
“Hi, ada masalah apa adik kecil ? tanyakan saja pada kakak-kakak ini. Kami siap membantu”
“permisi.. kakak berdua seorang penyihir kan ? apa kakak bisa bantu menghilangkan monster ?”
Kata si gadis kecil itu. Ia mulai berharap kepada Jade dan Latte. Jade yang mendengar itu, tampaknya ia mulai penasaran.
Walaupun tidak tergambarkan pada wajahnya. Sedangkan Latte, ia menatap langit-langit sambil berpikir.
“Hmmm okee kami akan membantumu”
Ujar Latte sembari tersenyum.
“Oi oi, kau yakin? Dia itu anak kecil bagaimana kalau dia hanya ingin bermain dengan kita?”
Sebenarnya Jade sudah menduga bahwa Latte akan menerima permintaannya. Tetapi berbeda dengan Jade.
Ia bukannya membenci gadis kecil, namun ia hanya tidak ingin membuang-buang energinya yang berharga hanya untuk bermain petak umpet atau semacamnya dengan seorang gadis kecil.
“ngomong-ngomong kamu kesini sendiri ? ibu dan ayah kamu dimana ?”
“Me-mereka...Huaaaaaaaaa huaaaa ibuuuu ayaaaah”
Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi oleh si gadis kecil. Tangisannya cukup
keras sampai membuat orang-orang yang ada disekitar taman menengok ke arah
mereka. Latte dan Jade bingung kenapa dia tiba-tiba menangis.
Latte mencoba untuk menenangkan gadis kecil itu. Jika tidak, polisi akan datang
menghampiri mereka dan masalah akan menjadi semakin rumit.
“cup cup jangan nangis tenang saja kok kita bakal bantu kamu mengalahkan monster itu”
Latte panik sembari menengok ke arah Jade dan berharap ia dapat melakukan sesuatu agar
si gadis kecil itu tidak menangis.
“Kau lihat kakak yang berwajah suram ini ? dia bisa melakukan sihir, jadi tenang saja kita pasti bakal mengalahkan monster itu”
Jade yang dari tadi hanya duduk-duduk saja menghampiri gadis kecil itu. Ia membuka tangan kanannya lalu perlahan telapak tangan Jade bersinar terang berwarna biru bercampur violet.
Sinar itu menyebar secara perlahan mengitari wajah gadis kecil itu. Ia tampak kagum. Terlihat jelas dari ekpresinya.
Sinar itu mengeluarkan aroma yang dapat menenangkan siapapun yang menghirupnya. Sebuah sihir sederhana yang Jade pelajari saat ia masih kecil.
Setelah gadis kecil itu tenang, ia langsung mengantarkan Jade dan Latte menuju tempat monster itu berada.
Setelah berjalan cukup jauh, sampailah mereka di blok rumah gadis kecil itu. Suasananya sepi dan tidak nampak
orang yan berlalu lalang. Tertampak satu sampai dua orang sedang tidur di teras rumah mereka.
Ada pun orang yang sedang menyiram tanaman namun mereka hanya terdiam dan tidak bergerak seolah mematung. Lalu ada dua orang anak membatu di ayunan. Mereka semua sedang terhipnotis oleh sesuatu. Dan sesuatu itu bukan lain adalah fiend.
Fiend terbagi dalam 5 kelas, Pequeno, Adolescente, Maduro, Primero, Antepasado. Dan untuk kasus gadis kecil ini fiend yang dapat menghipnotis orang-orang di dalam area, kemungkinan besar masuk ke dalam kategori Maduro.
“Jade, mereka semua tidak sadar. Apa ada banyak fiend di sini ?”
“Hanya satu, kemungkinan paling besar adalah ulah dari jenis maduro. Mereka sudah tidak sadar selama tiga puluh menit, kita hanya memiliki waktu kurang dari lima belas menit lagi jika ingin membangunkan
mereka”
Jade melihat seorang dengan tatapan kosong yang berdiri di depan salah satu rumah.
Si gadis kecil berhenti di depan rumah bertingkat dua. Ia mengatakan kalau ayah dan ibunya ada didalam rumah itu.
“Ayo kak masuk, ayah dan ibuku ada disana mereka sedang tertidur”
Si gadis sembari menarik tangan Latte membawanya ke dalam rumah itu. Latte dan gadis kecil masuk ke dalam rumah namun Jade masih tertinggal diluar, lalu tiba-tiba pintu rumah tertutup dengan kencang.
Latte terkejut karena Jade masih ada di luar. Tangan si gadis kecil yang dari tadi memegang Latte tiba-tiba terlepas begitu saja.
Sosok gadis kecil itu berubah menjadi gumpalan asap berwarna hitam keunguan. Perlahan tapi pasti, kepulan asap itu mulai membentuk rupa yang mengerikan.
“Tidak mungkin….Jadi kaulah Fiendnya…Ja-!!! aaarggh!!!”
