertahanan dan diam sejenak dijaga oleh beberapa pemain tengah
Dari aku maju, ternyata Mandragora memberi bola pada Cristiano Biraghi. Biraghi yang maju ke tengah lapangan kemudian memberiku bolanya.
Aku pun menerima bola itu dari sentuhan ujung sepatu dan one touch pass dengan tempurung kaki ku.
Bola mengarah kepada Arthur. Dengan skill yang lumayan seperti sirkus, dia melewati pertahanan lemah Ac Milan. Dia pun menembak dari dalam setengah lingkaran dan bola melesat kencang ke arah kiri.
Tapi bola sempurna dihadang Mike Magnan.Dia pun menggelincirkan bola ke rekan terdekat.
Bola itu diterima oleh Fikayo Tomori. Dia pun menggiring bola itu dan mengumpan pada Ruben Loftus-Cheek. Loftus -Cheek melihat pergerakan Giround yang semakin kedepan.
Melihat itu Loftus-Cheek mengumpan pada Giround. Giround menerima bola, namun diantisipasi bagus oleh Nikola Melankovic.
Aku yang sudah bersiap di perbatasan wilayah lawan bersiap dan hati-hati mengambil posisi. Nikola pun membawa dengan hati-hati
(Wah, bek Fiorentina nampaknya cukup berani untuk maju menyerang. Dapatkah dia bermain dengan baik?
Aku pun maju dan mencari posisi agar Nikola dapat melihatku. Ketika posisi sudah tepat, aku pun mengangkat tanganku.
Dia melihat namun tidak mengoper langsung padaku. Dia mengoper pada Giacomo Bonaventura yang sudah berada di tengah. Namun penguasaan nya tidak lama, Loftus-Cheek langsung menekel nya dengan bersih.
(Loftus-Cheek sudah tahu pergerakan lawan, apakah akan berakhir?)
"Hati-hati aku akan selalu mengawasi mu" ucap Loftus-Cheek
Aku pun mengejarnya kemudian menekannya dan merebut bola darinya. Namun, pergerakanku terbaca olehnya sehingga dia ada kesempatan untuk mengumpan pada Christian Pulisic. Pulisic mengambil jarak menengah kemudian menembakkan bolanya.
Namun secara defensif, ternyata dibelakang Terraciano sudah ada Cristiano Biraghi. Dia bahkan nekat untuk tendangan sepeda untuk menghalangi serangan.
(Penyelamatan hebat dari sang kapten. Dapatkah pertandingan ini ditemukan pemenang? Ayo kita saksikan)
Bola yang muntah didapatkan oleh Rolando Mandragora dan dia membawa bola dan mengumpan silang tepat di tempatku berada.
Aku menerima umpan itu dengan baik dan membawa bola itu ke jarak 30 meter dari gawang dan menembak dari sisi kanan ke arah 85°.Dan tendangan itupun membuka gol untuk Fiorentina. Gol itu tercipta di menit 30
(SENSASIONAL, ternyata tendangannya begitu tepat dan indah sekali. Ayo kita lihat lagi cuplikan golnya)
Pertandingan pun dilanjut. Giround mundur dan membawa bola ke pertahanan kemudian mengumpan nya pada Rade Krunic.
Krunic pun kemudian mengumpan pada Pulisic dan dia pun membawa bola itu dengan skillnya yang baik. Ketika sudah berada di dekat kotak penalti, dia mengumpan pada Rafael Leao.
Leao menendang di sisi kiri kotak penalti namun dapat ditepis Terraciano. Bola yang muntah pun ditendang voli oleh Oliver Giround.
Dan tendangan itu membuahkan gol untuk Ac Milan. Mereka berselebrasi ria dan para supporter mereka antusias untuk menyoraki kemenangan Ac Milan. Skor 1-1 Fiorentina dan Milan. Gol itu diciptakan di menit ke 38.
Untungnya kami tidak melawan Ac Milan era 2003-2007.Mungkin kami menjadi tim luar biasa terpelongo dengan serangan mereka.
Pertandingan kembali bergulir. Aku lari untuk penyerangan balasan. Bola yang kini dibawa oleh Bonaventura pun diumpan padaku. Terlihat kalau pertahanan mereka longgar.
