
Seperti biasa Koko selalu tersenyum sendiri jika bertukar pesan dengan Aga, si cewek taksiran secara virtual walaupun ia belum tahu bagaiman wujud Aga.
Bahasa Aga dan Koko dalam pesan chatting menunjukkan bahwa mereka adalah sefrekuensi yang random bahkan receh.
Koko bahkan tidak lupa mengirim gambar seperti ia sedang apa hingga pergi kemana pun ia tidak pernah absen berpamitan dengan Aga.
Aga sendiri melakukan demikian. Namun yang berbeda dari Aga, ia belum pernah mengirim foto wajah kepada Koko.
Itu membuat Koko tidak masalah asal nyaman aja.
Dari awal memang penilaian Koko, fisik bikin segalanya.
"Dikelas sini ada yang namanya Koko Adibaskara nggak sih?" Ucap salah satu cowok begitu memasuki kelas.
Koko yang awalnya fokus dengan ponsel dan mendengar ada yang memanggil namanya dengan cepat mendongakkan kepala.
"Gue Koko Adibaskara, ada apa?" Jawab Koko dengan mengangkat tangan.
Hari ini adalah awal dimana mahasiswa baru untuk memulai pembelajaran layaknya dunia kampus.
Dikelas yang sama rata antara cewek dan cowok, Koko termasuk cowok tampan, tinggi dan manis.
Unggul dari cowok yang lain.
"Ini ada titipan dari satpam depan." Ucap cowok tersebut dengan membawa lima paperbag dan meletakkan tepat di meja Koko.
"Dipos satpam masih ada dan lumayan banyak tapi gue nggak bisa bawa."
"Tadi kebetulan gue lewat pos satpam dan di panggil pak satpam katanya buat Koko Adibaskara, gue kira anak kelas eh ternyata satu kelas sama gue."
"Kenalin gue Bagas.." Lanjut Bagas mengenalkan diri.
Koko tersenyum ramah, "Ah ya gue Koko. Btw, ini apaan?"
"Gue nggak ngerasa pesen apa-apa mana banyak lagi."
Bagas duduk begitu saja disamping Koko dan mengendikkan bahunya, "Mana gue tau, buka aja kali ya.. Gue juga penasaran."
Tanpa ragu Koko dan Bagas mulai membuka satu persatu paperbag tersebut.
"Semangat kuliahnya, ini bekal dari aku."
"Semangat ya anak ganteng."
"Semangat ya hari pertama kuliahnya.. Jangan lupa ini dimakan wakti siang nanti."
"Semoga kamu suka ya hadiah dari aku."
"Dari SaPeKo."
"Sapeko apaan dah?" Gumam Bagas kepo bersamaan dengan mengambil kartu ucapan tersebut dari tangan Koko dan membacanya.
"Persatuan penggemar Koko? Gila-gila baru hari pertama iki bro." Ucap Bagas kaget dengan menepuk pelan bahu Koko.
Koko hanya menghela nafasnya pelan, "Nggak di sekolah, nggak di kompek rumah dan nggak di kampus ada aja penggemar kayak gini."
"Perasaan yang digemari dari gue juga apa astaga." Gumam Koko frustasi dengan mengusap kasar rambutnya.
Mata Koko kembali menatap meja yang penuh dengan kotak bekal dengan lauk yang memang terlihat sangat lezat hingga hadiah juga ada.
Bukannya Koko tidak mau menerima atau gimana, namun sejak awal menerima barang dari seseorang apalagi komunitas tidak jelas atas nama dirinya pasti akan mengundang harapan lebih dari mereka untuk dirinya.
"Lo nggak ada niatan bagi-bagi ke gue? Itung-itung selametan gitu karena ini awal kenalan kita." Tanya Bagas iseng dengan menaikturunkan alisnya menggoda Koko.
"Lo mau?"
"Mau dong. Kebetulan gue belum sarapan." Jawab Bagas dengan semangat 45.
"Ini ketiganya buat lo.. Makan aja sekarang, nanti siang sama nanti sore."
"Dan jam tangan ini sama kaos ini juga buat lo aja."
"Ini seriusan?" Tanya Bagas.
