
Di hari berikut nya, seperti biasa kami latihan dan bahkan kali ini kami latihan lebih serius. Kami dengan semangat push up untuk latihan stamina.
Setelah push up, berganti dengan latihan sit up. Setelah itu diganti dengan latihan lari.
Tertebak siapa yang larinya bakal tercepat, tentu saja Gonzales namun dia lumayan gampang lelah.
Setelah itu diganti dengan latihan tendangan bebas. Dan yang paling tidak bermasalah adalah aku. Itu berkat akurasi ku bola dapat masuk gawang kapanpun aku menendang.
Kemudian latihan menggiring, yang paling bermasalah tentu bisa ditebak. Ya, aku paling bermasalah dalam dribble tapi bukan berarti aku tidak buruk juga, hanya terburuk diantara starter line up.
Terraciano juga hebat menangkap bola yang akan ditendang ke gawang nya.
"Menurut kalian, latihan ini cukup atau tidak? " tanya ku pada yang lainnya
"Tidak, kita harus latihan lebih giat lagi karena lawan kita adalah Juventus" kata Biraghi
"Mungkin bukan masalah ku" sembrono Brekalo"yang bakal menjadikan ini tantangan adalah Arthur. Dia kan pinjaman dari sana"
"Aku mengerti. Ini pertandingan rival yang menentukan harga diri kita ya? " lanjutku
"Rival? hahahaha" hanya cengiran terdengar dari nada Arthur seakan dia tahu kejadian selanjutnya "Siapa kita? yang pantas memanggil mereka rival. Yang pantas bilang begitu adalah Napoli. Tapi tenanglah, Asagiri akan menyulap itu semua"
Dia berkata sambil menjuggle bola dan mengontrol nya. Dia seperti biasa, tidak terlalu ekspresif sama sepertiku.
Aku kembali menendang jarak ke gawang sebagai latihan dan ditepis baik oleh Terraciano.
"Sedikit meningkat. Ayo tingkatkan lagi pasti bisa" ungkap ku secara datar
"Wah aku tidak tahu kau memuji ku atau sedang apa. Tapi saranku jangan terlalu terikut dengan dia" ucap Terraciano
Aku tahu maksud dari kata dia sendiri adalah Arthur. Aku hanya kurang nyaman dengan suasana ini karena tempat ini tetaplah asing.
Tapi di sisi lain dalam diriku, sebenarnya aku senang punya teman seperti mereka. Mereka sangat lah baik bagiku. Bersama merayakan kemenangan dan bersama meratapi kekalahan.
"Bocah mafia" panggil Brekalo "mau melihat kontrol bola yang baik? "
Apakah ini karena aku pernah memprovokasi dirinya atau memang aku yang paling jahat dalam lapangan. Yang pasti aku sudah menerima baik julukan itu.
"Haruskah aku melakukan nya? Padahal aku sudah berkali-kali menyentuh bola di tumit, di kura-kura kaki dan di ujung kaki"
Aku tidak tahu pasti dia mengajar atau hanya pamer skill. Jadinya aku berkata begitu padanya
"Hahahahahaha"
Hanya tertawa meledak yang menjawab statemen ku barusan. Aku jadi semakin bingung apa yang dia inginkan.
"Kau masih menganggap itu kontrol? Kau hanya melepasnya. Kontrol itu bahkan kau bisa lepas dari jeratan musuh" lanjut Brekalo
"Kau tahu kan skill aku lemah. Aku semakin tidak percaya diri semenjak semalam" jawabku lemas
"Tidak, tidak. Aku tahu itu bahkan lebih cepat dari Arthur. Aku hanya ingin mengajarkan dribble yang baik padamu"
Seperti nya dia tahu aku juga perlu dribble karena gol jarak belum tentu berhasil dan aku harus bisa membawa bola dan bisa bermain individual sekali-kali.
Dia pun mengajarkan semua teknik yang dia punya hanya untuk mendribble bola dan cara dribble lebih efektif dengan kontrol yang baik pula.
Tidak sesulit skill yang diajarkan Arthur semalam, ini jauh lebih muda dari yang kukira. Aku semakin semangat untuk mengahadapi Juventus.
Ketika pemain sudah pulang, aku pun datangi Arthur untuk berbincang dengannya tentang pertandingan Juventus.
"Arthur" sahutku "bagaimana rasanya ketika sudah bermain tim seperti mereka? "
"Aku akan jadi impostor" jawabnya singkat
Aku jadi semakin bingung dengan jawabannya yang aneh itu. Itu berarti dia ingin menghacurkan kami dari dalam
"Hahahahahaha"
Arthur tertawa tanpa aku ketahui alasannya. Aku berharap dia baik-baik saja.
