
"Nama ya ? iya juga sih selama ini kita cantumin nama agensi kita hanya pakai nama aku dan Jade, tapi sekarang sudah ada River dan Eliza. Kita butuh nama baru untuk agensi kita."
"Waktu kita hanya kurang dari dua bulan lagi kan? untuk ujian lisensi ?" Ucap River yang sedang beristirahat di sofa.
"Iya, dan kita masih kekurangan satu orang lagi. Apa kau punya kenalan atau kerabat yang bisa gabung dengan kita River?"
"Tidak, kenalan baruku hanya mereka yang dari Dark Crow, sisanya aku sudah tidak berkomunikasi lagi. Jade, kau punya beberapa teman kecil kan?"
River bertanya pada Jade yang sedang fokus menonton acara favoritnya.
"Oi kau dengar tidak sih?"
"Percuma, dia tidak akan menjawabnya" Ucap Latte sembari mengehala napas.
"Kata siapa? gini-gini juga aku sedang memikirkan siapa yang bakal kita rekrut berikutnya" sontak Jade membalas pernyataan Latte dengan ekspresi kesal.
"hoo tumben, biasanya kau selalu fokus dengan tontonanmu itu...jadi siapa? kau sudah dapat siapa yang bakal kita ajak?"
"Tidak... terlalu merepotkan mengajak mereka."
Eliza tiba-tiba masuk ke dalam percapakan mereka.
"eee...kak..... aku punya ide mungkin bisa dicoba"
"wah boleh tuh liz, apa idenya?" Jawab River sambil tersenyum. River tahu walau Eliza masih kecil ia selalu punya pemikirannya sendiri untuk menyelesaikan masalah.
"bagaimana kalau kita membuat audisi kak? sebuah audisi terbuka buat cari anggota baru"
"audisi ya? ide menarik sih..." Latte berjalan kesana-kemari sambil membayangkan ide dari Eliza.
"Oi... audisi tuh gak bisa sembarangan, memangnya siapa yang bakal dengan sukarela masuk ke agensi ilegal dan belum besar ini?" Jade membantah ide dari Eliza, mendengar jawaban dari Jade wajah Eliza sedikit murung.
"Ya kita mana tahu kalau belum mencobanya, Jade..." Ucap River yang membela saran dari adiknya.
"Minimal kita sudah punya nama, walaupun belum ada sertifikat, atau mereka mendapatkan sesuatu agar mereka tertarik ikut audisi, memangnya kita bisa menawarkan apa kalau mereka diterima? gaji? makanan mewah? lupakan saja."
"tunggu kau bilang apa tadi?" Tiba-tiba Latte mendengar sesuatu dari mulut Jade yang menarik perhatiannya.
"apa? soal gaji atau makanan mewah?"
"Bukan!! sebelumnya!"
"Hah? ya apa? memangnya apa lagi yang kita bisa kasih ke mereka ?" Jade kesal, karena sepertinya sifat keras kepala Latte bakal kambuh.
"Iyaa itu!!! sesuatu yang menarik agar mereka mau mengikuti audisi kita dan bergabung dengan agensi kita." Dengan mata berbinar-binar dan ekspresi bungah, seolah Latte mendapatkan jackpot liburan gratis.
"Aizzzz... tadi kan sudah ku bilang kita mau kasih apa?"
River memberikan sebuah saran.
"Mungkin kita bisa kasih semacam medium sihir yang langka atau semacamnya?"
"Kalau itu, target kita bakal terbatas" Jade masih membantah dengan argumennya.
"Aku tidak salah dengar kan Riv?" Jade mencoba meyakinkan ucapan River, ia rasa telinganya masih baik-baik saja.
"Tidak, kau benar Riv. Mungkin sejumlah uang yang besar bisa membuat orang-orang mengikuti audisi kita nanti."
"Kalian berdua sadar kan? Kita ini belum mendapatkan client, darimana hadiah uang besar itu? Kerja sampingan kita aja hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari kan."
"Kita? kau memangnya kerja apa Jade? kau kan hanya sibuk rebahan seharian disini kan?" River bersungut kesal.
"Kak Riv, aku punya tabungan kok kalau butuh uang." Jawab Eliza.
