
...IKUTI INSTGRAM :...
...@finarsky...
...FOLLBACK? DM!!...
...🔥🔥🔥...
"Gue sekarang harus gimana coba? Mana gue nggak lagi deket sama siapa-siapa lagi."
Koko memalingkan wajahnya ke belakang menatap Fika sekilas, "Lo sih pake acara bilang double date segala.. Mampusnya di gue sekarang." Lanjutnya kemudian.
Koko dan Fika kali ini tengah pergi menuju tempat karate dimana Desi telah memasukkan kedua anaknya ke dalam seni bela diri.
Fika yang berada di jok motor belakang hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun yang keluar dari bibir Koko.
"Halah gitu aja panik. Di tempat latihan juga banyak cewek kali kak, tinggal ajak satu terus kenalin ke mama kan beres.. Udah."
"Tapi nggak segampang itu." Sahut Koko cepat.
"Bilang aja mandang fisik." Sewot Fika kemudian.
"Gue bukan tipe cowok kayak gitu asal lo tau aja."
Fika hanya tersenyum sinis dengan memutar bola matanya malas menatap Koko lalu turun begitu saja dari motor dan mulai berjalan memasuki tempat latihan.
"Terus ini gimana kelanjutannya?"
"Inget!! Ini juga ulah lo." Lanjut Koko bingung dengan berjalan cepat mengikuti langkah Fika.
Fika berjalan semakin cepat menuju ruang ganti, "Nanti kak.. Gue cari solusinya nanti."
"Gue akan bantuin lo cari cewek yang bisa diajak kerjasama dengan berpura-pura jadi pacar lo."
"Terus gue harus pura-pura sayang gitu sama dia? Cinta juga?" Tanya Koko cepat dengan nada bicara kaget.
Fika menganggukkan kepalanya penuh semangat, "Yupss.. Bener kak! Itu nggak akan susah gue jamin."
"Selama lo bisa kerjasama buat akting sama cewek yang nanti gue cari, kita semua aman.. Terutama lo yang bebas dari acara perjodohan oma."
"Tapi kita bohongin mama asal lo tau.. Nggak! Gue nggak mau."
Fika tertawa mendengar ucapan Koko, "Kalo nggak mau bohong ada satu cara kak yang mungkin lebih bikin lo beruntung seumur hidup dan bebas dari jeratan oma."
Koko memincingkan matanya cepat mendengar hal tersebut dan mulai bertanya-tanya pada Fika.
"Lo cari pacar beneran terus bawa pulang.. Langsung deh gue jamin sama mama di lamarin ke orangtuanya." Jawab Fika cepat lalu memasuki ruang ganti begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Koko.
Fika sendiri terkekeh geli di dalam ruang ganti setelah berhasil membuat sang kakak diam melongo dan tidak berkutik.
...🔥🔥🔥...
"Hai Jo.. Lo ikut latihan disini juga?"
"Udah dari kapan? Kok gue nggak tau." Tanya Fika begitu memasuki area latihan dan melihat sahabat lamanya, Agatha Jodie.
"Eh ada lo Fik.. Tetep nggak berubah ya."
"Btw, Agatha Fik bukan Jo atau Jodie." Lanjut Agatha kemudian.
Fika menggelengkan kepalanya cepat, "Semua orang panggil lo itu Agatha dan gue tetep mau beda kayak dulu, Jojo." Sahutnya kemudian.
Agatha hanya menghela nafasnya pelan dan pasrah saja akan Fika yang tidak bisa berubah dengan memanggil dirinya Jodie.
"Btw, lo udah lama ikut latihan disini? Kok kita nggak pernah ketemu sih.. Lo juga tambah cantik mana seksi lagi."
"Terus rumah lo pindah dimana? Mama lo gimana? Sehatkan?" Lanjut Fika bertanya banyak pada Agatha karena mereka berdua memang lebih dari sekedar sahabat dan sudah seperti saudara.
"Baru beberapa kali Fik dan ikut disini juga karena pihak sekolah, lo tau sendirikan ekonomi keluarga gue gimana."
"Kalo cantik sama seksi mah ya nggak juga asal lebih bersyukur aja di kasihnya gini sama sononya."
