Jade & Latte

Jade & Latte
Aktor



River membuka matanya. Belakang kepalanya masih terasa sakit karena hantaman benda tumpul. Ia mencoba untuk menggerakkan badannya, tetapi tidak bisa. Badannya tidak bisa bergerak. Tubuhnya terikat pada sebuah kursi kayu. Lengan dan kakinya pun diikat menggunakan tali tambang yang sama.


Matanya yang sudah mulai terbiasa dengan pencahayaan yang sangat minim, menoleh ke segala arah. Tampaknya ia sedang berada di dalam ruangan bekas laboratorium. Botol-botol kaca nan bening masih berjajar rapih di atas meja. Disampingnya, masih terdapat botol-botol berisi cairan yang warnanya masih terlihat gelap.


River tidak menunjukan rasa kepanikan yang tinggi. Ia mencoba untuk tenang sambil membaca situasinya sekarang. Ia mengingat-ingat tentang apa yang ia lakukan terakhir kali sebelum dirinya diikat. Ingatannya masih samar-samar, tapi yang jelas, ia ingat sekali tentang lukisan yang ada di ruang tengah beserta logo jormugandnya.


Terdengar suara langkah kaki datang dari kegelapan ruang. Langkahnya pelan dan penuh dominasi. Sosok bayangan mulai muncul dari sudut ruang yang tidak terlalu diperhatikan river sebelumnya. Cahaya yang redup mulai menangkap sosok yang melangkah itu. Seorang pria paruh baya yang wajahnya sudah dikenali oleh River, sedang tersenyum ke arahnya.


Tuan Robert?" dia terkesiap dengan wajah yang tampak tak asing lagi.


Matanya melebar, menampakkan keterkejutan yang cukup besar.


"Bagaimana? Apa aktingku sangat bagus kemarin? Kalian berdua terkejut, kan?" Tuan Robert tersenyum puas dengan wajah penuh kebanggan.


"Acting? Jadi yang kau lakukan sebelumnya hanya sandiwara? Tapi kenapa? Untuk apa!" River masih tidak percaya dengan kebenaran yang keluar langsung dari bibir pria itu.


“Hahahahahhahahaha”, Tuan Robert tertawa penuh dengan arti, seolah ia sudah menunggu bahwa River akan menanyakan maksudnya, “untuk apa? Tentu saja, semua ini demi tuan Geld” ia melanjutkan.


River menjawab dengan tatapan yang bertanya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia menunggu kelanjutan dari kalimat Robert berikutnya.


“masa jaya tuan Geld akan kembali sebentar lagi”,Robert melanjutkan penjelasannya, “hanya tinggal memberikan jiwa kalian kepada monster itu, lalu semua selesai dan tuan Geld pasti akan senang, rencananya berjalan dengan lancar”


“Jadi maksudmu, permintaan pembasmian fiend itu semua bohong? Dan itu semua hanya untuk menjebak kami masuk ke dalam perangkap kalian? Begitu maksudmu?” River menundukan kepalanya, ia merasa bersalah, di misi pertamanya bergabung dengan agensi Latte, hanyalah penipuan.


“Benar sekali….semua permintaan yang dikirimkan kepada kalian itu hanya salah satu kail pemancing agar agensi illegal seperti kalian tertarik untuk mengambil misi dari kami. Dan betul saja, kalian terpikat bukan? Bagi agensi kecil seperti kalian hadiah yang tuan geld tawarkan akan sangat menggiurkan…” tatapan Robert melebar, pupilnya membesar, mulutnya melebar kegirangan.


Dengan keadaan yang terikat, River mencoba untuk berkonsentrasi agar mana di dalam tubuhnya dapat mengalir. Ia mencoba untuk mengeluarkan sihir untuk melepaskan ikatannya. Mengucapkan salah satu sihir dengan suara pelan.


“Alinea #11 Rafales De Vent” River tertegun, mantera yang ia keluarkan tidak bereaksi apapun. Tidak ada sedikitpun sihir yang keluar dari tubuhnya. Apa ia salah merapal manteranya? Atau ada yang salah ketika ia mencoba mengalirkan mananya?


