
"Aku bingung, kau bisa dengan mudah menyetujui syarat itu...."
"Apa salahnya ? mereka berdua tinggal disini agar lebih aman, siapa tahu nanti para dark crow itu bakal menyerang mereka lagi."
"Ya tapi... tempat ini tuh kecil, mana mungkin kita tambah orang lagi. Jika mereka tinggal disini, aku nanti tidur dimana ?"
"Sudahlah Jade, lagi pula kau kan jarang tidur di kamarmu. Biarkan saja River dan Eliza pakai kamarmu, terus kau tidur di ruang tamu."
"Kau ini benar-benar ya."
"Pokoknya lupakan urusan mereka tinggal disini, besok mereka datang sambil membawa barang-barangnya. Rapihkan saja barang-barangmu dan sampah yang kau tidak buang dari tiga hari lalu."
Jade dan Latte mulai membersihkan markas mereka. Semua berkas yang berceceran di lantai dan di meja mereka buang dan yang penting mereka simpan. Sisa remahan keripik kentang di sapu bersih, semua bungkus sampah pun dibuang, mereka juga tidak lupa membersihkan setiap kaca. Mereka ingin ketika River dan Eliza pindah kesini semua terlihat berih dan rapih.
Sambil merapihkan berkas yang masih banyak berceceran, Latte menemukan sebuah foto tergeletak bersama lembaran-lembaran kertas yang sudah tidak terpakai. Diambilnya foto itu, terpampang sosok gadis kecil bersama dengan lelaki paruh baya sedang berpose di depan rumah yang megah.
Jade melihat Latte sedang memandangi foto itu dengan penuh arti, lalu ia bertanya.
"Kau masih menyimpannya ternyata, aku kira kau sudah membuang semuanya."
"Tidak, aku hanya lupa membuang yang ini." Latte menjawabnya dengan ekspresi yang dingin.
"Apa kau tidak capek membohongi perasaanmu sendiri ?"
"..."
Latte hanya menjawab dengan nada bisu.
Jade sebenarnya tahu kalau Latte tidak ingin membahas masalah dirinya dan keluarganya, terutama tentang ayahnya. Tetapi sebagai teman sekaligus partnernya, ia hanya ingin Latte jujur pada perasaannya. Suasana kini menjadi canggung, Jade memutuskan untuk pindah ke ruangan lainnya.
"Aku... sudah memutuskan untuk membuat agensi ini menjadi agensi yang hebat. Demi dapat pengakuan dari dirinya."
Jade yang ingin pergi ke ruangan lain berhenti sesaat karena tiba-tiba Latte mengatakan itu. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menjawab atau membahas lebih panjang, percakapan mereka soal ini selalu berhenti dengan jawaban yang kosong. Tetapi kali ini berbeda, Latte membalasnya lagi.
"Bahkan bukan hanya pengakuan dari dirinya. Aku ingin membuktikan ke semua orang kalau seorang yang bukan penyihir murni mampu membuat sebuah agensi nomor satu di Domfront.... Yah walaupun ujung-ujungnya aku hanya mengandalkan kekuatanmu Jade."
Latte tersenyum kepada Jade, sayangnya Jade tidak merasakan kebahagiaan pada senyuman itu. Ia merasakan sebuah kesedihan bercampur amarah di wajah Latte.
"Hah ?apa masalahnya mengandalkan kekuatan seseorang ? mengandalkan seseorang itu tidak buruk, itu membuktikan kalau kau percaya pada orang itu. Lagi pula aku tahu seberapa besarnya kau berjuang untuk mempelajari sihir, jadi gak usah cemas. Andalkan aku sebanyak mungkin dan kita buat agensi ini menjadi nomor satu."
Latte menjawabnya dengan senyuman tipis. Walaupun Jade mengatakan tidak apa-apa untuk tetap mengandalkannya, setidaknya Latte ingin terus berusaha agar ia tidak menjadi beban. Dulu ketika mereka di akademi, Latte adalah sosok murid yang sangat rajin dan giat untuk belajar sihir. Tidak banyak manusia biasa yang mendaftarkan diri di akademi sihir, karena mereka tahu bersaing dengan para penyihir murni hanya buang-buang waktu saja.
