KOKO KRUNCH

KOKO KRUNCH
07 | ANAK TUNGGAL



...IKUTI INSTAGRAM :...


...@finarsky__...


...FOLLBACK? DM!!...


...🔥🔥🔥...


"Kak, lo mau kemana?"


"Mau ke kampus yang gue daftarin sama Yogi sama Udin. Kenapa?" Jawab Koko bersamaan dengan memakai jaket denimnya.


Pagi hari berawan cerah dan kebetulan hari ini adalah tanggal merah yang membuat aktivitas semuanya libur termasuk Fika.


"Mau main ke rumah Jodie kak, anterin dong."


"Ogah!! Gue bukan ojek lo." Jawab Koko cepat.


"Lagian juga di garasi motor lo pada nganggur, mobil juga ada kalo bisa nyetir bawa aja."


"Kenapa gue mulu yang suruh anterin lo? Ogah gue.. Gue buru-buru." Lanjut Koko kemudian yang menunjuk garasi dengan dagunya.


"Males kan kalo nyetir sendiri, enak juga di bonceng."


Koko meminum segelas susunya dengan mata yang menatap Fika malas, "Kalo males nyetir kemana-mana yaudah di rumah aja."


"Gue capek jadi perhatian temen-temen lo, panas lama-lama telinga gue yang ngomongin gue mulu waktu gue selalu anterin lo."


"Yakan nggak ada salahnya juga kalo temen-temen ngefans banget sama lo.. Lagian lo juga jomblo kak, jadi nggak masalah."


"Bukan alasan jomblo atau nggak nya, tapi temen-temen lo hampir semua punya kontak gue. Mana chat mulu tiap hari."


"Apalagi si Rara.." Greget Koko dengan mengepalkan tangannya.


Fika mengerutkan keningnya menatap Koko bingung, "Rara? Kenapa sama Rara?"


"Temen lo yang nginep disini beberapa waktu lalu namanya bener Rara nggak si?" Tanya Koko memastikan pada Fika.


Fika menganggukkan kepalanya, "Iya kak namanya Rara.. Gue sebenarnya juga nggak suka suka sama dia, mama juga nggak suka kalo gue temenan sama dia."


"Terus kenapa malah lo bawa ke rumah? Mana tatoan lagi, perempuan kok punya tatto.. Ya bener aja itu seni tapi untuk cewek nggak pantes aja di pandang."


"Emang Rara apain lo kak? Ganggu lo apa gimana?" Tanya Fika dengan rasa penasaran.


Teman-teman Fika kebanyakan memang cewek dan sangat menggilai Koko begitu tahu Fika mempunyai abang setinggi bahkan semanis Koko.


"Rara minta rokok ke gue." Jawab Koko singkat yang membuat mata Fika melotot tidak percaya dan reflek saja menutup mulutnya.


"A-Apa kak? Rara minta rokok ke lo?" Tanya Fika perlahan untuk memastikan.


Koko menghembuskan asap rokoknya dengan santai setelah ia selesai sarapan, "Udah minta rokok ke gue terus bersandar seenaknya lagi di bahu gue."


"Itu kapan sih kak? Kok gue nggak tau."


"Mungkin waktu lo di suruh mama terus dia habis mandi duduk di tangga paling atas dan waktu itu gue juga disana eh tiba-tiba di sebelah gue."


"Udah ah gue mau ke Andromeda sama Udin sama Yogi.. Nanti kalo mama tanya bilang aja gue keluar." Lanjut Koko kemudian lalu pergi begitu saja.


"ANTERIN AKU KE JODIE DULU KAK!!" Teriak Fika yang di balas lambaian tangan saja oleh Koko dengan artian tidak mau.


...🔥🔥🔥...


...Gatha...


^^^Lo sekarang ngapain?^^^


Napas nih


Terus chattingan sama lo wkwk


Tanpa sadar Koko tersenyum tipis begitu melihat balasan Gatha.


"Kurang ajar nih anak." Gumam Koko.


"Woyy lo ngapain senyum-senyum sendiri?" Ucap Yogi tiba-tiba dengan menepuk pelan bahu Koko hingga sang empu terlonjak kaget.


"Gimana Gatha? Asyik nggak anaknya?" Sahut Udin cepat.


Koko sekarang berada tepat di rumah Udin karena jadwal mereka bertiga hari ini adalah ke kampus Andromeda untuk memastikan mereka lolos seleksi atau tidak.


"Setau gue Gatha orangnya asyik tau.. Dia pernah kok jalan sama gue terus sama temen-temen gue yang lain."


"Enak aja gitu di ajak ngobrol dan dia tipe cewek yang nggak gampang mati topik.. Pokoknya ada aja bahan yang di buat cerita." Lanjut Udin bercerita mengenai Gatha.


