
"Ayolah, jaga baik-baik pertahanan" ujar Terraciano
"Jangan terlalu tertekan. Hanya kebobolan satu. " kata Biraghi
Namun untungnya ketika teman Vlahovic yang lain ingin selebrasi, Vlahovic menolak karena dia di markas dan membobol tim lamanya.
Sepertinya aku mulai mengerti profesionalitas dalam permainan sepak bola ini. Dimana kau bermain, bermain lah dengan baik.
Bola pun dibawa kembali oleh aku. Aku membawa bola namun baru saja maju aku dihalau dari tengah oleh pemain Juventus.
Kuakui mereka adalah klub yang sangat menghargai tradisi pertahanan di liga Italia. Tidak heran mereka menjadi juara liga. Namun, di liga ini aku ingin menunjukkan kebebasan sepakbola itu sendiri.
Walaupun sudah dijaga ketat oleh pemain tengah mereka yang berkerumun mengunciku, aku tetap memakai dribble sederhana melewati salah satu dari mereka walau tidak dapat memprediksi serangan selanjutnya.
Dari jarak menengah aku menembak, namun Wojciech Szczesny dapat mengantisipasi serangan ku barusan.
(Penyelamatan yang bagus. Nampak nya bukan tugas yang mudah bagi tuan rumah kali ini.)
Dia melemparkan dekat ke tengah dan didapatkan oleh Danilo. Danilo juga mempunyai dribble dan skill yang levelnya berada diatas Arthur.
Dia melewati pemain dari yang terdepan hingga menusuk lini pertahanan milik Fiorentina. Dia pun membawa bola hingga ke titik putih.
Tidak perlu waktu lama untuk Danilo untuk menambah keunggulan dari Juventus. Dia pun menembakkan bola dan bola pun memasuki gawang Fiorentina.
(Sensasional.Nampaknya pemain tuan rumah tidak diberi pilihan banyak oleh penyerangan Juventus)
Serangan mereka itu membuat kami semakin kesal dan seperti tidak ada secercah pun harapan untuk mengembalikan keadaan.
Bola pun kembali dibawa olehku dan kubawa dribble ke pertahanan Juventus. Aku membawa bola, namun dihalau oleh ketatnya penguncian mereka.
Rabiot datang dan mensliding ku dengan bersih. Aku tertegun dengan sliding bersih dari Rabiot itu.
Aku bakal direpotkan dengan pertahanan Juventus yang kuat. Kini bola dibawa oleh Manuel Locatteli. Locatteli pun membwa bola sehingga yang lain ikutan menyerang.
Locatteli pun memberikan umpan crossing pada Chiesa dan siap diheading olehnya. Dia pun mendekatkan jidatnya ke bola yang melambung di udara, namun diselesaikan dengan duet udara dengan Nikola Milenkovic.
"Hanya karena gol dua kali akan kubiarkan lagi? Kau kira siapa yang kau lawan" ucap Nikola tanpa ragu. Dia pun memberi umpan crossing sebagai kesempatan serang balik bagi tim-nya.
Namun bola sedikit melenceng karena angin memang sedang kencang-kencangnya. Hasilnya pun menjadi throw in untuk Juventus.
Bola pun diambil oleh Rabiot. Rabiot melemparkan bola menuju arah Federico Gatti. Gatti kemudian membawa bola sebentar dan mengumpan kepada Weston McKennie.
McKenny pun menerima bola yang diumpankan dari Gatti kemudian membawa bola itu dan mengumpan pada Rabiot.
Sudah terlihat pemain kunci mereka adalah Rabiot yang pada dasarnya memang sangat defensif ketika diserang.
Ini memanglah sebuah kesenangan bisa mendapatkan lawan yang posisi nya sama denganku.
Aku mulai membaca pergerakan mereka yang selanjutnya. Mencari celah mereka ternyata lebih sulit daripada yang kukira.
Sudah saatnya aku lebih serius melawan para pemain Juventus yang sangat defensif dan sistematis. Rencana sederhana tidak cukup melumpuhkan mereka.
Rabiot masih membawa bola dan mulai maju ke pertahanan kami untuk menyerang dari sana. Mereka begitu banyak peluang didepan mata mereka sehingga bukan hal mustahil kami bisa kalah melawan mereka.
Aku tidak akan berlama-lama di zona nyaman berpikir terus menerus. Saatnya aku melancarkan tackle sederhana.
Aku pun lari membuntuti Rabiot, namun dia menendang kedepan sehingga bola didapatkan Chiesa. Aku tidak menyangka ini dapat terjadi begitu saja.