Koko menganggukkan kepalanya, "Serius lah."
Koko menunjukkan kaos dan kemeja yang ia gunakan dan memperlihatkan jam tangan mahalnya, "Gue udah pake kaos sama jam tangan juga. Mending itu buat lo aja."
Bagas dengan senang hati menerima pemberian Koko dan mereka berdua menjadi teman baik.
...🔥🔥🔥...
"Mampus!!" Gumam Koko dan berlari cepat berbalik arah menuju kelas Yogi dan Udin lalu masuk begitu saja.
Udin dan Yogi yang sedang membereskan tasnya dengan cepat menoleh dan menghembuskan nafasnya lega.
"Gue kira lo siapa anjing?! Ngagetin aja." Ucap Yogi.
Koko mengelus dadanya pelan dan mulai mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Lo kenapa lari kesini? Udah tau kelas lo sama kelas ini jauh.. Masih aja lari."
"Kayak lo nggak ada kerjaan aja." Lanjut Udin kemudian.
"Gas go home." Sahut Yogi dengan memutar gagang pintu yang ditarik cepat oleh Koko.
"Jangan dulu eh.. Bentar."
"Lah emang kenapa?" Bingung Udin dengan menatap Koko penuh keheranan.
"Cek jendela coba." Suruh Koko.
Yogi yang heran dengan sikap Koko dengan cepat menarik kursi lalu naik begitu saja.
"Bawa cewek su."
"Nah itu." Sahut Koko cepat yang membuat Udin dan Yogi semakin bingung.
"Mereka cewek lo semua apa gimana? Atau mereka deket sama lo semua dan nuntut kepastian dari lo."
"Wah gila nih anak." Lanjut Udin.
Koko menatap Udin dan Yogi bergantian, "Mata lo!! Gue bukan lo cewek ganti mulu." Ucapnya menatap Udin.
"Mereka buat komunitas cinta gue sama waktu di sekolah sama komplek rumah gue.. Berasa artis tapi gue juga risih."
"Wihh dapet banyak hadiah dong kayak biasanya."
Koko mengangguk sebagai jawaban yang tepat dari pertanyaan Yogi.
"Kata temen sekelas gue masih banyak lagi hadiahnya di pos satpam."
"Muka kayak tirek rejeki anoman emang lo." Ejek Udin dengan tertawa.
"Gue aja heran apa yang gemarin dari gue apalagi lo berdua." Jawab Koko kemudian.
Koko dengan cepat berdiri dari duduknya untuk mengintip semua cewek yang ada diluar dan mungkin siap menerkam dirinya.
"Terus hadiahnya udah lo ambil?" Tanya Yogi lagi.
Koko menggelengkan kepalanya cepat, "Ambil hadiah-hadiah dari semua cewek itu udah bagian lo berdua."
"Kenapa sih nggak lo terima aja dari mereka? Enak-enak tau." Ucap Yogi.
Udin menganggukkan kepalanya setuju, "Mana mahal-mahal juga lagi.. Hargailah sekali-sekali."
"Gue bukannya nggak mau nerima pemberian mereka cuma gue nggak mau aja mereka nuntut ke gue ke hal yang serius."
"Gue pernah pake salah satu parfum dari mereka dan lo liat kan endingnya. Mereka kepedean dengan pemikiran kalo gue pake pemberian mereka, anggapan mereka gue nerima mereka."
"Padahal nggak kayak gitu.. Alasan gue kan cuma menghargai nggak lebih."
Yogi dan Udin menganggukkan kepala dan memang benar yang dikatakan Koko barusan.
Kebanyakan memang penggemar Koko mengharapkan hubungan lebih bersama Koko.
Tapi tidak dengan Koko, membangun perasaannya yang hambar saja sulit apalagi berkomitmen untul sebuah hubungan?
Bagi Koko iti sangat menghambat segalanya.
Dengan Aga saja belum ada keyakinan itu perasaan cinta, sayang atau cuma suka.
Yang jelas, Koko menikmatinya hari dimana ia bercanda dengan Gatha secar virtual dan mempunyai pacar pura-pura secara nyata bernama Aga.
...🔥🔥🔥...