KOKO KRUNCH

KOKO KRUNCH
09 | PERCAYA VIRTUAL



...IKUTI INSTAGRAM :...


...@finarsky__...


...FOLLBACK? DM!!...


...🔥🔥🔥...


"Aku masuk Adromeda ma sama Udin sama Yogi juga, kemarin aku udah cek ke kampusnya dan nama kami bertiga lolos." Cerita Koko pada Desi.


Desi menganggukkan kepala, "Alhamdulilah deh sayang.. Mama bangga deh sama kamu."


"Kamu juga harus bisa kayak abang kamu ya sayang.. Banggain mama sama papa." Ucap Desi kemudian dengan manatap Fika.


Mereka bertiga kini sedang berkumpul tepat di ruang keluarga hanya minus ayah Koko yang masih diluar kota dan sudah beberapa minggu tidak pulang.


Koko sendiri tidak begitu akrab dengan ayah tirinya dan berbicara pun mereka berdua hanya sebutuhnya saja.


"Ma.. Mama ngerasa capek nggak sih punya anak kayak aku?" Tanya Koko tiba-tiba pada Desi.


"Kenapa tanya gitu? Ada yang salah?" Tanya Desi.


Koko menggelengkan kepala, "Ya nggak ada yang salah ma.. Cuma aku kayak ngerasa beban aja."


"Tiap hari jajan habisin uang mama, kuliah pake uang mama, nggak kerja dan minta uang terus ke mama."


"Fika juga ma." Sahut Fika cepat.


Desi tersenyum tipis mendengar curhatan kedua buah hatinya, ia dengan cepat mengusap rambut Koko dan Fika yang ada di bawahnya tepat duduk diatas karpet.


"Kalian berdua penyemangat mama.. Setelah ayah kandung kalian meninggalkan mama, mama udah janji sama diri mama kalo mama akan jaga kalian sekuat tenaga mama."


"Mama nggak keberatan sama sekali kalo uang mama akan habis untuk anak-anak mama, apapun yang kalian suka, kalian seneng dan kalian berdua tersenyum.. Itu udah cukup bikin mama awet muda."


Koko dan Fika yang mendengar hal tersebut dengan cepat berdiri begitu saja lalu memeluk Desi bersamaan.


"Kita sayang banget sama mama." Gumam Fika lagi.


"Kamu nggak sayang sama mama, Ko?" Tanya Desi.


"Sayang kok ma, sayang banget malah." Jawab Koko cepat dengan melepaskan pelukannya.


"Mama udah bantuin kamu buat undur acara keluarga jadi bulan depan biar oma nggak jadi jodohin kamu."


"Minta tolong kerjasamanya sayang.. Cepat dibawa ke rumah pacar kamu, biar mama tau dulu sebelum nenek kamu."


"Itu lagi itu lagi.. Mama nggak bosen apa gimana sih? Heran deh."


"Gimana mama mau bosen? Orang adek kamu loh udah bawa pacarnya kesini beberapa kali."


"Sedangkan kamu sendiri yang lebih tua dari Fika mana? Nggak malu apa di kalahin sama adeknya?" Lanjut Desi kemudian.


Koko menghela nafasnya pelan, "Yakan setiap orang jodohnya nggak selalu barengan ma. Bisa aja Fika jodohnya udah dateng terus akunya belum."


"Jawab mulu kalo di bilangin.. Pokoknya harus secepatnya mama minta kamu bawa pacar kamu kesini."


"Udah masuk perguruan tinggi juga masih aja."


"Iya ma iya.. Secepatnya." Jawab Koko singkat lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar.


"Habis ini aku mau futsal ma, sama temen-temen."


"Bilangnya sama temen-temen tapi ya cuma Udin sama Yogi doang." Sindir Fika yang tidak di tanggapi apapun oleh Koko.


...🔥🔥🔥...


Semakin hari Koko semakin akrab dengan Gatha walaupun hanya sebatas virtual.


Koko sendiri juga bingung bagaimana ia bisa percaya dengan virtual apalagi dengan Gatha yang sangat sulit sekali di mintai foto maupun video call.


