Jade & Latte

Jade & Latte
Sosok bayangan



Mereka tiba di sebuah mansion yang besar. Sebuah bangunan dengan desain era abad pertengahan. Lengkap dengan paviliun yang berdiri di tengah taman yang luas.


Mansion yang terlihat tua, tetapi di waktu yang sama, tetap terlihat kokoh. Jade dan River berjalan di aspal kering yang mengarah langsung ke rumah sang tuan. Di temani dengan lampu-lampu taman yang bersinar remang di setiap sisi kanan dan kirinya.


Mereka berdua diantar oleh dua orang yang mengaku sebagai pelayan sang majikan. Bersetelan jas hitam, lengkap dengan kacamata hitamnya. Jade sempat tertawa kecil, menurutnya orang bodoh mana yang memakai kacamata hitam di malam hari.


Dua orang pelayan itu membawa masuk Jade dan River ke ruang tamu. Disana seseorang telah menunggu di belakang meja panjang. Penampilannya sangat kontras dengan para pelayan yang mengantar mereka.


Seorang pria berumur sekitar 40 tahun, menggunakan pakaian santai berwarna biru muda, lengkap dengan motif bunga geranium berwarna kuning.


“Akhirnya yang aku tunggu datang juga, silahkan duduk, kalian mau minum apa? Cemilan? Kalian sudah makan? tentu saja belum ya. Apa kita makan dulu ya-”


“Tidak-tidak, terima kasih, tapi kita tidak punya banyak waktu. Lagi pula bukankah sebaiknya Anda memperkenalkan diri dulu?”


Jade menyela sambutan hangat dari seseorang itu. River hanya membisu, ia sudah hafal dengan sifat Jade.


“Owh iya, maaf, aku terlalu senang dengan kedatangan kalian. Perkenalkan namaku adalah Geld Andersdotter, pemilik dari perusahaan Brave Children dan tentu saja, aku yang mengirim surat kepada kalian”


“Jadi kau penanggung jawabnya? baiklah ceritakan pada kami secara lengkap”


Jade, River dan Geld mengobrol di ruang tamu yang hening dan dingin. Secangkir teh pu’eh hangat disajikan pada mereka. Sayangnya, Jade tidak terlalu suka dengan minuman itu, terlalu manis, ia lebih memilih secangkir espresso hangat.


Geld menceritakan awal kejadiannya. Bermula ketika penjualan obat-obatan mereka menurun, lalu Geld mencoba untuk membuat ramuan yang baru untuk produknya.


Percobaan itu membuahkan hasil. Pada bulan pertama, obat dengan racikan baru itu berhasil mencapai laba tertingginya sekitar 2 juta keping emas. Namun sayangnya, di bulan kedua insiden itu terjadi.


Pada pukul dua pagi, tiga orang pekerja ditugaskan untuk berpatroli ke dalam gudang penyimpanan. Setelah mereka masuk gudang, ketiga orang itu berpencar dan pergi ke masing-masing tempat yang ditugaskan. Ketika mereka hendak berkumpul kembali di titik pertemuan, sosok misterius muncul entah dari mana.


Satu pekerja selamat dari serangan makhluk itu, tapi nahasnya nyawa dari dua orang lainnya sudah tidak dapat diselamatkan. Hampir semua bagian tubuhnya menghilang dimakan oleh fiend. Hanya tersisa robekan seragam mereka berdua. Sedangkan satu pekerja yang berhasil selamat, ia lari menggunakan sihir teleportasinya.


Jade dan River mendengarkan dengan seksama, setiap detail perkataan yang diucapkan oleh Geld, langsung diolah menggunakan nalar Jade dan River.


Mereka berdua sama-sama mengetahui, jika fiend muncul maka ada portal kegelapan yang terbuka, dan portal kegelapan itu dipicu oleh salah satu tujuh dosa manusia yang sudah menumpuk.


“Aku ingin bertemu dengan pekerja yang selamat itu”


Jade berinisiatif untuk sedikit lebih aktif pada kasus kali ini. Karena selama ini, Latte yang selalu berkomunikasi dengan client dan Jade hanya bertindak sebagai eksekutor.


Mendengar permintaan Jade, Geld terdiam. Ia ragu akan mengizinkan Jade bertemu dengan pekerjanya.  Otaknya berpikir keras untuk mencari berbagai alasan.


“Kami hanya ingin menanyakannya langsung perihal kasus ini, sebagai saksi kunci sekaligus ingin melihat kondisinya”


River memperjelas kalimat dari Jade. Mereka berdua ingin melihat secara langsung apakah ada aura fiend yang tertinggal dari si pekerja yang selamat itu. Dari situ, dapat terlihat jenis fiend apa yang akan mereka hadapi.


