
"Jujur Pada Saat malam itu, saya ntah kenapa ga bisa ter tidur, kata bapak Dewo.
"Sepertinya mata saya ini susah aja untuk di tidurkan, sudah lama pun saya pejam kan masih saja tidak mau tertidur.
"Di tambah lagi sekitaran pukul 2 pada saat itu cuaca sedang hujan, walau tidak terlalu deras.
"Kok jadi horror ya, kata anak-anak yg pada saat itu mendengar kan.
"Ih apa itu Ndre di sebelah mu, kata Madi kepada Andre.
"Eh udah diam dulu, dengerin dulu ceritanya, kata Andre.
"Trus pak, apa yg membuat perasaan bapak pada saat itu terasa aneh, kata Gua.
"Dan ternyata benar perasaan saya pada saat itu, kata bapak Dewo .
Sambil kami mendekati lagi bapak dewo, karna penasaran.
"Beberapa menit setelah itu, hal yg tidak ingin, dan tidak terduga pun timbul seketika, sambil melanjut kan ceritanya.
"Apa itu pak?, tanya Gua pada saat itu yg semakin penasaran.
"Ternyata Saya Sakit perut, Kata pak dewo.
"Wkowkowkwow.........tertawa anak-anan pada saat itu sepontan lepas.
"Aduh pak kirain ada apa, kita udah serius juga, kata Andre.
"Srius saya sakit perut, Saya kebelakang dulu ya, nanti saya lanjutin lagi ceritanya, setelah ini, kata pak Dewo, sambil terburu buru ke kamar mandi.
"Serius pak, brarti ini ceritanya beneran, kata Andre kepada pak dewo yg saat itu sambil meninggal kan kami.
"Iya bentar, saya ke kamar mandi dulu, abis itu saya ceritakan lagi, teriak pak dewo sambil berlari menuju kamar mandi.
Seketika Gua dan anak anak saling menatap,..
"Ah Ga ada itu semua, Omong kosong sama gitu gituan, emang sih, Gua percaya tapi bukan untuk di takuti, apa lagi kita ramai begini, kata Madi saat itu.
"Iyalah Masa Genk Star takut sama setan!, ahhh ga ada itu, sambut Asyrol.
Kami pun menikmati makanan dan minuman yg sedari tadi kami cuekin karena tujuan terfokus kepada cerita pak Dewo.
Jangankan makan, apa lagi minum, yg dingin tadi menusuk sampai ke tulang, seketika hilang karena cerita pak Dewo.
Gua pesan pop mie, dan ternyata sudah dingin, bahkan teh panas yg gua pesan juga udah dingin, sial banget dah.
Beberapa saat setelah kami menikmati makanan, pak Dewo pun kembali dari kamar mandi.
"Gimana? Kita Lanjutkan yg tadi, kata pak Dewo.
"Lanjut lah pak, jadi dari tadi kami nungguin bapak di sini buat apa, kata Madi.
"Eh pak Sebentar, gimana kalau ceritanya kita lanjutin nanti setelah kami turun dari atas, soalnya udah hampir jam 5 subuh pak, takutnya ga terkejar Sunset nya, sambil Gua tunjukin jam yg ada di Hp Gua.
Sontak anak-anak kaget pada saat itu.
"Srius udah hampir jam 5, yaudah ayuk buruan habiskan makan sama minum kalian, biar kita langsung naik ke atas, kata Andre.
Kami pun segera menghabiskan makanan yg kami pesan, lalu membayarnya.
"Pak di atas ada pendaki ga pak? tanya Exel pada saat ingin berangkat naik.
"Kayanya ada sih, 2 orang, tapi kalau mau pastinya coba dulu naik ke atas, kata pak dewo sambil tertawa.
Dalam Hati Gua, "Sial ni bapak masih sempet sempet nya nakutin kita.
Kami pun segera menuju ke atas puncak, untuk menikmati indahnya Sunset.
Medan yg cukup terjal, tidak begitu menyulit kan kami, tapi tetep harus di perlukan ke hati hatian di sini, soalnya pendaki profesional sekalipun jika sudah menyepelekan medan yg ingin di daki, pasti bisa saja terkena na'asnya.
Jujur walau kami sudah sering ke sini, kami ga pernah mau ceroboh.
Sepintas otak Gua terngiang-ngiang dari cerita pak Dewo.