Agatha menghembuskan nafasnya pelan, "Gue udah pindah rumah Fik dan mama baru meninggalkan beberapa bulan yang lalu." Lanjut Agatha dengan tersenyum tipis untuk menutupi kesedihannya.
Fika reflek menutup mulutnya kaget lalu dengan cepat memeluk hangat tubuh Agatha, "Lo pasti bisa! Gue turut berduka cita ya Jo, maafin gue yang nggak bisa dateng kesana."
"Gue yang ngalamin duka kenapa lo yang nangis dodol.. Udahlah dijalanin aja, lagian gue juga udah ikhlas kok."
"Pokoknya lo harus tetep jadi temen baik gue! Mau nggak mau lo harus mau."
Agatha menganggukkan kepalanya cepat, "Yang nerima cewek cerewet sama pecicilan kayak lo buat jadi temen baik kayaknya cuma gue doang deh Fik."
"Nggak ya enak aja! Temen gue banyak tapi yang ba-"
"Fika.. Ponsel gue lo taruh dimana?" Tanya Koko yang tiba-tiba datang dan membuat Fika tidak meneruskan ucapannya.
Fika mengeluarkan ponsek Koko dari sakunya, "Ini kak."
Koko menerima ponsel tersebut dengan cepat dan tanpa melihat Agatha yang bahkan tepat di depannya.
"Eh kak tunggu.."
"Kenapa lagi?" Tanya Koko cepat saat lengannya di tarik oleh Fika.
Fika menatap Agatha dan Koko bergantian, "Kenalin kak, dia temen aku dan mungkin seumuran sama lo.." Jedanya kemudian menatap Agatha.
"Jo, kenalin ini abang gue."
Agatha terpesona oleh ketampanan Koko yang terkesan tegas dan dingin hingga menbuatnya terdiam tanpa berkutik.
Koko dengan cepat mengulurkan tangannya sedangkan Agatha sendiri dengan ragu-ragu membalas uluran tangan tersebut.
"Koko, panggil aja Koko."
"Agatha, panggilnya terserah lo aja."
Koko menarik tangannya cepat lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda pamit untuk pergi.
"Sejak kapan lo punya abang? Kok gue nggak tau." Tanya Agatha cepat pada Fika.
Fika tersenyum tipis menatap Agatha, "Lo suka ya sama abang gue.. Cie suka abang nih."
"Gapapa kalo suka, kan lo seumuran sama dia."
Agatha hanya tertawa mendengar ucapan Fika, "Sukanya suka Fik, abang lo kelihatan dingin sama cuek tapi nggak lah."
"Abang lo nggak boleh sama gue dan gue nggak boleh sama abang lo." Lanjut Agatha kemudian.
"Kenapa? Kok gitu?" Tanya Fika cepat dengan memincingkan matanya menatap Agatha.
Agatha menggelengkan kepalanya, "Kita beda kasta Fika, apalagi masalah ekonomi.. Itu nggak bisa."
"Dan gue nggak ada niat buat pacaran."
"Tapi kalo mengagumi gapapa kali ya, mengagumi dan harus sadar diri itu penting." Lanjut Agatha kemudian.
Fika hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari ucapan Agatha.
"Tapi permasalahan ekonomi dalam suatu hubungan itu nggak penting Jo.. Abang gue nggak mandang apapun kalo udah suka sama cewek."
Agatha tersenyum tipis lalu merangkul bahu Fika yang lebih pendek darinya, "Bocil nggak boleh bicara aneh-aneh."
"Tadi bilangnya gue seumuran sama abang lo, lo panggil abang lo kakak kenapa lo panggil gue cuma Jo doang."
"Harusnya lo panggil gue itu kak Jo gitu."
Fika tertawa sepanjang perjalanan menuju ruang latihan khusus area cewek, "Jo lebih akrab dan lebih ke panggilan sayang."
"Jo.. Mau tanya boleh?"
"Gue sama abang gue masalah muka mending yang mana?"
Agatha mengusap pelipisnya pura-pura berfikir, "Abang lo lah, kan gue mengagumi abang lo.. Mengagumi lo apanya yang di kagumi adick Pika yang cantik."
Fika memukul lengan Agatha pelan, "Setidaknya kata cantik barusan terlontar dari bibir lo kakack Jo."
...🔥🔥🔥...