Tahu begini, aku pun maju lebih dekat lagi dan sudah posisi 1 on 1 dengan kiper lawan. Namun, sepertinya aku salah paham. Aku dijerat pertahanan 5 on 1.Aku pun tidak punya kesempatan untuk mencetak gol.
Kunci mereka adalah Loftus-Cheek. Dia seperti nya sudah berencana untuk melonggarkan pertahanan kemudian memancing lawan menyerang akan tetapi mereka lebih siap menutup serangan.
Ternyata bijak juga ya, dia mempunyai vision yang hebat sekali. Tidak dapat diremehkan. Aku sudah salah menilai nya.
Aku pun mengayunkan kakiku untuk menembak. Bukan. Aku mengayunkan kakiku untuk mengumpan pada Nikolas Gonzales.
Loftus-Cheek pun terkejut pada pola serangan itu. Dia sangat terkagum dengan keputusan sederhana ku itu.
"Kau boleh juga, tapi jangan harap kau akan lolos mudah, anak muda" ucap Loftus-Cheek.
Aku pun bergerak menjauh dari mereka berlima. Namun, sepertinya yang menjaga ketat diriku adalah Fikayo Tomori.
Aku pun mulai mewaspadai pergerakan dari manapun. Aku tidak bakal tahu dari mana bakal ada tekanan untukku. Senantiasa waspada, aku tidak akan terkecoh olehnya lagi.
Pemain kunci mereka bukan inti dari tim mereka. Harusnya aku bisa jadikan yang seperti itu pelajaran.
Ternyata rencana mereka tidak bisa dinalar mudah. Aku tertipu lagi. Ternyata Di sisi Gonzales ada Giround yang fisiknya tidak kalah lemah juga.
"Hmm, boleh juga untuk pemain yang tidak terencana" ucap Giround
Aku sudah sepenuhnya lengah dari serangan mereka yang pola nya sederhana namun pertahanan mereka sangat kompleks.
Giround pun membawa bola dengan skill yang bagus ditambah umpan indah untuk Pulisic. Kemudian dia mengembalikan bola pada Giround. Kini Giround 1 on 1 dengan Terraciano. Dengan lesatan yang kencang, bola itu mengenai tiang gawang dan memantul.
Namun tatkala bola memantul, disitu sudah ada Rafael Leao dan dia menembak bola itu pelan dan dikonversikan menjadi gol
(Wah ini comeback . Ternyata Ac Milan menyembunyikan kekuatan pada tim yang lemah)
"Hah, kubunuh kau brengsek" ucap Arthur kesal entah kepada lawan ataupun pada komentator.
Gol pun menjadi 1-2 untuk keunggulan Ac Milan.Mereka kuat juga dalam menganalisis. Tidak masalah hanya mengalah sedikit demi pertandingan yang sensasional lainnya.
Aku mulai berpikir gimana agar gerakanku tidak dibaca oleh mantan pemain Chelsea itu. Aku berharap masih ada cara.
Pertandingan kembali berputar. Nzola pun mengumpan padaku dan membawa bola maju. Aku berhati-hati dengan membawa bola. Ketika ada pemain didepanku aku melakukan roulette. Namun tidak seperti yang diduga, roulette ku jelek dan mereka berhasil merebut bola dariku.
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH" teriakku kesal dengan keadaan itu. Bola yang dibawa oleh David Calabria itupun diumpan pada Rude Krunic.
Krunic pun melakukan umpan terobosan pada Loftus-Cheek. Akhirnya sang kunci kemenangan lawan.
Aku pun mengejar Loftus-Cheek dan dia tetap lari seakan tidak ada yang mengejar. Ketika Aku sudah bisa menekan kakinya, dia sudah di radius 19 m dari gawang, namun dia memilih umpan tumit dan dia jatuh ketika kakiku mengenai nya.
Wasit pun mengganjar diriku dengan penalti untuk mereka. Ternyata dia juga cerdik dalam merencanakan. Siapa sangka ada selain aku yang mengandalkan otak.
