
Aku tidak peduli apapun yang terjadi dengan sekitar ku walaupun sudah kubilang ini kekalahan terbaikku. Jangan heran aku diam ketika habis gagal, justru heran ketika aku bisa riang setelah gagal
Seperti dulu, aku gagal di semua ujian tes. Aku masih SMP kelas 8 caturwulan kedua saat itu. Bisa-bisanya nilaiku buruk dalam pelajaran secara keseluruhan.
Saat itu, ayahku masih hidup dan dia sangat galak tapi sangat pemaaf pula.Tatkala dia tahu hasil ujianku, aku dipanggil olehnya di ruang kerjanya. Dia langsung menunjuk tembok dan aku memahami isyarat itu.
"Kau tidak muak dengan kegagalan mu? " tanya nya sedikit mendesus
"Maafkan aku ayah, aku... " belum selesai bicara, ayah sudah memotong
"Ini semua karena konsol gim mu itu" dia mulai agak geram
Aku hanya menatap dinding untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu kenapa harus konsol ku yang dikambing hitamkan? Padahal kan yang malas aku, bukan harus disalahkan yang tidak bersangkutan.Aku begitu depresi bukan dengan hukuman tapi dengan ayah yang sudah cukup bersabar.
Sudah setengah jam aku menatap dinding itu. Aku sudah lihat kesalahan ku yang sangat pemalas dan lalai. Ayah pun menepuk lembut pundakku.
"Sudahlah, kau sudah melihat kesalahan mu, kan? "
Aku hanya diam terpaku tanpa bicara sepatah kata pun. Ini intinya, ketika aku gagal, bahkan sekelas mendiang ayahku pun tidak akan kuajak ataupun kulayani untuk berbicara.
Aku tidak bicara, hanya diam. Bahkan di hari-hari itu aku masih begitu takut memegang gim konsol ku. Padahal, konsol itu jujur lebih baik daripada menumpahkan seluruh curahan hati pada seseorang.
Aku tidak pernah bicara pada siapapun saat itu. Aku ke sekolah sendirian, pulang sendirian, bahkan ketika sudah episode nya mereka untuk simpati malah kuhiraukan mereka.
Ini tidak baik, bahkan saat itu aku tahu. Aku hanya bisa mendiamkan masalah ku tanpa menceritakan pada orang.
Namun, suatu hari ketika itu aku keluar dari kelas ingin pulang. Namun guru matematika melewati lorong bersamaan denganku. Dia cantik sekali dengan rambut ponytail, masih bermuka 17 di umur kepala tiga, mempunyai payudara besar dan tidak muat dikancing bagian dadanya.
"Hey, kau tidak apa-apa, Asagiri kun? " tanyanya dengan suara yang anggun
Aku tidak memberikannya jawaban walaupun dulu pernah terhipnotis dengan kecantikan nya. Aku merasa sebagai orang yang bodoh matematika tidak layak mengagumi kecantikan nya yang merupakan berlian terpendam itu.
Dengan buku yang memenuhi tangannya, dia malah menunduk dan benar-benar mendekatkan wajahnya padaku
"Kau tidak apa-apa kan? "
Aku hanya bereaksi dengan mengangguk dan meninggalkan dia disana.
Dia malah memegang pundakku sehingga langkahku terhenti oleh sentuhannya. Dia ternyata kuat juga mencengkram seseorang, tidak kusangka.
"Kau tidak akan bicara pada gurumu? "
"Apa yang ibu lakukan? Aku ingin bergegas pulang" hardikku padanya
"Sampai kau berbicara. Asagiri, kau luar biasa sekali. Orang memandang rendah dirimu karena kau peringkat terakhir namun kau dengan mudah menjatuhkan orang dalam diammu"
Aku merasa itu terlalu dilebih-lebihkan dan terlalu tidak sesuai dengan yang ada. Itu sastra yang indah, namun bukan fakta yang konkrit.
"Apa maksudmu. A....... apa yang sudah kuperbuat? "
"Kau misterius sekali. Aku sebenarnya agak takut dengan aura mu itu. "
"Jangan bicara lagi. Kumohon. Aku ingin pulang, sensei. "
"Bisakah kau sejenak melayaniku?"