Latte terkejut tidak percaya melihat gadis kecil cantik berubah menjadi fiend. Sosok itu menyerang Latte dengan cakarnya.
Latte mencoba untuk menggapai lehernya agar ia dapat mengeluarkan Orb nya. Namun dekapan dari fiend itu terlalu kuat.
Kekuatan manusia biasa tidak bisa menandingi kekuatan fiend. Apalagi fiend yang di hadapan Latte termasuk ke dalam kelas maduro.
Di dalam hatinya Latte ia berharap agar Jade dapat segera masuk ke dalam rumah itu.
“HAHAHA PENYIHIR BODOH ITU TIDAK AKAN BISA MASUK. RUMAH INI SUDAH DIKELILINGI SEGEL
TINGKAT HADES JADI MUSTAHIL UNTUK DIHANCURKAN DARI LUAR”
Fiend itu mulai berbicara dengan bangga.
Aura yang mengikat Latte semakin kencang, ia mulai kesulitan untuk bernapas. Latte masih mencoba untuk meraih kalungnya.
Tetapi ikatannya terlalu kencang. Sekeras apa pun ia mencoba tangannya masih sulit untuk bergerak.
“Percuma saja, aku tidak akan membiarkanmu menggunakan sihir. Aura kehidupan yang terpancar darimu sangatlah menggugah selera.
Walaupun kau ada di pusat kota aku dapat merasakannya dari sini. Siapa yang tidak terlena oleh itu”
Kata fiend yang sudah bersiap-siap untuk mengambil jiwa Latte.
“Kau membawa benda sihir Ian ? berarti kau hanya manusia. BUKAAN PENYIHIR MURNIIII!!!!!”
Kumpulan aura hitam bergabung di satu titik membentuk sebuah pisau tajam. Pisau itu melesat kencang tepat ke arah dada Latte.
Syusssshhh!!!!!
Sekejap cahaya terang mendadak keluar dari tubuh fiend. Saking terangnya cahaya itu membuat matanya kesakitan.
“AARRRGGGGGH, APAA-APAAN INI ? MATAAAAKUUU ARRRGH”
Kilauan cahaya itu membuat Fiend tersebut lengah sehingga membuat ikatan tubuh Latte terlepas.
“BAGAIMANA BISA DARIMANA CAHAYA ITU? HARUSNYA KAU TIDAK BISA MENGELUARKAN SIHIR TANPA KALUNGMU”
Serangan cahaya itu mulai meredup. Namun Fiend itu masih merasakan kesakitan. Sihir yang tidak hanya menyilaukan mata,tetapi dapat melukai tubuh targetnya. Walaupun dampaknya tidak terlalu fatal.
Latte segera memegang kalungnya. Sebuah bola berwarna putih bersinar terang terpancar
dari tangannya.
Berbeda dengan penyihir murni, manusia yang ingin menggunakan sihir membutuhkan media
pembantu.
Orb, staff, wand, dan masih banyak lagi. Latte menggunakan orb. Karena dari semua media pembantu, orb dapat menyimpan energi sihir yang lebih banyak dari pada yang lain.
“Sepertinya keadaan sudah terbalik. Kau benar aku hanya manusia biasa, tetapi aku masih seorang penyihir. Alinea #5 Fire ball!!!”
Latte mengeluarkan serangan sihirnya menggunakan orb.
Bola api berwarna merah melesat dari tangan Latte, terbang kencang menuju ke arah fiend. Tapi dengan cepat dan gesit fiend itu menghindar.
“Hahahaha apa hanya itu yang kau bisa keluarkan. Sudahlah percuma kau melawan, relakan saja jiwamu padaku….”
Latte tidak menyerah, ia terus menembak bola api secara beruntun. Namun tidak ada satu pun serangannya yang kena. Gerakan fiend itu terlalu lincah.
Fiend itu mengetahui bahwa manusia hanya mengandalkan sihir dari medium mereka, maka dari itu kapasitasnya terbatas.
Ia hanya perlu menunggu sampai energi sihir yang tersimpan di dalam orb Latte habis.
Setelah itu baru ia dapat menikmati jiwanya.
Latte mulai kelelahan. Walaupun ia menggunakan energi sihir dari dalam orb, namun ia tetap membutuhkan stamina untuk mengeluarkan sihirnya.
Fiend itu melayang bebas mengitari ruangan dengan bangga karena dapat menghindari semua serangan Latte.
“HAHAHAHA BAGAIMANA ? APA KAU SUDAH KEHABISAN ENERGI SIHIR ? tidak ada satu pun serangan
yang kena, KYAHAHAHAHHAHA BODOH SEKALI....”
Latte sudah kelelahan, staminanya sudah habis, kakinya sudah tidak bisa menopang dirinya. Napasnya terengah-engah, rasanya sudah tidak ada udara di ruangan itu.
Tangannya lunglai, karena dari tadi mengeluarkan serangan sihir berturut-turut. Tapi wajahnya masih tersenyum, seolah ia telah memenangkan permainannya.