“Kenapa? Kau tidak bisa mengeluarkan sihirmu?” ucap tuan Robert dengan tampang wajah yang menjengkelkan “Tentu saja kau tidak akan bisa menggunakan kekuatan sihirmu ruangan ini telah terpasang alat penangkal sihir di setiap sudutnya. Semua sihir yang ada di grimoire tidak akan berguna lagi di ruangan ini, Tuan Geld sudah merancang semuanya dan kau sudah tamat”


Alat penangkal sihir. Atau lebih dikenal dengan Magic Diffuser, sebuah alat yang biasanya digunakan pada penjara untuk menahan para penyihir yang menyalahgunakan kekuatan mereka. Alat yang berukuran kurang lebih segenggaman tangan orang dewasa itu seharusnya tidak dapat dimiliki oleh sembarangan orang. Bukan hanya karena harganya yang cukup mahal, untuk memiliki alat tersebut orang atau organisasi membutuhkan izin resmi dari organisasi pusat.


Ketika melihat lukisan yang ada di ruang depan, River melihat lambang jormugandr. Lambang organisasi para penyihir kegelapan, jika memang keluarga dari Geld memiliki koneksi dengan dunia bawah maka tidak heran ia dapat memiliki alat tersebut dalam jumlah yang banyak.


“Sebentar lagi temanmu akan masuk ke dalam perangkap yang sama denganmu disini, lalu setelah itu monster hitam yang ada di gudang penyimpanan akan memakan jiwa temanmu sampai tidak tersisa. Ia tidak akan bisa melawan dan hanya bisa pasrah ketika jiwanya dimakan oleh fiend” Robert menjelaskan semua rencana dari tuan Geld


“setelah itu, perjanjian tuan Geld dan para petinggi akan selesai. Tuan Geld akan meraih kesuksesannya kembali hahahahhaa” tuan Robert melanjutkan kalimatnya.


“Perjanjian para petinggi? Begitu ya? jadi singkatnya, kalian menjual sisi kemanusiaan kalian dengan mengorbankan banyak orang hanya untuk kejayaan semata?” River mencoba untuk menggali informasi lebih dalam lagi.


“Diam kau!! Tahu apa kau tentang tuan Geld? Dia adalah sosok pelindung bagi kami, para pelayan setia dari keluarga Andersdotter. Selamanya, dari dulu sampai sekarang tidak akan berubah selalu membela tuan Geld dan mengikuti semua rencananya, demi tuan Geld, demi Brave Children”


Kepulan asap mulai muncul dari sela-sela dinding ruangan. Tuan Robert yang mengetahui itu adalah tanda bahwa ia harus sudah pergi meninggalkan ruangan itu memberi kalimat penutup. “Hahaha sudah saatnya aku pergi, sebentar lagi jiwamu akan dilahap oleh fiend. Jadi, sampai jumpa di neraka” ucapnya.


Tuan Robert meninggalkan ruangan itu. Kepulan asap mulai bersatu membentuk sebuah makhluk yang besar dengan kepala banteng lengkap dengan tanduknya yang tajam. Perlahan-lahan asap itu mulai membuat tubuhnya, lalu tangannya sampai akhirnya terciptalah seluruh tubuh yang lengkap.


Fiend itu berukuran besar. Tinggi tubuhnya melebihi tinggi ruangan, seluruh tubuhnya berwarna hitam keunguan. Dengan tubuh sebesar itu, ia harus berdiri dengan postur yang sedikit membungkuk karena terhalang langit-langit ruangan. Kedua lengannya tidak kalah besar. Ia memegang senjata berupa gada yang terbuat dari batu-batu yang bercampur dengan tengkorak-tengkorak manusia.


“ROAAAARRRRR” Makhluk itu berteriak. Dengan mata berwarna merah seterang batu ruby. Fiend itu melangkah ke arah River sambli menyeret palu gadanya ke lantai. River menatap fiend itu dengan tatapan yang biasa saja. Ia sudah pernah berhadapan dengan fiend tipe Adolescente berulang kali. Tetapi yang berbeda, saat ini tubuhnya sedang terikat, dirinya pun tidak bisa mengeluarkan sihir grimoirenya.


“ROAAAARRRR” Fiend itu mengangkat lengan kanannya untuk bersiap memberikan hantaman pada tubuh River yang telah pasrah.


“Nah, sekarang aku harus bagaimana?”