Karna setau Gua dulu, itu pos penjagaan pertama ga boleh kosong, karna setiap pendaki harus di data di sana.
pos penjaga ke 2 berbeda lagi tugasnya, memang kalau pos penjaga ke 2 hanya sekedar mengatur keperluan logistik pendaki yg mau bermalam(Camp) di atas puncak, terkecuali jika keadaan sedang darurat.
"Ah sudah lah, kenapa Gua harus mikirin itu, toh juga kalau benar rombongan kami ramai kok, batin Gua.
Lagian kan Gua belum dengar ceritanya sampai selesai, jadi blum tau Gua kebenaran dari ceritanya.
Sekitaran 30 Menit kami berjalan tepat pukul 05:50, kami pun tiba di puncak Gunung Sibayak,
Terlihat perlahan mata hari menaiki langit dari kejauhan.
Sumpah ini itu indah banget, walau gua udah sering ngeliat yg beginian, tapi ntah kenapa Gua ga pernah ada bosan Bosanya.
Gua liat anak anak yg lain tengah asik menikmati Sunset, ada yg mengabadikanya dengan cara berfoto, ada juga yg video, menggunakan kamera masing masing.
Sejenak kami memperhatikan proses terbitnya mata hari, sambil membakar sebatang Rokok, Wajarlah kondisi dingin di atas memaksa kami untuk itu.
Yah lu taukan Gimana dinginya suasana di puncak Gunung, selain merapatkan badan, cara ini efektif buat kita untuk menghangat kan tubuh, agar terhindar dari Hipotermia.
"Hufff Indah banget sebagian Ciptaan Tuhan ini, batin Gua sambil memperhatikan Sunset.
Hingga Akhirnya Terlihat Mata Hari penuh, tapi masih berada setara dengan posisi kami di puncak.
Gua liat ke arah jam Hp udah pukul 7, ga kerasa ya.
"Yuk kita turun, kata Gua.
Tanpa basa basi anak anak pun turun, dengan langkah mereka yg tergesa gesa.
Gua heran apa yg di kejar anak anak sampai mereka berjalan tergesah gesah.
"Hmmm, pasti kelanjutan cerita dari pak dewo tadi.
"Sampah woi jangan sampai mengotori Area puncak, percuma Sekolah sampe tamat kuliah 15 tahun, kalau sampah aja masih di buang sembarangan Kata Andre.
Kami pun turun, bergegas menuju kebawah sambil membawa sampah kita masing masing, 15 Menit perjalanan menuju ke pos 2 Sontak kami mendengar.
"Ngapain kita genggamin sampah masing masing, tadikan di atas ada tempat sampah, kata Andry.
"Hah Srius lu Ndry, kata Anak anak.
"Lah trus lu kenapa genggam tuh sampah, kalau di atas ada tempat sampah, Kata anak anak.
"Ya karena Gua liatin kalian pada genggam sampah masing masing, ya Gua ngikut, kata andry.
"Lagiankan kita bukan pendaki terakhir, masih ada kok 2 Camp lagi, di atas tadi, lanjut kata Andry.
Seketika Anak anak pada saat itu terheran melihan Andry, Jujur Gua heran.
"Ini anak Baru pulang dari Jakarta kok jadi aneh, dalam hati Gua.
Seketika pada saat itu juga Madi pun Menyuruh anak anak untuk melanjutkan perjalanan menuju ke bawah, agar segera sampai ke pos penjagaan ke 2.
"Yaudah yuk lanjut turun, kata madi.
Jujur Gua pribadi, sedari tadi Gua memperhatikan di sekeliling puncak, bahkan sampai memperhatikan Anak anak satu per satu, Gua ga ada melihat yg namanya Camp pendaki di puncak, apa lagi orang sedang nge Camp.
Jujur ini Aneh Sih, tapi Gua liat anak anak pada saat itu tidak ingin membahas masalah ini di sini.
makanya ketika Andry mengucapkan apa yg dia lihat, anak anak tidak begitu ambil perduli.
Mungkin di rumah, atau ga di lokasi tingkrongan aja kali ya nanti Gua dan anak anak bahas masalah ini.
30 Menit perjalanan pun telah kami lalui, sesampainya kami di pos penjagaan ke 2 kami pun ber istirahat sejenak, sambil memesan minuman di warung nya pak Dewo.
"Pak biasa " kopi, kata Gua.
"Sama pak Gua juga, kata anak anak yg lainya.
"Pak sambil lanjut carita yg tadi terputus ya pak, kata Andre.