Jade & Latte

Jade & Latte
Kegelisahan



Setelah mendengarkan penjelasan dari tuan Robert, Jade dan River dapat menyimpulkan kalau monster bayangan ini masih sekelas Adolescente. Tuan Robert menyebutkan tinggi makhluk ini lebih dari lima kaki, dan ia tidak dapat mengucapkan bahasa manusia. Pada dasarnya, jenis adolescente memang memiliki ciri-ciri seperti itu. Tetapi, para penyihir dapat melihat aura yang tersisa dari korban para fiend. Jade melihat sisa aura yang tertinggal di tubuh tuan Robert. Aura itu berwarna hijau olive, melayang  seperti sebuah asap api unggun yang padam.


Jade mengatakan pada River, jika lawannya hanya sekelas Adolescente, cukup River saja yang pergi membasminya. Tetapi River menolak, mau seperti apa fiendnya mereka harus professional untuk membasminya bersama, sebagai agensi.


Tengah malam tiba, suasana hening disertai nyanyian para serangga yang berbunyi di setiap sudut ruangan. Sesekali, suara jarum jam berdenting sambil dialuni oleh percikan kayu yang terbakar oleh perapian yang berada di ruang tengah. Jade dan River beristirahat di ruangan lantai satu tepat di samping ruang utama.


Jade sudah tertidur pulas, sedangkan River, ia masih memikirkan sesuatu. Fiend dapat melewati portal kegelapan yang tercipta oleh salah satu dosa manusia yang menumpuk. Artinya, ada seseorang atau segelintir orang yang memantik terciptanya portal kegelapan itu. Pertanyaannya bukan siapa tapi apa, salah satu dari tujuh dosa yang menyebabkan terciptanya portal tersebut.


River tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk mencari udara malam di luar. Perlahan-lahan ia bangun dari dipannya. Bunyi per yang ditekan oleh berat tubuh tidak bisa diheningkan. Tidak masalah, toh Jade tidak akan terbangun hanya karena suara sekecil itu. Bahkan, ia berani jamin jika di kamar mereka ada kucing yang berkelahi, Jade akan tetap pulas di dalam tidurnya.


Ia melangkah menuju ruang tengah, sambil melihat bara api yang perlahan menjadi arang di perapian. Ia melihat beberapa foto yang dipajang di dalam lemari kayu yang besar. Tidak ada yang istimewah, hanya berbagai kumpulan galeri keluarga. Ia melangkah ke sisi yang lain.


Terdapat sebuah lukisan cat minyak yang berukuran besar menempel di dinding sisi itu. Di dalam lukisan itu terdapat tiga orang yang sedang berdiri dengan formal. Dua orang lelaki menggunakan jas yang sangat rapih, dan seorang perempuan berpakaian dress berwarna biru aqua.  River mengenali orang yang ada di tengah lukisan itu,  sosok itu tidak lain dan tidak bukan adalah Geld klient mereka kali ini.


Tampangnya sedikit berbeda, di dalam lukisan itu, tampang tuan Geld terlihat lebih muda. Diperkirakan sekitar 10 tahun lebih muda. Dua sosok lainnya, River asumsikan sebagai orang tua dari tuan Geld. River menatap cukup lama pada lukisan besar itu. Bukan karena rasa takjub dengan keindahan pencampuran warna analogous yang sangat cantik, atau proporsi yang sempurna pada anatomi mereka. Melainkan sebuah gambar yang berupa simbol dilukis di kerah kanan sang ayah. Simbol berbentuk matahari yang terbelah, dengan sisi lainya digantikan oleh kepala ular, Jormungandr.


"Astaga tidak mungkin, bagaimana mungkin simbol itu ada di sana? Apa jangan-jangan mereka ada hubungannya dengan..."


Tiba-tiba kepala River  terasa berat dan pusing, semua menjadi terasa samar.


"Akh...Kenapa kepalaku terus berdenyut-denyut"


DAKK! sebuah tongkat mendarat di tengkuk lehernya.


