KOKO KRUNCH

KOKO KRUNCH
05 | MANIS



...IKUTI INSTAGRAM :...


...@finarsky__...


...FOLLBACK? DM!!...


...🔥🔥🔥...


"Gue minta nomor cewek dong." Ucap Koko tiba-tiba.


UHUKK..


BYURRR..


Udin yang tersedak asap rokoknya beserta Yogi yang tiba-tiba menyemburkan es kopi karena kaget dengan pernyataan Koko yang tiba-tiba.


Udin dan Yogi menatap ke arah Koko dengan pandangan tajam serta kecurigaan yang tinggi.


"Mau ngapain cari nomor cewek?"


"Nanti juga ujung-ujungnya lo yang bosen dan berakhir dengan penonton status doang." Sahut Yogi cepat.


Koko menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan bingung harus bagaimana menjelaskan kepada kedua temannya.


Jika Koko jujur masalah perjodohannya mungkin ia akan malu sendiri dan akan digunakan bahan ejekan lagi dan lagi oleh kedua sahabatnya.


"Gue pingin punya kenalan baru aja." Ucap Koko singkat lalu menyedot rokoknya kembali.


"Si paling mati rasa udah sembuh nih?" Goda Yogi kemudian dengan menaikturunkan alisnya menatap Koko.


Koko mengendikkan bahunya cepat, "Gue nggak si paling dan gue cuma mau nomor cewek doang.. Masak iya sih salah?"


"Bukannya lo kemarin nawarin gue Din?" Tanya Koko kemudian pada Udin.


Udin dengan cepat menganggukkan kepalanya lalu berdiri begitu saja berganti posisi tepat di depan Koko.


"Spek kaum hawa di ponsel gue nggak pernah ngecewain asal lo tau."


Udin mengeluarkan ponselnya, "Lo mau yang kayak gimana?"


"Lo lihat sendiri ada deh mendingan. Nama-nama kenalan gue banyak soalnya." Lanjut Udin kemudian dengan menyerahkan ponselnya pada Koko.


Koko membuang putung rokoknya begitu saja dan mengambil ponsel Udin dengan cepat.


"Ini segini banyaknya nomor cewek semua Din?" Tanya Koko dengan nada kaget begitu mulai menggulir ke bawah kontak di ponsel Udin.


Udin sendiri menganggukkan kepalanya dengan santai, "Gue emang terkenal sebagai biro jodoh.. Nggak tau juga gue kenapa banyak banget cewek-cewek yang chat gue."


"Bilangnya cuma simpan ya terus mereka sebut namanya masing-masing.. Yaudah deh gue simpan aja."


Yogi menggelengkan kepalanya heran menatap Udin, " Lo bener-bener buaya anjing."


"Buaya apa anjing? Kalo dua-duanya ya maaf gue nggak mau.. Gue tipikal orang yang nggak mau serakah."


Yogi tidak menanggapi lagi pertanyaa Udin namun dengan cepat ia mengacungkan jari tengahnya.


Sedangkan Koko sendiri masih menggulir beberapa kontak yang ada di ponsel Udin untuk melancarkan aksinya mempunyai pacar pura-pura untuk menghindari perjodohan sang oma.


"Lo suka cewek yang gimana sih? Nanti gue bantu cariin kontaknya.. Kalo fotonya sih ada di ponsel gue satunya." Ucap Udin pada Koko.


"Mau yang cantik atau gimana?"


Koko tersenyum tipis, "Bukan saatnya mandang fisik lagi sih sejauh ini. Yang cantik pasti jadi pilihan laki-laki sedangkan cewek pintar pasti memilih laki-laki."


"Masalah lekuk tubuh siapa sih yang nggak doyan, tapi kecerdasan menurut gue lebih bikin penasaran.."


"Alasannya simpel sih, karena isi kepala ada-ada aja sedangkan isi celana cuma itu-itu aja." Lanjut Koko kemudian.


Yogi dan Udin hanya melongo mendengar ucapan Koko yang memang benar adanya.


Karakter menjadi ciri khas utama untuk membentuk suatu hubungan yang bisa dibawa ke jenjang serius apalagi dengan usia yang sudah menginjak dewasa.


"Kelazz pake z banget sumpah.. Gue suka sama prinsip lo." Ucap Udin kemudian dengan bangga bersamaan dengan menepuk bahu Koko.