Eksekusi diambil oleh Christian Pulisic. Teraciano sudah mengambil ancang-ancang menangkap. Pulisic pun menendang ke sudut atas kiri. Walau sudah terbaca, namun tetap saja tidak tertangkap. Gol ketiga mereka pun dibentuk di menit ke 45.
(Sudah telak. Mereka dihajar 1-3 oleh Rossoneri. Hebat sekali inilah kesempatan kembali menjadi juara liga)
Aku pun mendatangi Terraciano dan berbicara tentang apa yang sudah terjadi.
"Maafkan aku, gara-gara aku jadi penalti" ucapku
"Sudahlah" ia mencengkram kuat bahuku "aku juga salah tidak mengantisipasi tendangannya"
(Nampaknya pertikaian satu tim terjadi antara A45 dan sang penjaga gawang)
A45 adalah julukanku tempo hari dan iya tidak semua komentator itu baik dalam memberi informasi.
"Tidak, aku yang..... "
"Sudahlah, fokus" potongnya dan meletak jari telunjuk dan jari tengah yang teracung di depan kedua matanya secara lurus. "
Pertandingan pun kemudian dilanjutkan walau diberi tambahan satu menit. Dan tidak ada gol yang terjadi sampai turun minum.
"Hey, Asagiri. Apa ada yang terjadi padamu? " tanya Biraghi.
"Tidak, aku juga tidak habis pikir mereka sehebat itu menyusun rencana" jawabku
"AYO SERIUS, KAU TIDAK INGIN MENGALAMI KALAH KEDUA KALINYA KAN? "
"Aku paham betul , tidak ada yang mau kalah. Ini salah ku tidak bisa mengarahkan kalian untuk menyerang dengan baik"
Namun mendadak Biraghi memasang tangan salip dari kepala ke tengah badannya. Ini normal di Italia yang kristenisasi nya kuat.
"Maafkan aku. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku yang harusnya disalahkan karena tidak berhasil membimbing kalian menuju kemenangan"
"Menjijikkan" ucapku dengan lantang
Semua agak tidak terkendali karena aku mengatakan hal itu, kecuali Biraghi. Biraghi pun mengangkat tangannya untuk yang lain berhenti.
"Ketika kau mengatakan gajah kecil, aku pun akan percaya walaupun tidak paham maksudmu. Tapi apa yang menjijikkan dariku? "
"Siapa bilang aku menghinamu? Aku hanya jijik dengan keadaan ini. Tidak ada pilihan lain. Kita akan menang"
Semua pun tepuk tangan dengan ucapan ku yang memotivasi mereka untuk senantiasa mengembangkan diri. Aku semakin percaya bahwa kejayaan didepan mata.
Saatnya otakku kembali diputar. Semua sudah tertipu dengan mereka. Mereka ada pahlawan dalam diam dan aku cukup menjatuhkan nya dengan rencana.
(Pertandingan di babak kedua segera dimulai. Apakah pertandingan ini bakal berjalan lebih menarik lagi? Mari kita saksikan)
Kini giliran kickoff untuk Ac Milan Giround mengoper pada Loftus-Cheek. Aku cukup memerhatikan gerak-geriknya untuk menyerang.
Dia pun mengumpan pada Giround dan Giround pun menendang dari jarak menengah.
Sayang, tendangan itu diantisipasi oleh Luca Ranieri dengan dadanya.
Dengan stopping dadanya itu, dia pun mengumpan pada Terraciano dan Terraciano pun langsung menendang sehingga bola melesat jauh. Bola pun mendarat pada Bonaventura namun dari belakang sudah ada Loftus-Cheek dan dia menendang keras pada Rafael Leao.
Bola sudah melesat jauh dan bersiap mendarat, namun Leao kalah tinggi dengan Nikola Melankovic.
"Selamat.Penyerang majulah selagi bisa. " ucap Melankovic.
Melankovic pun menendang jauh bola itu dan didapatkan oleh Arthur. Namun Arthur tidak mengambil nya melainkan mengontrol dengan tumit nya dan memberikan bola itu pada Nzola. Nzola terancam namun dia pun mengumpan bola langsung padaku.
Dari jarak 40 meter aku pun menembakkan bola. Apa yang akan kurencanakan? Tidak ada. Salah satu celahnya adalah tanpa rencana. Tentu bola itu tidak menjadi gol.
