
...CERITA KEDUA NIH :)...
...SEMOGA SUKA HEHEE...
...IKUTI INSTAGRAM :...
...@finarsky__...
...FOLLBACK? DM!!...
...🔥🔥🔥...
"Kamu beneran mau sama yang di bilang oma kemarin Ko?" Tanya mama Koko, Desita Sari yang berjalan memasuki ruang makan dengan dua lauk-pauk di tangannya.
Koko yang awalnya menuruni tangga dan tangan yang sibuk mengancingkan bajunya dengan cepat mendongakkan kepalanya menatap sang mama.
"Oma? Oma kesini kemarin?" Tanyanya kemudian dengan kedua alis berkerut secara bersamaan.
Desi menganggukkan kepalanya cepat sebagai jawaban yang dilontarkan padanya.
"Adek kamu kok belum turun?" Tanya Desi kemudian.
Koko mengendikkan bahunya singkat, "Ayah juga kemana?"
"Ayah kamu ada urusan perusahaan hari ini.. Pagi-pagi banget tadi udah berangkat ke luar kota."
"FIKA.." Panggil Desi sedikit keras pada putrinya alias adek kandung Koko tepat berbeda satu tahun dengannya.
"Lagi siap-siap ini ma." Jawab Fika santai dengan berjalan menuruni tangga.
Mereka bertiga melakukan sarapan pagi bersama-sama dengan keadaan diam. Sedangkan Fika, kali ini tengah menatap Koko tanpa sepatah kata pun.
"Lo beneran mau di jodohin kak?"
Koko yang sadar bahwa Fika tengah mengajaknya berbicara dengan cepat memalingkan wajahnya, "Lo bicara sama gue?" Tanyanya kemudian untuk memastikan.
Fika menganggukkan kepalanya pelan dengan mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
"Gue baru aja lulus sekolah ya kali langsung nikah."
"Mana di jodohin lagi.. Dikira ini jaman Siti Nurbaya apa gimana?" Lanjut Koko seolah tidak terima.
"Mama kira kamu setuju kemarin."
Koko menghela nafasnya pelan, "Setuju darimananya mama? Aku malah nggak ketemu oma kemarin padahal kata mama kemarin oma kesini."
"Anterin aku ke sekolah yuk kak." Sela Fika cepat setelah menyelesaikan acara sarapannya.
"Lo bisa berangkat sendiri."
"Tapi aku mau dianterin kak." Sahut Fika cepat.
Koko berdiri begitu saja dari duduknya, "Lo selalu ngerepotin gue.. Untung adek." Gumamnya dengan greget lalu menatap Desi.
"Aku anter Fika dulu ma.. Nanti kalo oma nelfon terus bilang yang aneh-aneh atau suruh nikah atas perjodohan aku nggak mau."
"Aku belum bilang setuju ya kali langsung aja."
Desi menganggukkan kepalanya, "Kalian berdua hati-hati di jalan dan kamu Ko.." Jedanya dengan menatap Koko.
"Kamu nanti anter mama belanja ya, soalnya belanja bulanan kali ini banyak banget."
Koko menganggukkan kepalanya cepat lalu mulai bersalaman pada Desi yang diikuti oleh Fika di belakangnya.
"Naik motor sendiri bisa malah minta anter jemput udah kayak anak TK aja manja lo." Sindir Koko pada Fika bersamaan dengan menyerahkan helm padanya.
"Biarin lah.. Manja sama abang nggak ada salahnya."
"Nanti kalo udah punya pacar, aku nggak bisa manja lagi." Lanjut Fika kemudian dengan lirih serta memikirkan nasibnya yang akan tergeser jika Koko mempunyai pacar.
Koko tertawa begitu saja bersamaan dengan dirinya menyerahkan helm pada Fika, "Nggak akan kayak gitu Fika.. Kamu sama mama tetap yang utama."
...🔥🔥🔥...
"Lo darimana?" Tanya salah satu teman Koko, Udin.
Udin terkenal dengan jahil dan suka berganti cewek setiap harinya dan hampir satu sekolah semuanya bermain virtual dengan Udin alias chatting.
Sedangkan Yogi lebih cenderung ke sifat cuek namun peduli dan itu sebelas dua belas dengan Koko.
Bedanya, Yogi kini tengah setia dengan satu ceweknya walaupun ia berbeda agama sedangkan Koko sendiri sudah lama mati rasa terhadap cewek manapun.