Bukan mustahil untuk manusia menjadi seorang penyihir yang hebat, tetapi mereka membutuhkan effort yang lebih. Bukan hanya itu, karena manusia tidak memiliki sumber mana alami maka mereka membutuhkan sebuah medium sihir. Dan medium sihir yang memiliki kualitas bagus, pasti di jual dengan harga yang mahal juga. Oleh karena itu manusia yang ingin menjadi penyihir yang hebat membutuhkan modal yang sangat banyak.
Seluruh ruangan telah bersih, berkas-berkas yang sudah tidak terpakai sudah dibuang, sebagian mereka simpan di atap yang dialihfungsikan sebagai gudang. Remah-remah makanan juga sudah tidak ada, jendela dan celah ruangan pun sudah dibersihkan. Markas mereka sebenarnya tidak terlalu besar, hanya sebuah bangunan yang berukuran tujuh kali tujuh meter dengan tinggi dua belas meter. Atapnya dirubah menjadi gudang untuk menaruh barang-barang. Jumlah ruangan hanya empat, dua ruang tidur, satu ruang tamu sekaligus resepsionis dan satu ruang utama. Tidak sulit sebenarnya untuk menjaga tetap rapih. Hanya saja Jade terlalu malas untuk membuang sampah-sampah itu, dan Latte tidak memiliki waktu luang untuk bersih-bersih.
.
.
.
.
"Waaah !!" Eliza berseru
"Aku yakin ini yang merapihkan pasti Latte." River menyindir.
"Hah ? enak aja kau ngomong ya...kau ini sudah jadi tamu tidak ada rasa hormatnya."
"Ini juga demi Eliza, kalau aku kerja disini siapa yang jaga dia nanti. Jaga-jaga kalau para dark crow ingin mengincarnya lagi."
"Mereka tidak akan mengincarmu lagi River... Urusan mereka denganmu kan sudah selesai. Apa kau tidak dengar yang dibilang Balder sebelum ia pergi ?"
"sudah-sudah, lagipula Eliza sudah bilang padaku kalau dia juga ingin membantu agensi kita. Dia bakal bantu kita buat mencari client di internet." Latte memotong disela-sela percakapan Jade dan River.
"Iya kak aku ingin membantu kakak-kakak sekalian sebagai balas budi karena sudah menolong aku dan kak River."
"Kau harus belajar sama adikmu Riv bagaimana memperlakukan orang yang sudah menolongnya" Ketus Jade pada River.
River dan Eliza menyimpan barang-barangnya di kamar mereka masing-masing. Eliza dan Latte saling berbagi kamar, sedangkan River ia menggunakan kamar yang sebelumnya dipakai oleh Jade. Dan Jade tidur di ruang utama karena ia lebih suka untuk tidur sendiri.
Selang satu minggu, rutinitas agensi Jade dan Latte tidak ada yang berubah. Walaupun mereka sudah menambahkan anggota baru, untuk mencari perkerjaan membasmi fiend tidak mudah. Semua permintaan pemusnahan fiend sudah diambil oleh asosiasi agensi pusat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka semua akhirnya kerja serabutan.
River bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe, Latte menjadi kasir swalayan, dan Jade bertugas untuk menjaga Eliza di kantor mereka. Seharusnya untuk anak berumur tujuh tahun seperti Eliza ia sudah harus masuk ke akademi sihir pemula. Tetapi karena kondisi River dan Eliza yang belum memungkinkan ia harus menunggu tahun depan untuk masuk ke akademi sihir pemula.
"Kak Jade...."
"Hmm ?"
"Agensi kk bareng kak latte ini namanya apa ?"
"Hah nama ? tidak ada yang seperti itu di kita, Latte terlalu sibuk buat nyari nama-nama seperti itu, dan aku terlalu malas aja."
"Owwh soalnya aku liat kayanya tiap kelompok agensi selalu punya nama."
Jade mulai berpikir apakah karena agensi mereka ini tidak memiliki nama yang bagus makanya jarang ada pelanggan.
"hmm sepertinya kita memang harus punya nama."