Aku hanya ingin membuat isi imajinasi dari Loftus-Cheek itu kacau dengan tendangan semu.
Bola itu memantul kepada Theo Hernandez.
"Aku tahu rencanamu, anak muda" ucap Arthur yang menjegal bola milik Theo Hernandez "kau tidak ada rencana kan? "
Tidak akan bisa seperti itu. Rencana harus ada atau semacamnya. Namun, kiper AC Milan itu agresif juga di kotak penalti. Bukan menjegal, namun reaksi nya pada bola. Dia pun lambung jauh bola itu dan mengenai Loftus-Cheek.
Loftus-Cheek membawa bola dan mengumpan pada Pulisic. Namun, aku pun datang dan mengontrol bola dari udara dengan tempurung kakiku.
Sudah satu jam bermain dan skor tidak bertambah. Aku pun mengayunkan kakiku ke arah depan, namun ternyata aku hanya mengumpan ke sampingku dimana ada kapten Christiano Biraghi disana.
Aku sudah tahu kelemahan Loftus-Cheek. Visual dia baik, namun semua tahu kalau dia akan melihat pergerakan nya.
Sudah mudah untuk dikalahkan. Tinggal improvisasi. Aku pun maju membantu serangan balik. Arthur membawa bola dengan skill yang cukup indah dilihat.
Dia sangat luwes memainkan permainan sepakbola ini. Aku tahu dia pantas dibayar mahal dari pinjaman klub saingan, Juventus.
Aku menunggu aksi yang dilakukan. Sedikit lagi dia mendapatkan gol. Dia boleh di jarak menengadah. Dia menembak, namun dijegal keras oleh Fikayo Tomori.
Dia pun diganjar kartu kuning dan kami pun mendapatkan tendangan bebas. Disitu sudah ada 4 pagar betis. Diantaranya Tomori, Theo Hernandez, Matrick Tiaw, dan Loftus-Cheek.Aku melihat semua sorot mata dari Loftus-Cheek agar tidak kecolongan olehnya.
Tapi tidak perlu menunggu lama karena dia berpikir dan tidak akan meloncat. Aku pun menendang bola dan gol pun kuciptakan di menit 66 itu. Skor pun menjadi 2-3 atas Ac Milan.
Tapi tidak semua orang bakalan senang dengan gol seperti itu. Fikayo Tomori dengan emosi menarik bajuku dan kepalan tinjunya hampir mengenai diriku.
Aku pun didengkul di bagian dada oleh Tomori. Dia sepertinya tidak menerima gol yang kubuat.
"Hey, kau sialan. Kau pasti akan kuhantam"
(Oh tidak, seperti nya, ada keributan disana. Wasit tetap tenang memberi keputusan)
Apa yang terjadi? Apa masalahku padanya? Aku bingung. Aku hampir tidak bernafas karena serangan dari Tomori. Dia pun mendapatkan kartu merah.
Mungkinkah dia juga dalam otak Loftus-Cheek? Soalnya yang sejauh ini bisa mengacaukan serangan taktis mereka adalah aku.
Aku dipanggil keluar oleh Vicenzo Italiano untuk diganti oleh Josip Brekalo.Dengan nafas agak sesak, aku pun berbisik padanya. Sudah peraturan sepakbola sepertinya yang hebat mencetak gol dari lawan harus dihajar sampai tidak bermain.
Dengan 10 orang, sepertinya permainan dari mereka menjadi cacat. Tapi bukan itu, aku juga merasakan kecacatan dari Fiorentina.
Pertandingan kembali digulir. Oliver Giround memberi bola pada Loftus-Cheek. Loftus-Cheek pun membawa bola tanpa merasa dibuntuti. Aku yang membuat nya dalam keadaan seperti 2 lawan 1 dari berbagai penjuru untuk mengancamnya.
Untung tidak ada Ibrahimovic lagi, kalau dia yang menghajar ku mungkin aku sudah mati. Aku cukup tenang beristirahat di bangku cadangan.