"Gue habis anter adek gue ke sekolah." Jawab Koko singkat bersamaan dengan turun dari motornya memasuki warung kopi yang sudah langganan mereka bertiga selama 3 tahun terakhir.
"Gue sengaja belum lihat hasil dari pendaftaran kita bertiga di Universitas Adromeda.. Kita bertiga diterima nggak sih?" Ucap Udin tiba-tiba yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Yogi.
Koko mengendikkan bahunya singkat, "Kalo nggak di terima yaudah aja lah gue pasrah.. Gue nanti bakal bantu nyokap gue aja urus bisnis."
"Lo enak anak si pembisnis lah gue.."
Koko menatap Udin dan Yogi bergantian, "Nggak usah sok miskin lo berdua."
"Tapi dari kita bertiga duit lo yang paling banyak."
"Semuanya hanya titipan.. Syukurin aja." Jawab Koko cepat bersamaan dengan menghembuskan asap rokoknya.
Udin menatap Koko dengan serius kali ini dan entah apa yang terlintas di otaknya ia ingin bertanya sesuatu.
"Lo nggak lagi suka sama cewek kan Ko?" Tanyanya tiba-tiba yang membuat Koko mengalihkan pandangannya menatap Udin.
"Kenapa lo tanya gitu sama gue?"
"Ya cuma tanya aja apa salahnya sih.."
"Lagian juga kita temenan udah lama." Sahut Yogi kemudian yang diangguki kepala tanda setuju oleh Udin.
Koko hanya diam lalu menggelengkan kepalanya, "Gue udah nggak percaya soal cinta lagi. Semenjak Sasha ninggalin gue buat nikah sama oranglain, disitu gue udah hancur."
"Dan kalau pun gue sekarang ada pacar palingan juga gue nggep sebagai formalitas aja, semacam kayak sekedar punya ajalah tapi nggak ada rasa apapun." Jelas Koko kemudian.
Koko memang mempunyai masalah cinta yang rumit sebelum ia mengalami mati rasa untuk saat ini, dimana cewek yang benar-benar ia cinta bahkan bersiap untuk ia lamar menikah dengan oranglain dan meninggalkannya.
"Tapi lo selamanya nggak boleh kayak gitu." Sahut Yogi cepat.
Udin menganggukkan kepalanya, "Nggak selamanya kan lo harus kayak gini?"
"Hidup lo masih panjang kali dan nggak mungkin lo berhenti disini-sini aja apalagi lo masih berfikiran tentang dia dan itupun nggak guna sama sekali."
"Yang ada malah lo sendiri yang semakin benci sama perasaan cinta." Lanjut Udin menasehati Koko.
Koko hanya mengendikkan bahunya singkat dengan pikiran kosong dan bingung ia harus bagaimana.
"Ya kita tunggu aja waktunya.. Dimana gue nanti akan ketemu sama cewek yang bener-bener bisa nerima gue, lebih tepatnya nerima kekurangan gue."
"Gue juga bandel dibilangin mama, kluyuran sana-sini sampai nggak pulang, sering minum alkohol.. Dilihat aja nanti kedepannya."
"Cewek yang sabar dan nerima gue dan bisa bikin hati gue hidup, berarti dia orangnya." Jelas Koko kemudian.
Udin tersenyuk tipis bersamaan dengan berganti posisi tetap di depan Koko.
"Gue mau nunjukin sesuatu sama lo kali aja lo ada yang suka." Ucap Udin dengan menggeser layar ponselnya yang menampilkan semua foto cewek dan tentu saja cantik-cantik.
"Lo mau kenalan sama yang mana?"
"Kebetulan gue ada kontaknya." Lanjut Udin menawarkan pada Koko.
Koko menggelengkan kepalanya, "Gue nggak tertarik.. Bahkan gue udah lupa gimana caranya pendekatan."
"Lo emang cocok buat jadi biro jodoh su." Ejek Yogi kemudian dengan menghembuskan asap rokoknya.
Udin memutar bola matanya malas menatap Yogi, "Si paling sholeh pacarnya hamba Yesus.. Sehat kids?" Ejeknya kemudian yang membuat Koko tersenyum tanpa sadar.
"Kalo lo mau kenalan sama cewek, lo bilang gue aja.. Nanti gue kenalin sama cewek yang menurut gue terbaik buat lo."
Koko menganggukkan kepalanya, "Yess.. Nanti ya nanti tapi nggak tau nantinya kapan."
...🔥🔥🔥...