"Si-si-apa k-kau..." itu kata-kata terakhir yang dia/aku ucapkan dalam keadaan setengah sadar.


Seketika, tubuhnya limbung dan semuanya menjadi gelap.


Pukulan keras dihantamkan pada tengkuk belakang River membuatnya tidak sadarkan diri. Sosok itu menekan sebuah tuas yang ada di dekat lemari. Lalu tiba-tiba lantai di bawah lukisan besar itu bergeser ke arah yang simetris. Di balik lantai itu, terdapat lorong gelap yang mengarah masuk ke dalam ruang bawah tanah. Sosok itu menyeret tubuh river masuk ke dalam pintu rahasia yang baru saja muncul.


Keesokan harinya…


Seorang lelaki besar dan tinggi dengan jas rapih mengetuk pintu kamar Jade.


“Tuan Geld sudah menunggu di ruang makan, mohon segera bersiap-siap untuk jamuan makan pagi” Tanpa menggunakan kalimat yang berbeda pria itu ia mengetuk pintu kamar Jade sambil mengatakan hal yang sama.


Seperti biasa, bangun pagi adalah suatu hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh Jade. Ketika ia di markas pun River memerlukan air untuk membangunkannya. Apalagi sekarang, Ranjang yang nyaman, bantal yang empuk, ditambah dengan selimut yang hangat. Mustahil Jade bisa keluar dari dunia mimpinya.


Setelah sekitar 10 menit tidak ada jawaban dari Jade, pria besar itu terpaksa masuk ke dalam kamar Jade. Berdiri tegap di samping tubuh kurus Jade. Pria besar itu melantangkan suaranya lagi untuk membangunkan Jade. Ada sedikit reaksi, Jade meregangkan tangannya, lalu kembali memeluk guling yang empuk, matanya sedikit terbuka, namun tertutup lagi. Tentu saja ia menyadari ada orang disampingnya. Tapi rasa nyaman itu terlalu kuat untuk tetap mengikatnya di dalam tidur indahnya.


Pria besar itu mulai jengkel, perintah yang diberikan oleh tuan Geld pada dirinya adalah mutlak. Ia tidak pernah mengecewakan tuan Geld sebelumnya, semua perintah yang diterima dirinya selalu ia jalankan dengan baik dan sempurna. Tapi kali ini, hanya untuk membangunkan tamunya, sulitnya sudah setengah mati.


Karena Jade sangat sulit untuk dibangunkan, pria besar itu terpaksa menggunakan cara yang sedikit kasar. Ia melepaskan salah satu sarung tangannya.


“Maafkan saya tuan Jade karena mengganggu tidur nyenyak Anda, tetapi perintah tuan Geld yang diberikan kepada saya adalah untuk membangunkan Anda, Alinea #2 EAU”


Pria besar itu membalikan telapak tangannya di atas kepala dari Jade. Layaknya sebuah keran air, dari telapak tangan pria besar itu keluar sejumlah air yang mengucur, jatuh tepat ke arah wajah Jade. Air yang mengalir cukup deras membasahi seluruh tempat tidur yang ada di sekeliling Jade.


“WOYY LATTEE!….. SUDAH KUBILANG JANGAN PAKAI AI-R…” Jade terkejut dengan sosok yang membangunkannya, nyawanya masih setengah pulih. Ia menoleh ke segala arah. Otaknya Mencoba mencerna ada dimana ia sekarang.


“Ah aku baru ingat...” Jade menengok kembali arah tempat tidur satunya lagi, ia mencari sosok yang seharusnya sekarang sedang tidur di sana.


“Kemana dia? Apa dia sudah mulai melakukan pembasmian?”


“Maaf, apa Anda menanyakan tuan River? Beliau sudah telah meninggalkan mansion di pagi buta tadi”


“hah? Pergi? Ada urusan apa ia pergi?” Jade bertanya pada dirinya sendiri, ia teringat dengan ucapan River pada Eliza, jika Eliza memerlukan bantuan dari River maka ia akan menghubunginya. Dan untuk saat ini, itulah alasan yang paling masuk akal kenapa River pergi.