"Seperti nya kau nyaman" ucap manager itu
"Hah? pak Aku sudah bertaruh nyawa disana. Lihat badan kecilku dan usia mudaku. "
"Sudahlah, yang penting kau tidak cedera parah. Kau minum air saja biar tidak terlalu sesak"
Aku menuruti perkataan nya dengan minum air yang tersedia. Mungkin ini juga kenapa pikiran provokatif ku tidak jalan lagi. Aku kurang istirahat.
Dari bangku cadangan aku melihat sendiri kekuatan mereka semakin meningkat. Lihat Bonaventura bisa memutuskan umpan yang baik.
Bola kini sudah dalam kendali Nzola. Nzola pun membawa bola dan melewati pertahanan mereka. Sudah kuduga. Kelemahan kunci mereka adalah gerakan skill yang baik.
Nzola pun 1 on 1 dengan kiper dalam kotak penalti dan mengangkat bola tinggi dengan rainbow flick. Gol seketika pun tercipta dari skill hebat itu.
Seluruh Fiorentina selebrasi ria karena mereka sudah mencetak gol yang sangat indah. Aku tidak bisa loncat, andai bisa, aku loncat sangat tinggi. Skor 3-3 diraih oleh Fiorentina. Gol tercipta di menit ke 78
(Gol yang indah sekali pemirsa, ini gol penyeimbang dari Nzola)
Loftus-Cheek sudah tidak tahan dengan kecacatan tim mereka. Maka dari itu pergantian dilakukan dari Milan. Davide Calabria diganti oleh Pierre Kalulu. Begitu juga dengan Fiorentina, mereka mengganti Cristiano Biraghi dengan Dodo.
Kickoff kembali bergulir. Giround mengumpan pada Pulisic. Pulisic kembali dengan energi penuh menyerang dan mengumpan kebelakang pada Loftus-Cheek.
Loftus-Cheek pun mencari celah yang bagus untuk menyerang dan bisa kembali unggul. Loftus Cheek pun dengan skill yang lumayan melewati beberapa pemain Fiorentina, namun tidak lama kemudian datang Dodo mengintersepsi Loftus-Cheek.
Dodo ternyata kemampuannya adalah tidak terjangkau karena selalu dibelakang lawan. Tanpa basa-basi, Dodo menendang jauh bola dan bola pun mendarat ke kaki Brekalo.
"Hmm, lima defender dadakan? tidak buruk. Akan kuperbaiki. " ucap Brekalo
Seiring dia melewati pemain ia hitung pemain yang sudah ia lewati.
"Satu..... dua.... tiga....... empat...... dan lima...... "
Ketika tinggal di busur kotak penalti, dia pun menendang dengan tendangan sombrero.
Dan gol keempat pun lahir untuk Fiorentina di menit ke 81.
(Tidak disangka sempat tertinggal namun bisa berbalik keadaan pemirsa sekalian. Sangat hebat sekali tuan rumah)
Permainan kembali berlanjut. Mereka pun menekankan serangan dengan maju secara keseluruhan di bagian penyerangan. Namun sayang itu bakal tidak efektif.
Arthur pun merebut bola yang kini dipegang oleh Pulisic. Arthur pun membawa bola dan menendangnya dengan keras.
Bola pun mendarat ke Nzola. Nzola pun dengan pertahanan longgar itu langsung menerobos seluruh pertahanan.
(Oh tidak, saatnya pertahanan ditingkatkan agar tidak terjadi gol lagi.)
Di belakang Nzola sudah ada Loftus-Cheek yang menekel dengan bersih. Namun bola terlalu dibuang jauh dan diambil dengan "sentuhan ajaib" dari Brekalo.
"Kapan lagi ada pemain seperti ku? Pandai skill dan mengontrol bola"
Dari sentuhan lembut dia langsung melesatkannya secara voli.
(GOLLLLLLLL!! Baik sekali pembalasan dari Fiorentina dan skor kembali hanya dengan pergantian yang tidak merugikan.)
Gol itu tercipta di menit ke 89.9.Sudah menit ke 90 dan diberi waktu tambahan 4 menit. Namun setelah itu pertandingan tidak berubah hingga tiupan peluit panjang.
(Dan pertandingan selesai. Skor 5-3 cukup mengesankan untuk tuan rumah. Baiklah man of the match adalah Josip Brekalo)