"Pemikiran dewasa lo emang woah banget anjay." Sahut Yogi dengan bertepuk tangan.


...🔥🔥🔥...


"Gue udah besar kak dan gue juga udah tau mana yang baik dan mana yang buruk." Lanjut Fika kesal pada Koko.


Koko yang awalnya keluar dari kamar mandi dan mengusap rambut basahnya tidak terpengaruh sama sekali dengan kekesalan Fika.


"Emang siapa yang bilang kalo lo masih kecil?" Tanya Koko kemudian bersamaan dengan mengambil sekaleng soda di lemari es lalu meneguknya.


"Gue juga keluar sama Jodie kak. Dia itu satu-satunya sahabat gue yang tulus."


"Bukannya sahabat lo banyak di sekolah?" Sahut Koko cepat dengan melipat kedua tangannya di depan dada penuh curiga.


Fika menggelengkan kepalanya cepat bersamaan dengan mendudukkan dirinya tepat diatas pantri dapur.


"Temen gue di sekolah nggak ada yang tulus kak, terus waktu kumpul yang di bahas cuma harta, liburan sama aset orangtua."


"Gue nggak cocok sama mereka."


Koko tersenyum sinis menatap Fika, "Bilang aja otak lo nggak mampu."


"Mampu kok.. Cuma ya gue masih kecil buat mikir gituan."


Fika menatap Koko tiba-tiba dengan pandangan mata yang tajam seolah ingin menerkamnya sekarang juga.


"Lo ngapain liatin gue kayak gitu?"


"Gue nggak akan kabur kemana-mana! Jadi, mata julid lo biasa aja dong." Lanjut Koko kemudian dengan menyentil pelan dahi Fika.


AUWW..


"Sakit dong kak.. Gila lo! Selalu kasar sama gue." Sungut Fika kemudian dengan mengusap-usap pelan dahinya.


"Ngomong-ngomong nih kak, mama mau adain makan malam bersama keluarga besar minggu depan dan pacar gue suruh ikut kesini."


"Pasti nanti ada oma juga.." Ucap Fika sengaja dijeda lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Koko.


"Gimana sama cewek lo kak? Mau alasan apalagi sama mama?"


Koko melirik Fika dengan sombong, "Gue udah ada cewek yang akan gue bawa ke mama asal lo tau."


"Affach iyachh? Spill dong siapa ceweknya?"


"Bukan urusan lo! Nanti juga lo bakalan tau siapa orangnya." Sahut Koko cepat.


Fika kembali menatap Koko dengan pandangan curiga, "Nggak bohongkan lo kak? Kalo emang nggak ada cewek gue akan bantu lo karena temen gue juga banyak yang jomblo."


"Waktu lo anterin gue ke sekolah aja temen-temen gue pada penasaran sama lo."


Koko menghela nafasnya pelan lalu meneguk kembali sekaleng soda yang ada di tangannya, "Gue emang cowok ganteng bikin penasaran.. Lo nya aja adek yang nggak bangga punya abang macam gue."


Fika memutar bola matanya cepat mendengar ucapan Koko, "Apanya yang dibanggain? Ganteng juga nggak sama sekali."


"Tapi ada sih temen gue yang bilang sama gue tentang lo kayak gini.." Jeda Fika yang membuat Koko mengerutkan keningnya karena penasaran.


Sedangkan yang Fika maksud dari temen adalah Agatha.


Agatha yang menganggumi Koko diam-diam semenjak awal mereka bertemu.


"Koko nggak putih juga nggak hitam. Dia manis kok."


"Ganteng belum tentu manis dan kalo manis sudah bisa di pastikan kalo dia itu ganteng."


Mendengar pernyataan tersebut dari Fika, Koko mendadak penasaran siapa yang bilang hal tersebut untuknya.


Koko dengan cepat berlari menaiki tangga mengejar Fika yang mulai memasuki kamarnya.


"FIKA.. KALO LO BILANG SIAPA DIA BISA DIPASTIKAN GUE AKAN BERIKAN APAPUN YANG LO MAU." Teriak Koko bersamaan dengan menggendor-gedor pintu kamar Fika.


"NO THANKS KAK!! GUE BELUM BUTUH APAPUN KALI INI."


Koko mengusap wajahnya kasar lalu mengumpat begitu saja karena rasa penasarannya.


...🔥🔥🔥...