"Eh ibu, aku tidak mau berbuat tidak-tidak. Aku masih terlalu muda untuk ini"
Dia mengabil sebuah buku matematika dan memukulkannya ke kepalaku
"hah, itu murid mesumku"
"Maaf, aku terlalu lan.... "
"Tidak, dengan melihat mu berpikir cabul seperti ini, kau sudah banyak memikirkan hal yang diluar nalar teman-temanmu"
Aku terkejut dia seperti itu. Diluar dugaan dia malah bilang aku tertarik dengan nya. Aku mungkin ada gairah, namun cinta ku hanyalah tertuju pada PS saja, tidak untuk yang lain.
"Kau mau kuajarkan matematika? "
"apa? "
"Kau ingin mengajar ku? "
"Habis kau sangat hancur dalam pandangan ku"
"kau akan mengajar kan matematika padaku? "
"ya, dan kau akan kulatih lebih keras dari yang lain"
Semenjak aku rutin privat, aku selalu dapat prestasi bahkan hingga SMK aku selalu dapat nilai memuaskan.
Prestasi pertama ku adalah aku peringkat satu di caturwulan terakhir. Aku akhirnya menikmati eksak dan ternyata orang maniak game seperti ku pun membutuhkan nya.
Jadi bisa dibilang agar aku kembali bicara, Aku hanya perlu memberikan prestasi.Dan aku belum tahu, pertandingan sebelum nya siapa man of the match?
(Dan man of the match adalah Asagiri 45.)
Aku tidak bisa mendengar jelas perkataan si komentator karena Aku sudah berlarut dalam kesedihan.
"Hey, kau man of the match lagi" ucap Arthur.
Aku tidak bisa menanggapi nya saat ini. Aku masih dilahap oleh kekecewaan berat yang telah kualami.
Dan pak Italiano mendatangi ku dan menepuk bahuku sebagai anak asuhnya
"Selamat, kau berhasil lagi menjadi man of the match"
Kali ini aku mendengar nya. Aku tidak salah dengar kan? Aku jadi man of the match. Sayang aku lagi tidak enak bicara.
"Baiklah, aku mau masuk" ucapku dingin terhadap mereka
Aku jadi man of the match lagi? oh ini sangat menyenangkan. Padahal sama-sama hattrick dibandingkan Dybala. Tapi kenapa kali ini harus aku?
Aku di ruang ganti berteriak kencang walaupun tahu Luca Ranieri dan Josip Brekalo sedang berada disana
Namun aku sedang melihat ini tidak baik. Mereka silat lidah seperti nya. Kesan mereka berdua seperti mau berantam tapi masih adu mulut
"Apa yang kau lakukan, kok bisa itu menjadi gol. Padahal bisa imbang setidaknya kita tadi tahu" jelas Brekalo
"Persetanan, kau tahu apa tentang posisiku di belakang? Aku hanya ingin menyelamatkan... " ucapan Ranieri pun terpotong
"Kau tidak perlu seceroboh itu dalam bermain bola kan"
"Aku ingin melindunginya itu saja dan kau malah merendahkan diriku. Kau tidak perlu di posisi ku tapi paham, Aku juga manusia yang punya batas"
Laga mulut itu berlangsung sangat panas sehingga Aku tidak bisa sama sekali menghentikan mereka yang sedang berantam.
Ranieri dan Brekalo saling memasang tinju dan mulai menggeber loker dari besi yang ada.
Namun, untung nya yang lain cepat menuju ruang ganti sehingga mereka dapat meleraikan mereka.
Ranieri dipegang oleh Nikola Milenkovic sementara Brekalo dilerai oleh Biraghi.
"Sudahlah tidak perlu dilawan. Kau hanya menambah kericuhan saja" ucap Arthur yang melihat pertarungan mereka
"Kau anggap dia bodoh kan? " tanya Biraghi
"Sangat bodoh" jawab Brekalo
"Sudah tahu bodoh kenapa kau ajak debat? "
"Sial kau menjebak ku" kemarahannya sudah menurun dari sebelum nya dan mulai menghela nafas.
"Sudahlah, baru kalah sekali karena kurang beruntung tidak terlalu masalah" ucap pak Italiano
"Iya" ucap Brekalo "aku minta maaf"
"Iya, aku juga salah, mohon maaf" ucap Ranieri
"Lagian, si bocah man of the match lagi. jadi selagi ada pemain kunci seperti nya sangat mungkin kita naik ke puncak. " ucap Nzola