Aku mengerti akhirnya. Seharusnya aku mengerti masalah seperti ini dan akan jadi berat kalau aku tidak tahu ini.
"Akan kubuktikan pada tim ini tidak ada yang perlu ditakutkan selagi ada aku yang menjaga tim ini."
"Tidak masalah terikut perkataan
orang lain tetapi ingatlah kau diciptakan untuk dirimu sendiri"
"Baiklah, terimakasih mau bercerita dan menasihati ku"
Semua pun pulang selepas latihan melelahkan itu. Dan seperti biasa, aku yang terakhir selesai latihan untuk menembak di segala arah.
Tidak terasa sudah tiba hari dimana melawan Juventus. Terlebih lagi mereka bermain di kandang kami, jadi jangan sampai dipermalukan.
Semua pemain pun masuk ditemani pembawa bendera yang dan beberapa anak yang ada didepan.
Semua pun menyanyikan lagu kebangsaan Italia. Setelah itu pula kami saling berjabat tangan dan masuk ke formasi kami.
Kami sebagai tim tuan rumah memasang formasi 5-4-1.Pemain kami diantaranya:
GK:Pietro Terraciano
Defender:Cristiano Biraghi(LB), Luca Ranieri(CB), Nikola Milenkovic(CB), Lucas Martines (CB),Michael Kayode(RB)
Midfielder:Asagiri(LM), G. Bonanvetura(CM), Arthur(CM), Jose Callejon(RM)
Striker:Lucas Beltran
Dari posisinya sepertinya banyak sekali pemain baru tapi mereka adalah seniorku yang baru baru ini dijadikan startup.
Dan ini formasi Juventus adalah 3-5-2 yang terdiri dari :
Goalkeeper:Wojciech Szczesny
Defender:Danilo(CB), Bremer(CB), Federico Gatti(CB)
Midfielder:Adrien Rabiot(CM), Fabio Miretti(CM), Filip Kostic(DM), Manuel Locatteli(DM), Weston McKennie(DM)
Striker:Federico Chiesa(CF), Dusan Vlahovic(CF)
Kami pun ke posisi masing-masing. Detik-detik sebelum pertandingan dimulai, Bonanvetura menutup mulutnya sedikit dan mengarahkan wajahnya padaku.
"Kau tahu striker yang itu? " ujinya melirik tajam orang yang dituju.
"Emang dia siapa? " tanyaku balik
"Dia adalah Dusan Vlahovic. Dia besar di tim kami dan dibeli oleh Juventus. Kadang merasa dikhianati. Tapi itulah profesionalisme"
Kick-off dimulai oleh Juventus. Vlahovic mulai pelan mengumpan kebelakang kemudian umpan saling sambung menyambung.
Aku dan beberapa pemain lain maju dan bersiap menyerang mereka. Aku pun menargetkan Filip Costic . Namun Filip Costic lumayan tajam melihat celahku sehingga dia melewatiku.
Namun dibelakang ku seperti ada malaikat penjaga yang senantiasa menjaga ku, Arthur. Dia lah yang merebut bola itu. Ketika dia mendapatkan bola, dia tidak peduli hiruk pikuk pertahanan pemain Juventus di tengah.
Dia melewati lawannya satu persatu dengan gaya yang elegan layaknya pemain Brazil. Dia pun menembakkan bola pada jarak menengah.
(Dan...... Oh Penyelamatan bagus, kukira bakal masuk)
Kiper mereka lumayan menyulitkan. Dia sudah ada di berbagai klub top eropa dan tidak heran dia sehebat ini.
Dia pun lambungkan bola jauh ke jantung pertahanan. Pemain Juventus juga bersiap melakukan serangan balik pada tim kami. Ketika bola hampir jatuh, Jose Callejeon dan Dusan Vlahovic laga sundul.
Sundulan didapatkan oleh Vlahovic dan dibuang kepada Chiesa. Chiesa pun lari membawa bola. Ternyata skill Chiesa lumayan untuk melewati pertahanan kami ke titik putih.
Dia pun menendang bola dalam kotak penalti, namun untung nya sempat ditepis oleh Terraciano. Dia malah tidak sadar di sisi lain ada Vlahovic yang menyundul langsung kedepan.
(Golllllll..... Golllllll...... Menakjubkan sekali. Gol yang bagus sekali . Bisakah pemain Fiorentina membalas gol mereka?)