Jade & Latte

Jade & Latte
Pelanggan Pertama



TING DONG… Suara denting bel berbunyi. Seseorang sedang berdiri didepan bangunan


sederhana yang bertuliskan "Jade and Latte Agency" di papan yang terpampang diatasnya.


Seorang pria menggunakan jas hitam yang sepertinya terlihat mahal, karena ada label kecil bertuliskan glamour dengan font sambung yang cantik.


Pria itu menekan bel merah yang ada di depan bangunan itu. Ia menunggu selama sepuluh detik menanti  ada yang membuka pintu, tetapi pintu masih tertutup. Ia menekan bel itu lagi, dan menunggu lagi.


Ia lakukan berulang-ulang, berharap segera ada yang membuka pintu berkarat itu. Matahari di musim panas bukanlah sahabat yang baik.


Suara Bel cukup mengganggu hingga membangunkan seorang Jade yang tertidur di sofa panjang berwarna biru kusam. Terdapat beberapa lubang di sofa itu, sepertinya cukup untuk menyembunyikan kepingan receh.


"hah ? bukannya Latte sudah membayar uang sewa kemarin, kenapa datang lagi?"


Dengan wajah suntuknya Jade bergegas menuju ruang depan untuk membuka pintu. Ia menginjak beberapa keripik kentang rasa keju yang berceceran,  bekas menemani Jade menonton tv.


Pintu terbuka, pria yang mengenakan jas rapi itu tersenyum dengan wajah lega, akhirnya ada yang membuka pintu tersebut.


Dengan wajah suntuk bercampur dengan rasa bingung, karena Jade belum pernah melihat wajah pria berjas itu. Tanpa menanyakan sesuatu, Jade mengajak pria tersebut masuk ke dalam rukonya.


Akhirnya client pertamanya datang setelah dua bulan tidak ada sama sekali pelanggan.


Lagi pula lokasi ruko ini sangat tidak strategis. Ruko kecil yang disewakan dengan harga murah namun letaknya cukup jauh dari pusat kota. Butuh sekitar tiga blok untuk sampai ke pusat kota.


Sebelumnya ruko ini adalah tempat jasa penyewaan dvd bekas, namun karena era sudah berganti. Si pemilik


memutuskan untuk menyewakan ruko ini untuk menyambung hidup.


Panas yang menyengat tidak menurunkan semangat Latte, ia berdiri ditengah kota sambil


menjajakan selebaran kepada orang-orang yang lewat.


"Silakan hubungi kami jika ada fiend dirumah Anda, kami akan bantu untuk mengusirnya"


Ia memberikan satu  brosur pada bapak-bapak yang berjalan cepat sambil memegang koper.


"Ini silahkan Pak, hubungi kami jika Anda butuh".


Tanpa digrubis, bapak itu cuek dengan brosur yang ditawarkan oleh Latte.


"ayoo Latte kau harus lebih semangat"


Dengan penuh energi mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Silahkan hubungi kami jika ada masalah dengan fiend..."


Setelah cukup membagikan brosur, Latte memutuskan untuk kembali ke ruko tuanya. Namun ia heran ketika ia melihat sebuah sepeda motor terparkir di depan rukonya.


Tak lama, pria berjas rapih keluar dari ruko tersebut sambil tersenyum. Latte yang heran, menjawab senyuman itu kembali. Si pria berjas rapi itu pergi sambil mengendarai sepeda motornya.


Latte berlari menuju ruang tengah, sambil berteriak.


“Jadeee apa kita dapat client ? dimana ? fiend apa yang  kita hadapi?”


Dari wajahnya Latte tergambar ia sangat antusias dan gembira.


Jade menatap Latte dengan ekspresi malasnya. Tidak, itu bukan malas hanya saja ekspresi Jade yang normal seperti itu.


“Dia hanya orang yang menawarkan barang sihir. Katalognya ada di atas tv, mungkin


kau tertarik untuk mengganti orb lamamu.”


Jade menjelaskan sambil memakan sisa keripik bekas kemarin.


“Aku ingin membeli orb baru, tapi sepertinya harganya cukup untuk membayar uang sewa ruko sebulan. Lagipula orb ku yang lama masih cukup untukku, hanya tinggal berlatih sihir-sihir lain”


Jade hanya menatap datar wajah Latte yang terlihat ingin meluapkan sesuatu. Jade sebenarnya sudah tahu bahwa tidak ada pelanggan yang Latte dapatkan. Ia hanya ingin mengganti topik nya saja.


