
...IKUTI INSTAGRAM :...
...@finarsky__...
...FOLLBACK? DM!!...
...🔥🔥🔥...
"Uhuy lolos nih kita bertiga."
"Nggak nyangka aja udah mahasiswa dan masuk Adromeda lagi." Sahut Udin.
Koko hanya tersenyum tipis melihat namanya yang terpampang jelas di papan pengumuman Universitas Adromeda sebagai mahasiswa baru.
"Habis ini kita mau kemana nih?" Tanya Udin.
"Ngopi nggak sih enaknya? Atau nongkrong-nongkrong dimana gitu?" Usul Yogi kemudian.
Koko menganggukkan kepalanya, "Gaslah.. Gue di rumah juga nggak ngapain-ngapain kalo jam segini." Ucapnya dengan mata yang melihat jam tangan mahalnya.
Mereka bertiga melajukan motor besarnya ke tempat biasanya mereka nongkrong. Sebuah kedai kopi kecil yang bersih dan tidak terlalu ramai di ujung kota tempatnya.
Melihat Udin dan Yogi yang sedang asyik bermain game online membuat Koko bosan sendiri hingga pergi ke aplikasi chat dan stay di roomchatnya bersama Gatha.
Penasaran dengan wajah Gatha, Koko berfikiran stalking di sosial media milik Udin yang mungkin saja saling mengikuti satu sama lain, namun hasil yanh ia lihat berujung nihil.
"Gatha kenapa tertutup gini ya jadi orang? Mana foto profil whatsapp nggak ada.. Minta akun sosial media juga nggak di kasih."
"Semengerikan itukah gue?" Lanjut Koko bergumam dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Koko menatap Udin, "Lo ada sosial media Gatha nggak?"
"Nggak tau.. Lupa gue. Coba lo cari aja di sosial media gue." Jawab Udin lalu menghembuskan asap rokoknya.
"Chat dia aja kali ya.." Gumam Koko kemudian lalu membuka kembali roomchatnya bersama Gatha.
...Gatha...
^^^Gath..^^^
^^^Spill sosial media lo dong.^^^
Chat Koko langsung ke intinya karena ia sudah ada di ujung rasa penasaran yang tinggi.
Gue nggak ada sosial media.
Melihat balasan dari Gatha yang mengaku tidak mempunyai sosial media, membuat Koko heran sendiri.
"Seprivat apa sih kehidupannya?"
"Apa karena gue sama dia baru beberapa hari chat sama dia terua gue lancang gitu ya?"
"Tapi ya kali tanya sosial media doang nggak di kasih." Gumam Koko terheran-heran lalu menghembuskan nafasnya kasar.
Yogi yang sadar akan tingkah Koko dengan cepat menatapnya, "Lo kenapa bro? Gerah?" Tanyanya.
Koko menggelengkan kepala, "Nggak kok.. Gapapa gue."
"Gue pulang duluan ya.. Ada janji sama Fika mau anterin dia bimbel sore ini." Pamit Koko lalu pergi begitu saja meninggalkan Udin dan Yogi.
Udin hanya menganggukkan kepala dengan mata yang masih fokus menatap layar ponsel.
"Gue yakin sih kalo si Gatha berhasil masuk ke dalam hati si Koko."
"Alhamdulilah aja.. Biar nggak kesepian mulu tu anak." Sahut Udin kemudian.
...🔥🔥🔥...
"FIKA.."
"JADI DIANTERIN BIMBEL NGGAK?" Teriak Koko kemudian bersamaan dengan melangkahkan kakinya keluar dari garasi.
Melihat keadaan rumah yang sepi menbuat Koko mulai berkeliling mencari Fika.
"FIK-
BRUGH..
Koko yang tiba-tiba menabrak seseorang dengan cepat memeluknya erat.
Mata yang tenang, dingin namun memiliki luka yang samar-samar terpampang jelas di dalam sana. Itulah yang Koko lihat saat ini di mata Agatha, sahabat Fika.
"Maaf, gue nggak sengaja." Ketus Koko dingin dengan melepaskan pelukannya.
Agatha menganggukkan kepala pelan dan tampak canggung di antara keduanya.
"Lo ngapain disini? Fika kemana?" Tanya Koko tanpa basa-basi lagi.
"Gue udah teriakin Fika dari tadi tapi Fika nggak keluar-keluar.. Terus sama tukang kebun lo suruh masuk aja."
Koko yang mendengar hal tersebut dengan cepat memincingkan matanya menatap Agatha, lebih tepatnya meneliti penampilan Agatha kali ini.
"Gue baru masuk dan gue nggak ada niatan buat ambil apapun di rumah lo."
Koko hanya mengendikkan bahunya pelan tampak bodo amat dan percaya begitu saja.