Dengan bibir tersenyum tipis membaca chat Gatha, Koko mengusap dagunya pelan. "Baru kali ini gue bawa perasaan sama ketikan."


Sangat mirip dengan orang pacaran pada umumnya bukan?


Koko tidak menyesalinya. Ia sangat menikmatinya dimana Gatha yang berhasil membuat dirinya tertawa lagi walaupun hanya sebatas ketikan saja, Koko tidak mempermalahkannya.


"Kak.." Panggil Fika tiba-tiba yang memasuki kamar Koko.


Koko yang awalnya tengkurap dengan membaca ulang chatnya bersama Gatha dengan cepat menutup ponselnya begitu saja.


"Ada apa? Minimal kalo masuk kamar gue ketuk dulu kenapa sih?"


"Ya emang kenapa?"


Koko memutar bola matanya malas, "Nanti kalo lo masuk terus pas gue telanjang gimana?"


Fika melipat kedua tangannya di depan dada dan memutar bola matanya malas, "Telanjang ya telanjang aja kak.. Nggak napsu juga, orang kita sedarah."


"Ah udah ah jangan ngaco.. Gue mau cerita kak."


Koko memincingkan matanya curiga menatap Fika, "Cerita apa? Kalo masalah cowok lo kayak kemarin gue ogah."


"Yang ada kalo marahan bilangnya benci, nggak suka.. Giliran gue suruh putus jawab lo masih cinta, ogah gue!" Tolak Koko mentah-mentah.


Fika tersenyum tidak bersalah bersamaan dengan duduk begitu saja dia atas sofa yang ada tepat di depan ranjang besar milik Koko.


"Nggak tau kenapa gue akan tanya ginian ya kak? Tapi emang gue udah kepikiran dari Jodie cerita ke gue."


Koko memincingkan matanya bertanya-tanya, "Jodie siapa? Aga maksud lo?"


"Ya Jodie sahabat gue itu loh kak.. Mungkin lo panggil dia itu Aga tapi gue panggil dia itu Jo."


"Skip nama! Emang kenapa sama sahabat lo?" Tanya Koko langsung ke inti tanpa basa-basi.


"Sebelumnya gini ya kak, lo percaya virtual nggak sih?"


Deg


Jantung Koko seolah mendapat hantaman batu keras sekarang dimana Fika yang mulai bertanya masalah hubungan virtual.


"Virtual gimana maksud lo?" Tanya Koko pura-pura tidak tahu.


"Ya hubungan virtual kak, nggak pernah ketemu nggak pernah tau wajahnya sih setau gue si Jo sama kenalannya sekarang."


"Dan Jo percaya sama cowoknya itu kak, itu menurut lo gimana sih?"


"Ya menurut gue apa? Gue nggak tau juga."


"Virtual kak.. Lo tau nggak sih virtual? Cuma sebatas komunikasi gitu loh lewat ponsel." Jelas Fika lagi.


Koko mengendikkan bahunya sok tidak mengerti dan bingunh dengan penjelasan Fika, "Gue nggak pernah kayak gitu ya mana gue tau."


"Kalo mau percaya sama orang sih itu dari masing-masing orang menurut gue. Mau virtual mau nggak itu tergantung kitanya juga."


"Kalo selama di virtual mereka baik, nerima kita terus baik sama kita ya nggak ada salahnya juga sih percaya-percaya aja."


"Yang gue masalahin nggak perihal itu kak, kemarin kan gue tanya ke Jo gini.. Lo nggak takut apa cowok yang lo percaya itu jelek dan bikin kecewa mukanya saat lo ketemu? Gitu."


"Terus Aga jawab apaan?"


"Dia malah ngerasa bodo amat gitu."


Koko menganggukkan kepalanya mengerti, "Yakan emang gitu.. Kalo udah suka sama sifat, fisik nomor sekian setau gue."


"Gue contohnya.. Gue nggak mandang fisik asal wanita gue baik sama gue terus nerima gue sama keluarga gue."


Fika dengan greget berdiri begitu, "Mau cerita eh malah di adu nasib sama si paling mati rasa.. Tau ah bodo amat!" Sewotnya kemudian lalu pergi begitu saja.


...🔥🔥🔥...