Konami No Hiiro

Konami No Hiiro
Bore to win



Kami sekali lagi merayakan kemenangan kami dengan makan Brussceta dan minum bir dilengkapi dengan musik phonk dan hiphop sehingga kami spontan menari.


"Hahaha, kita agak keterlaluan membalas mereka. " ucap Arthur dan dia meneguk birnya dengan sangat sembrono.


"Kau mau kita berakhir dengan poin sedikit?Kita sudah cukup menahan diri juga" ucap Biraghi


"Kau benar, Amrabat belum pulang semenjak kemarin. Dimana dia? "


Aku tidak asing dengan nama itu. Oh aku baru ingat. Bukankah dia pemain dari Maroko. Aku tahu dia adalah pemain Maroko. Ternyata dia main di klub tidak mencolok seperti ini


"Kenapa aku harus percaya kita menahan diri? Sepertinya terlalu dilebih-lebihkan jika kau anggap itu benar, kapten" ucap Nzola


"Panggil saja aku dengan nama, Nzola. Aku tidak sepenting itu" lanjut Biraghi


"Berterimakasih lah pada Brekalo. Dia lah yang membawa kita menang" ucap Ranieri


"Aku? Sebenarnya aku ditekan ketika melakukannya" jawab Brekalo


"Maksudmu? " tanya lagi Ranieri


"Lihat mafia muda kita, sudah berani mengancam orang tua seperti ku"


"Hey aku lebih tua dari... " lekas kututup mulutku sebelum menyelesaikan perkataan ku


"Kau aneh juga ya ternyata, Asagiri kun. Harus kuakui kau sangat nekat. Tapi melihat kau lemah menghadapi Ac Milan membuat ku beranggapan kau hanya lah bocah ingusan"


Semua tertawa setelah Brekalo berkata begitu. Aku juga tertawa walaupun disinggung demikian olehnya.


"Kalau gitu, izinkan aku dogeza"


Aku pun dogeza dihadapan Brekalo dan kemudian dia memegang daguku agar aku bangkit.


"Dasar orang timur. Tapi aku harus berterima kasih banyak kepada hinaan mu itu. Berkat itu, aku pun bangkit"


"Hinaan? Maksud mu bisikan itu? " tanya Dodo


"Iya, dia mengatakan padaku 'Aku tidak tahu apakah kau akan berguna setelah ini. Aku tidak melihat potensi menang darimu. Tapi ,kalau kita kalah maka aku tidak akan memaafkan dirimu' Itulah yang dia katakan"


Dan kejadian itu masih segar diingatan ku. Aku akhirnya ketawa walaupun agak menyesalinya didalam hati.


"Kita masih banyak yang menahan diri tanpa kita sadari. Ranieri adalah si kilat ungu. Dia belum menunjukkan apapun. Asagiri juga tidak tahu ya? " ucap Bonaventura.


"Iya, aku tidak tahu dia itu ternyata di bidang kecepatan. " jawabku


"Ayo bersulang untuk kemenangan kita" ucap Biraghi


"AYO BERSULANG" semua membentur gelas masing-masing dan meminum bir kami. Aku mulai tidak menyadarkan diri. Untungnya aku juga tidak terlalu tumbang kalau minum bir karena di dunia nyata aku juga nongkrong di bar kalau tidak ada teman.


Semua menikmati pertandingan tadi dan sudah ada yang mulai bertanya padaku


"Hey Asagiri" sahut Biraghi padaku yang padahal belum menyadarkan diri "kau masih sakit setelah dipukul Tomori? "


"Hikkk" aku mulai mengeluarkan suara "lupakan dan rayakan"


Spontan Biraghi menyelimuti ku dengan jaket milikku. Aku pun terlelap setelah itu.


"Kau benar, mungkin melupakan bukanlah hal yang sangat buruk apalagi melupakan masa lalu"


Selesai pesta, semua pun pulang dan kembali ke rumah masing-masing. Aku pun ke kamar markas ini berada.


Keesokan harinya seperti biasa melakukan latihan rutin dengan pemain lainnya di tempat latihan.


Aku pun masuk dengan mereka dan bermain sedikit dengan mereka.


"Aku tidak bisa bermain seperti orang Brazil yang menakjubkan dalam skill bola" keluhku pada Arthur


"Saranku tidak perlu mencoba hal yang jelas-jelas kau tidak bisa. Skill bukan masalah dribble sayangnya" jawab Arthur


"Kau kira ke Roma hanya satu jalan? Kau ini" ucapnya


"Padahal kontrol bolanya sangat baik. Jadi kurasa itu sudah cukup. Kalau aku pengecualian. Aku sudah terlalu mahir habisnya" ucap Brekalo


Spontan Arthur sedikit menepis kepala Brekalo dengan raut datar namun teramat kesal.