"Terimakasih Liz....Tapi tidak perlu sampai pakai uang tabunganmu kok. Kau kan tahun depan bakal masuk ke akademi sihir kan? Kita bakal cari cara buat dapetin hadiahnya"
"tapi... kak" Eliza mengerutkan bibirnya.
Diskusi berakhir tanpa ada kesimpulan yang berarti. Mereka kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing sambil memikirkan cara mencari anggota ke empat. Keesokannya di pagi buta, Latte bersiap untuk pergi. Tetapi bukan untuk bekerja, ia membawa beberapa setelan pakaian di dalam kopernya. Jade masih tertidur lelap, sangat jarang bahkan bisa dianggap mustahil untuk Jade bangun di jam-jam seperti ini. River dan Eliza juga masih tertidur.
Latte menarik napas dalam-dalam sambil melihat foto renyek yang belum sempat ia buang saat merapihkan markas.
"Tidak ada cara lagi...aku akan minta bantuan orang itu"
Sambil meletakan sepucuk surat berwarna putih di atas meja ruang tamu yang masih berantakan dengan remah-remah cemilan. Rasa yakin, berani dan takut berkumpul menjadi satu dalam wadah hatinya. Mengenggam daun pintu yang masih dingin sambil berjalan melangkah keluar dari markas.
Pintu yang berderit pelan tak membangunkan mereka yang masih tertidur lelap, tenggelam dalam mimpinya.Sampai kiranya jarum pendek tepat pada angka delapan dan sang panjang ada di angka dua belas River membangungkan Jade.
"Oi bangun tukang tidur... bangun cepat!!!"
"hoaaaam" Jade menggeliat sampai tulang pinggulnya bersuara, nyawanya masih belum pulih semua. Sesekali ia menganggukan kepala karena rasa kantuknya terlalu berat.
"ada apa sih pagi-pagi udah ribet banget"
"nih liat, baca!!!" sambil River menunjukan secarik kertas berwarna putih putih.
"apa sih....?" Jade mengambil kertas itu, matanya membuka secara perlahan melawan rasa kantuknya yang masih loyal.
"itu dari Latte!! dia pergi mencari uang untuk hadiah audisi" River menjelaskan singkat.
"kau tahu kemana dia pergi Jade ? terlalu gila kalau dia mengambil misi sendirian kan ?" mimik muka River mengambarkan kebingungan.
Tanpa mengacuhkan pertanyaan River, Jade diam tanpa kata. Logikanya berpikir semua kemungkinan yang bisa terjadi. Di dalam surat itu hanya terpampang paragraf pendek tanpa kata basa-basi. aku akan mencari uang untuk hadiah audisi, kalian di markas saja sampai aku kembali, paling lama mungkin satu minggu.
Nalarnya mengarah pada satu jawaban kemana Latte pergi. Lobus otak Jade menemukan tempat tujuan Latte. Matanya kini sudah tidak berat lagi, beban kantuk yang dari tadi Jade pikul sudah pergi. Rasa kaget di awal berubah menjadi rasa tenang sekaligus khawatir.
"Sepertinya aku tahu kemana dia pergi" sambil melihat River yang seolah ia sedang berpikir juga tempat tujuan Latte. Sontak suara gadis kecil yang sebelumnya tidak ada mengagetkan Jade.
"KEMANA KAK?" Eliza yang berada di kamarnya segera menghampiri Jade.
"aku tidak bisa mengatakannya, tapi yang jelas itu bukan tempat yang berbahaya, malah sangat amat untuk Latte" Jade meletakkan surat putih itu, ia langsung menarik selimutnya untuk pergi tidur lagi.
River dan Eliza tidak bisa berkata-kata, mereka tahu Jade lebih mengetahui tentang Latte. Mungkin saja sebelumnya Latte sudah bercerita tentang tempat yang ia tuju kali ini pada Jade. Maka dari itu Jade terlihat santai dan tak ambil pusing. Namun di dalam hati, mereka ingin sekali mengetahui kemana tepatnya Latte pergi. Terlebih lagi, Jade mengatakan tempat itu adalah tempat yang aman untuk Latte. Dan bukankah tempat aman itu bisa diasumsikan sebagai rumah. Pikiran River menakar-nakar. Jika memang jawabannya adalah itu, maka mereka tidak harus khawatir.