KALONG (King At Long Night)

KALONG (King At Long Night)
Awal Perkenalan



Nama gua Vito.


Gua anak dari keluarga kaya, tapi bukan dari lahir.


Karna keluarga gua butuh proses untuk itu, tapi sayangnya keluarga gua broken home.


Dan dari permasalahan yg sering terjadi di keluarga gua, Membuat gua memutuskan untuk pergi dari rumah, dan memulai kebebasan baru.


Tapi gua sadar, di sini gua ga bisa sendiri di kota yg besar dan terkenal bringasnya.


Ibarat semut yg terjebak di lingkaran bagus kapur ajaib, loe tau kan kalau semut itu coba-coba trobos itu lingkaran, pilihanya 2, selamat atau MATI!


Tapi gua orang yg tidak senekat itu yg memilih hanya 2 pilihan, antara hidup dan mati.


Makanya gua memilih untuk mencari teman-teman lama ataupun teman baru yg memiliki power baik itu di belakang, ataupun di depan gua.


Rahmadi, atau yg sering dipanggil JO.


Salah satu temen gua dari kecil, yg bahkan kita itu sudah berteman sejak dari rahim.


loe bayangin seberapa deketnya kita, tapi sayangnya keluarga gua ga pernah setuju kalau gua berteman sama dia, dengan alasan dia anak yg terlalu bandal, dan sedikit brutal.


Andre kita sering manggil Dio.


Anak dari keluarga terkenal di medan, dan dia punya bakat beladiri, ya karna dia sensei karate di tempatnya.


dan gua kenal dia awal mula dari temen gua yg barusan gua ceritain, ya si rahmadi.


Benny, dia ga punya nama julukan, tapi diantara kita benny anak yg paling ganteng.


Menurut kita, ga tau menurut yg lain, gua ga begitu mengenal banyak tentang benny, karna dia anak perantauan, dan gua kenal dia dari temen-temen gua Rahmadi, dan Andre, gua tertarik sama benny karna dia punya badan yg besar, dan jiwa humor yg tinggi.


Asyrol, anak dari seorang pedagang kaki lima, gua ga begitu tau tentang ini anak sih, yg pasti ini anak paling senang dengan yg namanya keributan, dan dia punya selera humor yg tinggi, walau sering kami bully.


Rizwan, gua ga tau banyak tentang ini anak, yg pasti di antara kita sebenarnya dia yg paling sukses, karna dia sarjana hukum, tapi lebih memilih kebebasan sebagai simbol tanpa pengekangan, begitu alasan dia.


Wira, dan dia yg terakhir, yg paling muda, dan yg paling pendiam.


Gua kenal dia ketika gua singgah di suatu warnet (warung internet), dan dia sebagai oprator penjaga warnetnya.


Walau gua baru mengenal ini anak, tapi gua udah cukup mengetahui seluk beluk dia, dan keluarganya.


Dan kita semua punya tujuan yg sama, tinggal di kota besar, dan menjadi orang besar di dalamnya.


Tapi sayang, besarnya kita di kota bukan sebagai orang yg di pandang karna sebuah kesuksesan, melainkan sebaliknya, sebagai mana kota ini kerasnya, seperti itulah kami kerasnya di jalan.


ketika salah satu berkomando berteriak, "hari ini, detik ini, pukul ini, lokasi di sini kita bergerak tempur"...


sontak semua akan terjun bertempur.


Bukan tanpa alasan kami seperti ini, pengalaman akan kerasnya jalan yg mengajarkan kami seperti ini, bukan tidak mau kami hidup normal, tanpa di hantui rasa kepanikan, dan was-was kapan suatu saat kami di serang, jauh sebelum ini kami juga hidup layaknya orang-orang normal pada umumnya, bekerja pada layaknya orang normal, dan dari hasil keringat yg halal, bukan seperti saat ini, hasil dari darah yg menetes.


Gua pernah hidup normal, tapi di balik hidup normal gua, tiap hari gua mengalami kekerasan, bukan dari jalanan, tapi dari keluarga gua, karna keluarga gua keluarga broken home, jadi apa bedanya menurut gua antara suasana rumah dan jalanan?


ga ada yg beda, keduanya keras!!


Suatu ketika kita pernah nongkrong di suatu kafe di medan, di situ ada Madi, Andre, Asyrol, Rizwan, Benny, dan Wira.


kita pernah cerita-cerita dengan candaan kita masing-masing agar memecahkan suasanan.


anak-anak yg lain lagi santai bercanda dengan candaanya, sambil gua meratiin satu-satu dari temen gua, hingga akhirnya pandangan gua tertuju pada madi, yg dari tadi cuman memperhatikan yg lain, padahal diantara kita dia yg anaknya paling brisik, paling bisa memecah suasanan jadi tawa, bahkan semut yg cuman lewat doang, bisa di jadiin joke yg mengundang tawa, sanking bangsadnya ini anak kalo udah bercanda.


sontak gua penasaran sambil gua bilang "ente kenapa di", kok dari tadi diam aja kaya orang penyakitan?"


sontak madi ngomong, "gpp bre lagi kurang enak aja suasananya malam ini"


seketi anak-anak yg lain berhenti dari candaanya setelah mendengar madi berbicara "suasana malam ini kuran baik"


sontak temen gua andre bilang "emang kenapa?" mau mati kau rupanya?"


canda andre untuk memecah suasana agar tidak terlalu tegang.


Gua bertanya untuk ke 2 kalinya "emang kenapa cerita sama kita, kau kalo punya masalah jangan sendiri-sendiri kita ga pernah dari awal kenal itu ada masalah, selalu di selesain sendiri, pasti bareng.


"kita itu udah bareng sama-sama dari 2015, kalo aku pribadi sama mu udah bareng dari kecil, jadi kalo kau ada masalah kami itu tau, dan masalah mu udah pasti jadi masalah kami juga, yg kami mau tau masalahnya ini apa?"


Semua kata-kata gua keluarin supaya madi mau cerita tentang masalahnya kekita, tapi apadaya sampai sekitar 20menit kami menunggu ga ada sepatah katapun terlontar dari mulut madi, yg kami fikirkan pada saat itu kenapa madi ga mau cerita tentang masalahnya, itu karna cewe, yah mungkin dia malu untuk di ceritakan.


sampe temen gua asyrol bilang "bg madi kalo udah ga mau cerita gini apa lagi sampe diem, biasanya karna cewek".


sambil tertawa agar suasana pecah kembali.


dan hasilnya kami kembali dengan perbincangan kami masing-masing sambil menunggu apa yg akan terucap dari bibir madi.


Dan benar saja sesaat setelah suasana sudah mulai kembali normal yg lain pada asik dengan candaanya masing-masing, semua terdiam seketika, dan saling menatap satu sama lain ketika madi bilang "Malam ini ada yg harus kita serang!!".......


Dan sontak ketika madi mengucapkan kata tersebut, Asyrol pun ingin berkata, namun mulutnya di bungkap oleh ke 2 tangan andre, karna andre ga mau ada pembahasan lain di situ kecuali 1 perintah komando "Serang".


Dan di sini kami memulai.