"Sombong sekali kau"


"Hehehe, kau juga tidak mau mengajarinya" ucap Brekalo


"Begini, akan kuajar tapi tidak akan kubuat lebih dari ekspetasi mu. Jangan menganggap akan seperti Ronaldinho ataupun Neymar karena aku sendiri belum bisa sampai segitu. "


Aku pun mengangguk tanda setuju. Dia pun menunjukkan berbagai skillnya dan kutiru. Namun aku tidak bisa meniru berbagai skill yang sudah dia ajarkan karena aku sangatlah payah untuk skill.


"Maaf, aku tidak bisa mengajarimu lebih lagi. " ucap Arthur


Aku sudah terlalu putus asa. Terlihat dari mukaku yang merengut . Aku kecewa dengan diriku sendiri.


Namun dia menendang bola padaku dengan agak kencang dan spontan kuhentikan dengan ujung tumitku .


"Tapi percayalah. Semua orang punya jalan sepakbola nya masing-masing. Seorang Messi tidak akan jadi Ronaldo walaupun mereka selevel dan seorang Neymar tidak akan pernah menjadi Benzema walaupun mereka setingkat.


Aku pun langsung kembali semangat mendengar perkataan Arthur yang bijak itu. Iya, semua ada jalan masing-masing untuk menjadi pemenang. Yang harusnya kukembangkan adalah hal yang melekat padaku.


Aku pun kembali melakukan latihan dengan yang lainnya. Latihan pun berlanjut hingga waktu senja pun tiba. Semua pergi minum air dan satu persatu pun kemudian pulang ke rumah.


Berulang siklus latihan seperti ini. Aku selalu mencari dimana tepatnya aku menonjol. Skill seperti apa yang kupunyai. Ini mengingatkan ku pada pemain legenda Brasil yaitu Pele yang dimana semua teknik bola Brazil sendiri dia yang menemukan semuanya dan itu ditemukan secara tidak sengaja.


Tidak terasa akhirnya hari sabtu tiba. Pertandingan melawan Pisticci.Aku akan berada di posisi cadangan. Ini terlalu mudah sehingga aku tidak perlu keluar.


(Dan gol. Lagi-lagi Luca Ranieri yang tidak terkejar melesat ke gawang. skor 0-3 untuk kemenangan Fiorentina)


Begitu juga seminggu kemudian melawan Frosinone. Terlalu mudah dan aku hanya dimainkan selama 3 menit tanpa gol sama sekali.


(Dan skor 2-1 untuk kemenangan mutlak milik tuan rumah. La Viola sangat hebat dengan performanya yang maksimal)


Aku sudah begitu lama istirahat sepertinya. Dan aku hingga kini belum menemukan bakatku. Aku harap akan ada tantangan yang membangkitkan diriku untuk menemukan jati diri sepakbola ku.


Aku pun teringat kalau pekan depan bakalan melawan tim Nerazzurri Inter Milan yang diisi pemain bintang yang sangat hebat.


Ketika latihan, aku pun ikut dan mulai disambut oleh mereka.


"Hey, anak muda. Kini giliran mu bersinar" ucap Biraghi


"Kalian payah. Hanya mengandalkan ku di waktu tertentu. " ucapku merajuk seperti layaknya anak muda


"Wah ada yang kecewa sepertinya, kapten" sahut dengan sembrono Brekalo


"Hey, hentikan itu Arthur. Kami bukan tidak mengandalkan mu. Hanya habis tim sebelum nya terlalu lemah sehingga kami harus benar-benar tidak mengeluarkan mu"


"Aku tidak mau kalian tertipu oleh mereka yang lemah atau kalian hancur karena meremehkan. " ucapku


"Kau benar. Mungkin kita juga harus serius apalagi melawan Inter Milan kan? " ucap manager Italiano


"Aku juga bawa hadiah kawan-kawan" ucap Nzola didampingi orang putih plontos berbadan tinggi.


Semua pun bersorak secara serentak


"SOFYAN"


"hahaha, dia akan ikut melawan Inter Milan"


Untung nya lawan berikut nya bukan Inter Miami. Persiapan nya itu mungkin satu abad baru selesai.


Kami kembali sibuk latihan dan Amrabat pun juga ikut latihan dengan kami.