Koko hanya diam sejenak lalu menganggukkan kepalanya sebagai pembenaran atas cerita Udin.


Gatha memang anti mati topik menurut Koko dan itu sudah terbukti dari awal Koko mendekatinya.


Bahkan Gatha mampu membuat Koko yang mati topik dan diam tidak berkutik.


"Lo kenapa diem aja? Udah suka sama Gatha?" Tanya Udin tiba-tiba.


Koko menggelengkan kepala, "Nggak lah! Ya kali gue suka Gatha dalam waktu semalam doang."


Yogi menaik turunkan kedua alisnya menggoda Koko, "Tapi lo mulai suka ya kan? Ngaku aja deh."


"Barusan juga gue lihat lo senyum-senyum sendiri chattingan sama Gatha." Lanjut Yogi kemudian.


"Suka ya suka aja bro, gapapa kok.. Gatha juga jomblo setau gue dan kalo lo emang mulai suka sama Gatha berarti Gatha berhasil bikin hati lo hidup lagi."


"Ngaco lo berdua." Ucap Koko membantah pernyataan Udin dan Yogi.


Koko tiba-tiba teringat sesuatu yang harus ia tanyakan pada Udin perihal Gatha yang tidak mau menjawab pertanyaan darinya masalah pendidikan.


"Gue nanya sesuatu sama lo boleh nggak si?" Ucap Koko ragu-ragu dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Yogi yang awalnya ingin memakai helm dengan cepat mengurungkan niatnya lalu menatap Koko yang ingin bertanya sesuatu pada Udin.


"Tanya ya tanya aja kali bro, nggak perlu bertele-tele.. Perasaan lo nggak pernah kayak gini deh kalo mau tanya apapun ke kita." Jawab Udin dengan bergantian menatap Koko dan Yogi.


Yogi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban yang benar atas ucapan Udin.


"Ya gue cuma bingung aja mau tanya darimana, takutnya lo berdua nilai gue yang nggak-nggak kalo gue mau tanya hal penting itu tiba-tiba."


"Emang lo mau nanya apaan sih?"


"Gue salah nggak sih kalo gue tanya tentang Gatha ke lo?" Tanya Koko langsung ke intinya pada Udin.


Yogi yang mendengar hal tersebut hanya menghembuskan nafasnya pelan lalubtertawa kecil, "Gue kira masalah apaan dodol.. Gue dengerinnya udah dua rius eh malah tentang Gatha."


Udin menganggukkan kepalanya, "Ya nggak salah juga si Ko, itu hak lo.. Kan lo emang berniatan deketin dia."


"Lo tau nggak kesibukan Gatha sekarang apa?" Tanya Koko pada Udin.


"Setau gue sih ya, karena gue nggak begitu deket sama dia.. Gatha anak tunggal dan mamanya baru meninggal beberapa bulan yang lalu."


"Papanya kalo nggak salah angkatan atau apa gitu gue juga nggak terlalu tau sih."


"Terus Gatha tinggal sama siapa sekarang? Papanya?" Tanya Koko penasaran.


Gatha berhasil membuat hati Koko luluh bahkan mulai ingin masuk ke dalam kehidupannya, entah apa yang membuat Koko menjadi seperti ini.


Udin menggelengkan kepalanya, "Papanya juga udah meninggal sebelum mamanya.. Meninggal karena perang dimana gitu lupa gue."


"Gue juga ikut kesana kok waktu papanya meninggal."


"Terus Gatha gimana kehidupannya?" Sahut Yogi.


"Kalo kata temen-temen gue sih Gatha hidup dari uang pensiunan kedua orangtuanya.. Maklum ajalah dia anak tunggal dan nggak ada siapa-siapa, jadi uang pensiunan kedua orangtuanya sepenuhnya jadi milik dia."


Yogi tanpa sadar menganggukkan kepalanya, "Anak tunggal bukan sembarang anak tunggal."


"Kehidupan dia lebih parah dari gue ternyata." Sahut Koko tanpa sadar.


"Btw, Gatha seumuran sama kita.. Tapi dia masih sekolah sekarang."


"Nggak tau juga kok bisa. Mungkin karena dulu dia sering pindah-pindah sekolah waktu papanya tugas kesana-kemari." Lanjut Udin bercerita.


Koko merasakan ada pesan masuk di ponselnya dan itu pesan dari Gatha.


Tanpa sadar Koko tersenyum tipis saat membacanya. Hal tersebut sukses membuat Udin sekaligus Yogi mengerutkan kening bingung secara bersamaan.


...🔥🔥🔥...