Dari jarak menengah, Chiesa menendang bola tepat di posisi Terraciano berdiri. Dia melepaskan tendangan dan bola siap merobek gawang Fiorentina.
Namun bagaikan teleportasi, aku tiba didepan gawang Fiorentina dan menggagalkan serangan Chiesa itu.
Aku mengumpan pelan pada Terraciano dan Terraciano siap memberi umpan panjang untuk Fiorentina.
(Satu lagi penyelamatan heroik dari para pemain Fiorentina. Seperti nya, Juventus akan sulit menambah keunggulan)
Bola kini diterima oleh Bonaventura. Dia pun mulai menggiring bola yang dimana saat itu dia berada di tengah lapangan.
Kini dia membawa bola ke pertahanan Juventus ditemani gelandang dan beberapa bek yang ikutan maju.
Dia sudah dikunci oleh beberapa pemain Juventus sehingga pergerakan nya sangat terbatas. Mereka sangat baik dalam 5 vs 1.
Dia sudah tahu yang dia lawan adalah pemain bertahan yang mematikan dengan tackle yang tidak kalah bahaya.
Di sisi lain aku sudah lari kesana dengan menatap mata Bonaventura. Aku memberi isyarat untuk memberi bola.
Aku bebas dari penjagaan mereka karena aku tepat di titik buta mereka.
Bonaventura tanpa banyak berpikir mengumpan bola itu kepadaku. Aku menendang bola ketika masih sedikit lagi menyentuh tanah. Bola sudah siap merobek gawang mereka, namun Danilo berdiri disana dan menstop bola dengan tempurung kakinya.
(Menakjubkan sekali. Seperti nya bukan hal yang mudah merobek gawang milik Juventus)
Aku tidak percaya dan hampir patah semangat karena pertahanan mereka itu. Seperti tidak ada harapan untuk menang keselanjutnya.
"Hah, coba lagi untuk menyerang. Selamat berjuang, anak muda" ucap Danilo yang sangat percaya diri.
Aku tidak menghiraukan sama sekali perkataan dari Danilo itu karena permainan belum pun berakhir.
Bola yang diintersepsi oleh Danilo itu jatuh ke kaki Rabiot. Rabiot kini melihat keseluruhan pergerakan teman dan lawannya.
Aku pun mulai memperkirakan serangan berikut nya untuk melihat celah para pemain lawan tanpa diketahui lawan itu.
Nampak nya aku memang harus lebih serius melawan mereka. Mereka seperti tidak bisa dilawan dengan rencana apapun.
Namun aku mengingat sebuah kilas balik yang lumayan membangkitkan diriku
...****************...
Saat itu, aku masih kelas 8 dan baru diberi pencerahan tentang pentingnya aku bisa pandai 3 ilmu besar IPA seperti fisika, kimia, dan biologi.
Sudah ada satu minggu aku belajar giat di privat bu guru Naomi, guru matematika ku namun tidak merasakan perubahan apapun.
"Ada apa, anakku tercinta. seperti nya kau sangat resahkan" ucap bu guru Naomi
"Ntah kenapa, aku tidak merasakan efek apapun setelah belajar matematika" sanggah ku padanya.
Dia pun memegang lembut kepalaku kemudian dia memeluk dan menempelkan wajahku ke dadanya. Kalian tidak salah baca, dadanya.
"Kau harus sabar. Tidak ada yang perlu terlalu cepat. Semakin kau sabar, kau akan semakin ingin menggapainya"
Jujur aku bingung dia memakai pakaiannya yang kasual dan tidak berlengan untuk mengajarkanku privat. Kadang aku seperti ketel uap karena salah tingkah dengan ibu guru Naomi.
...****************...
Kini aku kembali sadar apa yang harus kulakukan. Bersabar. Tidak perlu merasakan susah. Hanya perlu sedikit sabar karena sabar dapat menolong setiap pekerjaan.
Kini Rabiot dalam posisi menyerang. Aku tidak perlu menyentuh nya kali ini. Karena dia tidak akan sadar aku seperti menara pengawas dibelakang dirinya bersiap akan menghentikan dirinya mengumpan.
Rabiot memberi umpan panjang pada Chiesa. Bola terus menerus mengalir di udara. Namun ketika kiriman bola dari Rabiot itu tinggal diambil aku memotong terlebih dahulu jalur umpannya dengan meloncat ke udara dan menghentikan bola dengan tempurung kakiku.
Peluit berbunyi. Saatnya kami kembali untuk turun minum. Semua pemain ke ruang ganti tim mereka masing-masing.