
...SECOND STORY :)...
...SEMOGA SUKA XIXIWW...
...FOLLOW INSTAGRAM :...
...@finarsky__...
...FOLLBACK? DM!...
...🔥🔥🔥...
"Tadi mantan lo kesini.. Belanja di depan sama mamanya." Ucap Fika tiba-tiba.
Koko yang awalnya tengah fokus bermain game dengan cepat mendongakkan kepalanya menatap Fika dengan memincingkan matanya.
"Mantan gue? Siapa?"
"Yang seksi berambut panjang."
"Yang lo suruh mama buat lamarin dia beberapa waktu lalu." Lanjut Fika kemudian.
Koko hanya diam melanjutkan game online di ponsel mahalnya namun pendengarannya tetap berusaha fokus menanggapi Fika.
"Ternyata masih banyak yang mengangumi lo kak dan banyak juga yang ngira gue adalah salah satu pacar lo."
Fika melipat kedua tangannya menatap Koko dengan duduk tepat di atas ranjang. "Baru tau gue kalo banyak cewek yang mengagumi lo."
"Secara gue lihat tiap hari nggak ada kelebihan sama sekali di dalam tubuh lo." Ejek Fika kemudian dengan tersenyum mengejek.
"Kalo lo cuma ganggu gue mabar sama temen-temen gue, mending lo keluar dari kamar gue."
"Ya habisnya lo cuekin gue." Sewot Fika kemudian.
Koko menghela nafasnya pelan, "Gue nggak nyuekin lo bahkan gue juga denger lo ngomong apa dari tadi gue denger."
"Tapi lo nggak jawab dan cuma diem aja.. Itu mah lo nggak merhatiin gue." Sahut Fika cepat.
Koko memang kakak terbaik untuk Fika. Fika yang selalu manja sangat seimbang dengan Koko yang sabar bahkan sangat pengertian dan perhatian terhadap Fika.
"Yaudah iya gue matiin game gue dan lo mau ngomong apa? Gue dengerin deh kalo perlu gue tanggepin juga." Putus Koko bersamaan dengan mematikan game onlinenya lalu meletakkan ponselnya begitu saja.
Fika duduk begitu saja di depan Koko, "Tadi mantan lo nanyain lo kak."
"Kakak lo kemana gitu." Lanjut Fika mulai bercerita setengah mengadu pada Koko.
"Terus?"
"Kan tadi nggak ada mama di toko jadi gue yang gantiin terus si mantan lo sama mamanya belanja."
Toko yang Fika maksud adalah salah satu bisnis keluarga Wijaya, yang mana toko sembako grosir yang sangat besar dan luas selain bisnis lain yang mereka miliki.
"Gue jawab deh kalo lo nggak di rumah." Lanjut Fika yang dijawab Koko dengan anggukan kepala bersamaan dengan menyalakan rokoknya.
"Mama juga kemarin ngomong gini, kamu loh Fika udah berani bawa cowok ke rumah terus kenalin ke mama."
"Giliran kakak kamu belum bawa cewek lagi kesini setelah berapa lama itu di tinggal Sasha."
"Gitu kak.. Emang lo nggak punya pacar apa gimana?" Lanjut Fika bertanya pada Koko.
Koko menatap Fika sekilas lalu menggelengkan kepalanya cepat, "No.. Gue nggak butuh pacar saat ini."
"Kasian pacar gue kalo gue pacaran sekarang." Lanjut Koko.
Fika memincingkan matanya karena merasa aneh dengab ucapan sang kakak, "Kenapa kasian? Kok bisa gitu?"
"Nggak mood aja.. Hati gue nggak tergerak buat tertarik sama cewek lagi."
Fika menutup mulutnya kaget menatap Koko, "Serius kak? Lo gay?"
"Mata lo!! Bangsat.."
"Yakan gitu, lo mah selalu kasar sama adik sendiri."
"Gimana nggak kasar coba? Pertanyaan lo nggak mencerminkan pertanyaan sama sekali.. Yang ada tuduhan." Jawab Koko nyolot pada Fika karena greget sendiri.
"Kasian kalo gue pacaran sekarang adalah gue yang kasian sama cewek gue."
Fika menganggukkan kepalanya cepat, "Kayak semacam sekedar punya ngga sih kak, tapi nggak ada rasa."
"Berkabar ya di terima kalo nggak berkabar yaudah nggak ada rasa takut kehilangan."
