
Setelah aku selesai latihan, aku pun latihan mandiri karena aku ingin melatih lebih jauh untuk exp yang meningkat pula. Aku ingin ketika menendang tidak seperti di Golden Lions lagi. Aku begitu lemah ketika masih di Golden Lions. Maka dari itu akan kubuktikan di pertandingan besok kalau aku layak untuk dibandrol oleh mereka.
Aku menendang setiap sisi di setiap saat agar aku banyak peluang mencetak gol. Aku tidak peduli apa yang terjadi nantinya.
Ini rupanya sepakbola, tidak seburuk yang aku kira. Kalau aku dari dulu main bola seperti ini mungkin aku sudah diincar oleh para gadis di sekolah ku. Dan kini aku tidak peduli lagi untuk gadis. Yang perlu kulakukan sekarang adalah fokus pada pertandingan besok.
Aku seharusnya bisa sebaik , tidak lebih baik dari sekedar bermain. Sungguh seru, RPG pun akan menangis setelah tahu masuk eFootball jauh lebih menyenangkan daripada mereka. Aksiku jauh lebih apik dan lebih banyak yang kuperjuangkan. Ya, aku tahu itu. Aku akan bermain untuk lebih lama.
Tapi sesaat latihan mandiri ku, aku merasa tidak menantang. Aku menendang bola di setiap sisi tanpa sesosok kiper. Tapi aku tidak ingin apapun mengganggu latihanku. Baiklah, aku bersiap untuk besok
...****************...
Sepertinya, akan menyenangkan. Kini aku duduk diatas kasurku dan mulai memikirkan apa yang akan terjadi besok. Mengingat lawanku adalah Torino. Ya, mereka klub yang membosankan. Boleh kah aku berkata seperti ini? Aku kan baru main sekali dan kalah. Aku takut kalau terlalu percaya diri malah mendapatkan kekalahan.
Aku langsung memegang pipiku dengan muka resah memikirkan itu semua. Mengingat kata pepatah, bola itu berputar jadinya malah yakin mereka bisa.
Aku ingin sekali bermain besok. Aku akan bersiap untuk besok. Tapi sebenarnya cidera kemarin masih berada sampai sekarang tapi begitu cepatnya aku layak main. Kalau di eFootball, aku bisa melewati langsung di matchday, namun harus malah menunggu. Malah cedera itu juga sakit. Aku akan bermain lebih baik. Berbeda di dunia nyata, aku memiliki akurasi di universe ini.
...****************...
Matchday pun tiba, semua pemain bersiap pergi ke lapangan dan berjabat tangan dengan pemain lawan. Namun ini terlalu memuakkan. Aku dicadangin. Aku begitu semangat, tapi dengan mudahnya manager menyuruh ku di bangku cadangan.
Tunggu dulu, kalau diingat-ingat kan awal-awalnya memang cadangan karena mengutamakan skuad utama. Aku berharap mereka tidak mengecewakan ku.
Inilah susunan formasi yang diberikan manager:
Yang bakalan menjadi kapten adalah Parisi Biraghi. Dia akan mengatur walau posisinya adalah bek. Dan aku percaya Arthur sebagai pinjaman bisa diandalkan. Dengan formasi ini, aku optimis bakalan menang.
Yang menjadi tuan rumah di pertandingan ini adalah kami, Afc Fiorentina. Dengan baju ungu kebanggaan kami, akan kami gencar stadion kami ini.
Kickoff sudah dimulai, Nzola mulai memberi bola pada Arthur dan pemain serang dibantu Arthur yang membawa bola kedepan. Arthur pun mengatur permainan demikian baik. Sebagaimana selayaknya klub Italia yang selalu mengandalkan pertahanan, mereka bermain pelan dan tidak akan menyerang langsung seperti liga Jerman ataupun liga Inggris ,dengan catatan tidak semua.
