
Malam tepat pukul 22:30, Gua liat anak-anak tengah mempersiap kan persiapan masing masing.
Yah maklum kami berencana ke puncak dini hari ini.
Hasil musyawara menentukan kita berangkat pukul 01:00 menuju puncak, di karenakan banyak tempak yg ingin kami singgahi, termasuk permandian air panas yg biasa di sebut Debu-debu.
Gua pun segera melengkapi keperluan Gua, mengisi ransel Gua dengan kebutuhan Logistik, maklum Gua harus bawa makanan dari Medan, soalnya Kalau sudah di puncak, harga makana jauh lebih mahal, bahkan bisa 3 kali lipat dari harga normal.
Bukan cuman Gua, anak-anak yg lain juga sama.
"Oke, Baju sudah, celana juga sudah, makanan sudah, Batin Gua.
"Odol, pasta Gigi, shampo, sabun, Aman, batin Gua lagi.
Segera Gua naikan ransel Gua ke punggung.
"Gua turun duluan ya, kata Gua kepada anak-anak yg pada saat itu tengah mempersiap kan kebutuhan mereka masing masing.
Gua pun bergegas menuju kebawah menghanpiri joki motor Gua, Madi seperti biasa Gua selalu berboncengan Dengan dia, ntah kenapa, Setiap Madi ngendarain motor selalu, ugal-ugalan, Tapi Gua selalu nyaman berada di boncenganya.
"Mad udah selesai lu, Kata Gua ke madi.
"Udah dari tadi, lu aja yg kelamaan.
"Yaudah yuk Cabut, kata madi.
"Bentar kita barengan sama anak-anak yg lain, kata Gua.
Sambil menunggu anak-anak yg lain selesai dengan persiapanya, Gua, Mandi, Andre, Adit, Rian, dan Wira pada saat itu yg terlebih dahulu selesai reparasi, ngobrol-ngobrol sejenak.
Gua liat jam di dinding 00:58 hampir tepat pukul 1 dini hari.
"Ayo Guys Buruan udah mau jam satu ini, teriak Benny kepada anak-anak yg masih bersiap-siap.
Hingga Akhirnya Pukul 01:15 Semua Anak-anak selesai dengan persiapanya, kami pun segera bergegas menuju motor kami masing-masing untuk berangkat.
"Yaudah Sebelum Berangkat, Mari Kita berdoa menurut Agama, dan kepercayaan kita masing-masing, Kata Gua.
Seketika anak-anak membentuk lingkarang, sambik berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Kita pun menaiki motor kita Masing masing.
"pegangan bro, biar ga terbang, kata Madi.
"Oke, aman skuy lah, jawab Gua.
Kami pun berangkat, meninggalkan Bascamp, menuju puncak.
Sebenernya Hidup seperti ini itu jauh lebih normal, ketimbang harus bertarung dengan pahitnya jalanan.
Tapi entah kenapa setiap kami ingin memulai segalanya dengan normal, pasti ada aja masalah yg memaksa kami agar, kami tidak bisa terhindar dari yg namanya kekerasan.
Brutalnya jalanan, Rawanya Dunia malam, seolah-olah telah berada di samping kami, yg setiap saat, dan kapan saja siap menyenggol kami.
Jujur perjalan antara Kota Medan menuju puncak Gunung Berastagi itu luman, tapi berhubung kami mengambil waktu dini hari, jadi jalanan yg sepi membuat kami tidak terlalu lama, lumayan memangkas waktu.
Yg seharusnya perjalanan itu 2 jam, bisa kami pangkas menjadi 1 jam setengah.
"Bro ngobrol lah, jangan diam aja, kata madi yg melihat Gua sedari tadi melamun.
"Eh lu Mad, buat kaget aja, jawab Gua.
"Lu sih melamun aja, nanti kesurupan lu" kata Madi.
"Dingin Mad, jagankan ngobrol, gerakin jari aja susah ini, kata Gua.
"Makanya lu udah tau kita mau ke puncak, malah ga pakai jaket, udahlah Badan lu ramping, ketiup angin malam lagi, ya menggigil, kata madi pada saat itu.
"Yah mana Gua Tau, Gua kira Ilmu Gua yg dulu masih ada, rupanya udah kosong, canda Gua ke madi.