"Lo duduk aja di ruang tamu.. Gue panggilin Fika bentar." Ucap Koko kemudian lalu pergi begitu saja menaiki tangga tanpa menunggu jawaban dari Agatha.
"Emang kutub tu anak.. Pake nuduh gue yang nggak-nggak lagi."
"Nyesel gue kemarin bilang kagum sama dia ke Fika." Gumam Agatha kemudian.
...🔥🔥🔥...
"Lo udah disini lama? Maaf ya gue nggak denger kalo lo panggil-panggil gue."
"Gue habis mandi soalnya." Lanjut Fika dengan merapikan rambutnya yang masih basah.
Koko sendiri dengan cuek membawa satu gelas es jeruk lalu memberikannya pada Agatha tepat di depan Fika.
"Buat lo." Ucap Koko kemudian.
Fika yang melihat hal tersebut hanya melongo bahkan tidak percaya jika abangnya melakukan pekerjaan rumah, walaupun itu hanya membuat minuman untuk tamu.
"Kok tumben.." Ucap Fika kemudian.
Koko yang sudah melangkahkan kakinya pergi dari ruang tamu mendadak berhenti begitu saja lalu menatap Fika.
"Bibi lagi keluar dan kalo cuma buat minuman gue masih bisa." Sahut Koko cepat dengan nada cuek lalu pergi begitu saja.
Fika hanya menghela nafasnya pelan, "Minum dulu Jo."
"Ini nggak mungkin di racun kan sama abang lo?"
"GUE NGGAK SEHINA ITU!!" Teriak Koko dari lantai atas begitu mendengar ucapan Agatha.
Fika dan Agatha hanya tertawa ringan begitu mendengar teriakan Koko.
"Btw, lo ngapain kesini sore-sore gini? Ada masalah?" Tanya Fika tanpa basa-basi lagi pada Agatha.
Agatha menggelengkan kepala dengan cepat, "Nggak kok Fik.. Cuma gue kesepian aja di asrama."
"Maunya sih gue tadi mau kasih kejutan sama lo dengan gue dateng tiba-tiba."
"Ehh.. Malah gue ketemu abang lo! Mana gue di tabrak terus di peluk-peluk lagi."
"Di peluk maksud lo?" Tanya Fika penasaran.
"Abang lo masuk rumah teriak-teriak terus jalan nggak pake mata apa gimana gue juga nggak tau, dia nabrak gue gitu aja."
"Gue sebagai cewek ya nggak mau lah jatuh.. Apalagi kalo jatuh pasti sakit. Yaudah gue tarik deh kaos abang lo."
"Terus abang lo juga reflek narik pinggang gue dan jadinya kita pelukan." Lanjut Agatha bercerita panjang lebar.
Fika tersenyum menggoda dengan mengedipkan satu matanya, "Deg-degan nggak Jo di peluk sama abang gue?"
"Pelukannya hangat nggak? So sweet banget anjir kayak drama korea."
Agatha memutar bola matanya malas, "Drama korea mata lo Fik! Sial banget gue yang ada."
"Kok bisa sih lo punya abang macam kutub kayak dia. Udah salah, minta maaf nggak ikhlas terus nuduh gue yang nggak-nggak lagi." Curhatnya lagi dengan menggelengkan kepalanya.
"Abang gue aslinya baik kok, dia punya sifat yang hangat kalo udah sayang apalagi cinta banget sama perempuan."
"Ya nggak tau nanti sampai kapan abang gue akan tetep sendiri.. Orang dia si paling mati rasa." Cibir Fika karena alasan Koko yang selalu mengucap mati rasa padanya.
"Lo ada cowok Jo?" Tanya Fika tiba-tiba pada Agatha.
"Sejauh ini sih gue masih sendiri.. Bagi gue mencintai seseorang adalah beban. Tapi kalo mengagumi seorang cowok nggak ada salahnya."
"Contohnya lo yang sekarang terkagum-kagum sama abang gue."
Agatha tersenyum kecil dengan menggelengkan kepalanya, "Agak berkurang kagumnya.. Abang lo kayak singa kutub."
"Tapi gue ada sih temen chat cowok, gue kenalnya beberapa hari yang lalu dan itu juga hasil kenalan dari salah satu temen gue juga."
"Dia asyik sih di chat tapi yang nggak tau gimana nanti kelanjutannya."
Fika memincingkan matanya, "Lo virtualan gitu?"
Agatha menganggukkan kepalanya, "Ya mau gimana lagi? Dinikmati ajalah dulu.. Dia belum tau gue yang asli dan gue juga belum tau dia yang asli."
"Di ikutin aja alur cerita virtualnya.. Nanti endingnya gimana ya udah di terima aja." Lanjut Agatha kemudian bersamaan dengan membalas chat cowok virtual yang akhir-akhir ini mendekatinya.
Dan cowok virtual tersebut adalah Adi.
Koko Wijaya Adibaskara!!
...🔥🔥🔥...