“Apa boleh buat. Saat ini kondisinya sangat buruk, aku tidak bisa menjamin dia bisa memberikan kalian informasi yang banyak”


Geld mengantar Jade dan River ke ruangan yang ada di lantai dua. Tangga besar dan megah melingkar sebagai penghubung antara lantai dasar dan lantai atas. Pada dindingnya yang coklat, terpajang beberapa foto penerimaan gelar pendidikan beserta sertifikat penghargaan.


Geld bergumam dengan kalimat retorik, mencurahkan segala kesedihannya atas musibah pada bisnisnya. Jade tidak terlalu tertarik dengan kisah diary sang client, menurutnya bagi seorang pembisnis, risiko kegagalan atau kerugian harus selalu siap ditanggung.


Persaingan antar perusahaan, musibah yang tidak terduga, trend pasar yang selalu berubah-ubah itu semua harusnya sudah Geld pikirkan demi dapat mempertahankan bisnisnya. Dari situlah kita dapat mengetahui nilai dari seorang pengusaha. Jika mereka dapat melalui setiap rintanganya, maka itulah yang disebut dengan pengusaha sejati.


“Ketika bisnisku sudah mulai mencapai puncak, akan selalu ada hal buruk yang mengganggu, para pesaing-pesaing yang tidak mengerti tentang kualitas dan hanya mementingkan kuantitas, lalu sekarang makhluk aneh yang membuat teror di dalam gudangku. Lengkap sudah”


“…”


“Kau bisa mencoba bisnis yang lain kan? Kau bisa mencari sektor yang tidak ada pesaingnya. Bukankah itu ide yang tidak buruk?”


River memberikan saran dengan maksud agar suasana tidak begitu canggung. Lagi pula, siapa lagi yang akan menimpali curhatan dari pria paruh baya itu selain River? Jade? Dia bakal menjawabnya dengan kalimat ‘aku tidak tertarik dengan cerita mereka. Itu semua hanya membuang-buang energiku, aku bekerja hanya untuk menghabisi fiend’ begitulah.


“Aku membangun bisnis ini dari nol, sampai akhirnya aku bisa mendapatkan laba tertinggi pada 5 tahun lalu. Perusahaan ini sudah aku anggap sebagai anakku sendiri.”


Mereka tiba di salah satu kamar yang ada di lantai dua. Di sana terbaring tubuh yang diselimuti oleh kain flanel berwarna biru. Ia bersembunyi di balik selimut itu sambil menggigil.


“Dia Robert, salah satu pekerja kami. Dari saat penyerangan, kondisinya belum berubah, ia masih trauma dengan makhluk itu”


Geld menyentuh pundak Robert yang masih gemetar di balik selimutnya.


“Tenanglah! sekarang kau aman, kami disini untuk memusnahkan makhluk itu, tapi sebelumnya bisa kah kau membantu kami menceritakan tentang makhluk bayangan itu?”


Kini giliran River yang berusaha membujuknya, ia berharap tuan Robert bisa memberanikan diri untuk keluar dari selimutnya. Tapi nihil, Robert masih ketakutan. Ia tidak berani untuk menampakan wajahnya.


“Merepotkan… oi paman, kalau kau tidak membantu kami, kau juga bisa mati, sama seperti teman-temanmu loh”


“Oi Jade!! Jaga ucapanmu!!”


River membentak.


“…”


Masih tidak ada reaksi apapun dari tuan Robert. Bagi manusia melihat sosok fiend sama saja seperti mereka melihat malaikat maut. Nyawa mereka seolah meninggalkan tubuhnya. Menghilang di dalam kegelapan yang dingin.


“Buang-buang waktu… aku sudah lelah, cukup sepertinya untuk hari ini. Aku ingin tidur”


Ucap Jade yang sudah kehilangan moodnya. Sebenarnya ia bisa saja langsung pergi ke gudang tempat makhluk itu berada. Hanya saja dengan banyaknya informasi yang ia dapat, maka pembasmian akan lebih efisien. Ia dapat menakar jumlah mana yang bakal keluar saat eksekusi tanpa harus berimprovisasi di tempat.


Mereka berdua memutuskan untuk beristirahat dulu malam ini, esok hari mau tidak mau Jade dan River pergi menuju gudang dan langsung memusnahkan fiend itu.


Ketika Geld hendak mengantarkan Jade dan River ke kamar tamu, tiba-tiba kain yang menyelimuti tubuh tuan Robert perlahan menurun. Sosok wajah dengan ekspresi ketakutan dicampur dengan warna pucat pasi cukup menggambarkan kengeriannya saat itu. Mulutnya perlahan bergerak sambil mengucapkan sesuatu.


“M-Makhluk itu sangat besar, ber-ber….sayap dan bertanduk…..”


Akhirnya tuan Robert berbicara juga.