“Bagaimana dengan brosurnya ? apa kau dapat pelanggan?”


“Belum ada, mungkin memang akhir-akhir ini tidak ada fiend yang berkeliaran. Semakin sedikit fiend yang berkeliaran dan mengganggu manusia, itu semakin baikkan. Kita tidak perlu melawan mereka lagi”


Latte menjawab dengan wajah lega sedikit kecewa.


“itu tidak mungkin kan, kau tahu sendiri fiend muncul dari celah-celah kegelapan yang sudah terpapar kebencian manusia. Semakin hari aku lihat di tv, manusia tidak ada yang berubah tetap saja saling membenci. Persaingan bisnis, politik, kudeta, criminal semua itu yang membuat celah kegelapan muncul. Dan tentu saja fiend akan datang dari situ”


“iyaa aku tahu kok tuan penyihir jenius, jika kau tahu itu semua kenapa kau tidak membantu ku untuk menyebarkan brosur-brosur ini. Kau malah sibuk menonton tv sambil memakan keripik kentang”


Bentak Latte dengan wajah masamnya.


“Jika aku ikut menyebarkan brosur. Siapa yang jaga tempat ini, tuan putri ? Lagi pula aku tidak memiliki energi seperti mu”


Sambil memakan sisa keripik kentang. Jade berleha-leha di sofa tua yang sudah robek


sambil menonton acara tv favoritnya The Rebellion Cat. Sedangkan Latte ia hanya terdiam sambil menunjukkan wajah masamnya.


Keesokan harinya ...


“Panasnya……kadang-kadang aku iri dengan otakmu yang kreatif sampai membuat kotak penampung keluhan


didepan ruko kita, padahal itu tidak membantu sama sekali”


Jade yang kepanasan melihat matahari yang seolah sedang menertawainya.


“Ayolah Jade sesekali tubuhmu harus berada di bawah sinar mentari. Setidaknya kau bisa lebih sehatkan”


Sembari Latte menyebarkan brosur dengan energinya yang tidak terkuras sama sekali oleh teriknya


mentari. Sedangkan Jade yang kepanasan beristirahat dibangku taman sambil dipayungi oleh pohon-pohon yang rindang.


“Harusnya saat ini aku sedang menonton tv sambil menikmati es krim yang dingin. Haa nikmatnya… setidaknya angin di sini cukup menyegarkan”


Ia bergumam. Tanpa sadar angin menghembuskan selembaran brosur yang ia letakkan di sampingnya. Latte berteriak karena melihat Jade sedang bermalas-malasan lagi


“Jade…! Kenapa kau tidak pegang brosurnya, aah jadi berserakan deh”


“Tenanglah, ini bukan hal yang sulit”


Jade membuka salah satu telapak tangannya, seketika brosur-brosur yang berserakan itu mengapung di udara. Seolah gravitasi menghilang pada brosur-brosur itu. Jade langsung menutup telapak tangannya.


Semua brosur bergerak ke satu tempat yang sama. Tersusun Kembali seperti semula dihembus angin. Layaknya tayangan video yang diputar secara terbalik. Brosur-brosur itu tersusun rapi kembali seperti semula.


“Baiklah tuan penyihir hebat, cukup dengan pertunjukannya sekarang kembali bekerja”


”Baikla-“


Jade memasang wajah yang malas ketika ingin kembali menjajakan brosurnya. Tiba-tiba ada seorang anak kecil berambut hitam panjang yang dikuncir kuda mendatangi mereka berdua. Seorang gadis kecil mengenakan kaos kuning dan rok panjang berwarna biru yang warnanya sudah memudar.


“ma-maap, boleh aku tanya kak ?”


Kata si gadis itu sambil menunduk di hadapan Jade dan Latte. Jiwa keibuan Latte bangkit ia langsung menghampiri si gadis berkuncir itu. Latte menangkring sambil mengusap kepala si gadis.


Wajah yang menunduk tadi mulai mendongak ke arah Latte secara perlahan. Terpancar


aura harapan dari jendela kehidupan seorang Latte. Tampak emosi sedih, ketakutan, kebingungan terpancar di wajah gadis itu. Latte bertanya.