Arthur mulai mengumpan pada Bonavetura dan belum ada opsi sama sekali untuk menyerang. Dia masih melihat celah atau kesempatan yang bagus. Harusnya dari skuad yang hanya mempunyai 3 bek itu tidak masalah baginya. Dengan gigih, dia menembak, namun penjaga gawang mereka dapat menahan serangan itu. Penjaga gawang pun melemparkan pendek pada gelandang tengah mereka.
Ayolah sedikit lebih serius, aku yakin kalian bisa, aku tahu betul kalian tidak selemah ini. Pertandingan kembali bergulir, kini yang memimpin untuk membawa bola adalah Dominguez. Dia mengontrol bola dengan baik. Mengetahui pertahanan mereka ditekan, para pemain Torino pun menekan kembali serangan Dominguez dengan sebuah tekel bersih dari gelandang tengah Torino. Namun, bukan mendapat bola malah menjadi bola liar. Waktu sudah menunjukkan 37 menit dan kami belum bisa membalas gol 5 menit yang lalu. Memang pertahanan selalu yang terbaik bagi Italia sehingga untuk menang pasti hasilnya tipis.
Karena tidak ingin berlama-lama, Arthur menendang bola liar itu dengan keras mumpung bola itu hidup. Namun bola malah melenceng jauh.
Tendangan goalkeeper pun dibuat. Sang kiper mulai menendang bola dengan jauh. Bola itu mendarat ke salah satu striker Torino, namun malah dicuri oleh Arthur. Dia pun memimpin untuk membawa bola dan pemain lain ikut maju mencari celah sempurna.
Arthur yang kini berada di pertahanan milik Torino malah mengumpan pada Nzola yang berada di jarak menengah dari gawang Torino. Tanpa basa-basi Nzola menembakkan bola ke gawang Torino. Namun tembakan itu tidak membuahkan gol dan mengenai tiang. Tanpa disadari, kapten kami Parisi berada diantara pemain bertahan Torino. Tanpa membuang kesempatan emas ini, dia lepaskan diri dari jebakan offside dan mumpung bola belum jatuh ke tanah, dengan tumitnya dia arahkan ke celah kiper tidak bisa menangkap bola tersebut. Gol pun tercipta dari kaki Parisi Biraghi. 1-1 dan kami begitu lega karena masih ada kesempatan untuk memenangkan pertandingan ini.
Jujur, aku juga ingin merayakan gol bareng mereka karena mereka begitu senangnya setelah gol spektakuler dan jenius itu tercipta dari sang kapten.
"Ayo, lebih baik lagi menyerangnya. Aku butuh tenaga tambahan dari kalian"
Mereka manisnya semangat setelah disemangati segenap jiwa oleh si kapten superior. Bukankah ini buruk? melibatkan defender padahal ada penyerang yang serangan nya lebih jitu. Aku harap aku bisa mengubah alur permainan.
Dewa, aku bersumpah padamu sesak sekali duduk sepanjang hari di bangku cadangan. Aku merasa kontrak kemarin seperti belanja daring dan menandatangani kurir karena aku merasa lama sekali duduk di bangku ini melihat permainan mereka yang seharusnya bisa dicap buruk.
Ini rupanya perasaan seekor burung ketika bertahun-tahun di sangkar. Sial kau, Italiano(manager Fiorentina) . Aku terkurung dan tertahan di kursi ini. Mungkin aku harus melakukannya.
"Pak Italiano, sudah boleh aku bermain" ucapku dengan lembut
"Kau bisa menunggu lebih lama lagi? Ini baru babak pertama. " ucapnya sinis sekali padaku
"Kalau begitu lari kecil? "
"Simpan dulu energimu di babak kedua. Nanti di babak kedua kau boleh masuk"
Aku sudah muak dengan ini. Padahal aku sudah latihan semalam. Yah walaupun aku lelah. Maksud ku lelah lebih karena bosan tanpa tantangan seorang kiper. Aku pun dengan posisi santai menarik nafas dalam dan melupakan semua yang telah kubicarakan dengan manager. Aku ingin menghancurkan klub itu dengan senang hati.
Peluit pun ditiup dan babak pertama berakhir. Tidak ada skor yang bertambah, maka dengan itu skor babak pertama 1-1.
... ...