Koko menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Fika, "Ya semacam itulah.. Tunggu aja waktunya yang tepat nanti juga gue bawa cewek ke rumah."
Fika hanya mengendikkan bahunya lalu berdiri dari duduknya dan pergi keluar begitu saja dari kamar Koko.
...🔥🔥🔥...
"Kak, oma lagi perjalanan kesini kata mama." Ucap Fika.
Sekarang adalah hari Minggu pagi yang mana aktivitas semuanya libur kecuali papa Koko yang belum pulang juga dari luar kota untuk mengurus bisnisnya.
Meja makan yang ramai tetap dihuni oleh sang mama, Koko dan Fika.
"Emang beneran ma?" Tanya Koko untuk memastikan.
Desi menganggukkan kepalanya singkat bersamaan dengan berjalan menuju meja makan dan lauk-pauk yang ada di tangannya.
"Katanya sih kangen kamu.. Karena kemarin kesini belum ketemu sama kamu mungkin emang kangen beneran."
Fika mendekatkan bibirnya lalu berbisik pada Koko, "Gimana nasib lo nanti kak kalo oma bahas yang perjodohan lo? Mampus nggak lo kak."
Koko hanya mengendikkan bahunya bersamaan dengan memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Kamu harus nurut sama oma loh Ko, dia satu-satunya oma kamu setelah opa kamu meninggal dan nenek serta kakek dari ayah kamu nggak ada."
Koko hanya diam namun fikirannya tetao saja berjalan memikirkan penolakan apa dan bagaimana jika benar dirinya akan dijodohkan.
"Aku usahain nurut ma kalo aku bisa nurutin.. Nggak semuanya harus aku bisa mama." Ucap Koko kemudian.
Desi hanya menganggukkan kepalanya lalu teringat sesuatu yang sudah beberapa lama ada di fikirannya.
"Kamu belum punya pacar lagi Ko?"
Mendengar kalimat tersebut dari sang mama, mendadak Koko hanya terdiam dan bingung harus menjawab yang bagaimana.
Karena pada dasarnya saja, Koko telah mati rasa terhadap wanita manapun yang berusaha dekat dengannya untuk menginginkan lebih dari seorang teman.
"Kalo lo berencana nolak perjodohan yang di bilang mama beberapa waktu lalu sama oma, saran gue lo jawab punya pacar kak."
"Tapi gue sekarang nggak lagi deket sama siapapun dodol."
"Kalo mama suruh bawa ke rumah, gue bawa siapa?"
Fika menghela nafasnya greget mendengar kelemotan Koko kali ini. "Lo itu ganteng kak, berduit, fisik lo mendukung banget dan nggak jelek-jelek amat."
"Banyak di luar sana yang mungkin lo bayar terus bawa pulang ketemu mama, selesai."
"Gitu doang masak lo nggak berani? Daripada di jodohin seumur hidup.. Mau lo?"
Mendengar bisikan Fika membuat Koko dengan cepat berdehem lalu menganggukkan kepalanya cepat menatap sang mama.
"Alhamdulilah udah punya ma." Jawabnya kemudian.
Desi tersenyum senang mendengar Koko punya pacar dengan beranggapan bahwa putranya bisa melupakan masalalunya.
"Kapan-kapan bawa kesini dong sayang.. Adek kamu loh udah bawa pacarnya kesini ketemu mama, kok kamu yang kakaknya malah belum." Ucap Desi kemudian.
Koko yang mendengar ucapan Desi hanya tersenyum kaku sekaligus bingung dengan mata menatap Fika seolah meminta bantuan.
"Tenang aja ma.. Pasti di bawa pulang. Orang kita sering double date juga kok."
Mata Koko melotot bingung menatap Fika yang semakin menenggelamkan dirinya pada masalah baru.
"Wahh.. Pasti seru dong bisa double date."
"Seru ma, seru banget kok." Jawab Fika dengan wajah senang namun hal tersebut mampu membuat Koko panik sendiri.
"Lo udah dorong gue ke kolam masalah. Dan sekarang lo tenggelamin gue dengan lo bilang double date ke mama.. Gilak lo!!" Bisik Koko dengan suara tertahan greget di telinga Fika.
Fika sendiri hanya tersenyum seriang biasanya dengan menatap Koko dan Desi bergantian.
...🔥🔥🔥...