"Eh Vit, bakarin Rokok donk, semakin ke atas semakin dingin, kata Madi.
Maklum medan yg kami lalui terus menanjak naik,
"Nih Rokok Lu, kata Gua.
"Lu ga ngerokok, kata Madi.
"Iya ini kan Gua lagi bakar, buat Gua.
Sambil Gua Bakar rokok, Gua liat ke arah belakang, terlihat Anak-anak yg lain berada tepat di belakang kami.
Kami itu sekali bergerak memiliki pasukan yg antusias ramainya, sampai orang yg melintas jika melihat kami, pasti mereka mengira, kami ini genk motor.
Padahal kami paling anti dengan yg namanya genk motor, apa lagi kekerasa tanpa sebab, dan tidak seimbang, yg biasanya di lakukan oleh beberapa genk motor arogan.
Kembali pandangan Gua arahkan ke depan, seketika Gua liat di depan Gua ada beberapa Komunitas Vespa tengah berhenti, mungkin mereka sedang beristirahat dari perjalanan yg panjang.
Nah ini, salah satu Komunitas Motor terbesar Vaspa.
Ntah kenapa Gua selalu repect dengan mereka, banyak Hal-hal positif yg Gua bisa ambil pelajaran dari mereka, contoh kecilnya, ketika ada motor yg mogok, mereka selalu dengan sukarelawan tanpa melihat siapa orang itu, jika sedang membutuhkan pertolongan, seketika mereka toling.
"Salam Satu Aspal, Teriak Gua kepada Anak-anak motor vespa yg pada saat itu tengah menepi di pinggir jalan.
Sontak anak-anak yg berada di belakang Gua juga ikut berteriak dengan kata-kata yg sama.
"Salam" Sontan balasan teriakan dari anak-anak vespa pada saat itu.
Gua liat jam di Hp gua, sudah pukul 02:10 Hampir 1 jam kita di perjalanan, dan ini masih lumayan jauh menuju persinggahan kita pertama.
"Kita ke pemandian air panas Debu-debu dulukan", kata madi.
"Mana Gua tau, Tadi instruksinya gimana, kata Gua.
"Tadi kata Andre sih Gitu", jawab madi.
"Yaudah, Tancap gas terus Buar cepet sampe, udah dingin soalnya", kata Gua ke Madi yg seketika itu yg langsung menancapkan gas motornya.
Kami ini layaknya kalian, kami ini bisa menempatkan posisi kami harus gimana.
Ga selalu hari hari yg kami lalui itu penuh dengan kekerasan, layaknya seekor semut, kalau semut itu ga di usik, pasti dia ga bakalan ngusik, tapi kalau semut itu di usik, walaupun kecil pasti dia melawan, walau hanya menggigit.
"Coba liat anak-anak di belakang, tertinggal jauh ga, tanya Madi.
Gua pun Melihat ke arah belakang.
"Masih keliatan kok, jawab Gua.
"Kita udah mau nyanpe ini, Gimana? kita masuk Duluan, kata madi.
"Barengan aja, biar tiket masuknya, sekalian barengan" kata Gua.
Seketika Madi pun Melambatkan Motornya, agar sejajar dengan anak-anak yg lainya yg pada saat itu berada di belakang kami.
"Mana yg lain, masih jauh di belakang, kata Madi kepada Benny, yg tepag berada di belakang kami, setelah kami melambatkan Motor.
"Iya bg, lumayan jauh tertinggal, kata benny.
"Yaudah kita tunggu aja anak-anak yg lain, sini minggirin dulu motor.
Gua, Madi, Benny, dan sebagian anak-anak yg lainya pun Segera menepi, ke pinggir jalan, Sambil menunggu anak-anak yg lainya telah tertinggal.
Gua, Madi, dan Benny pun membakar rokok, karna cuaca semakin dingin pada saat itu.
Setelah rokok telah habis, kami pun melihat rombongan yg lainya dari arah yg cukup jauh.
"Nah....
"Nah.... itu mereka.
"Yuk bg, cepet naik motor, biar barengan, kata Benny.
Segera Gua naik ke motor Madi, dan Madi pun Menghidupkan Motornya.