I Hate You, Brother

I Hate You, Brother
Bab 47



...~Happy Reading~...


“Udah cukup Boy, gue tahu lo lagi sedih. Tapi bukan begini caranya!” Arkhan langsung merampas botol minuman yang berada di tangan Boy.


Sejak kepergian Chyra, kehidupan Boy benar benar hancur. Bahkan, laki laki itu berniat akan meninggalkan Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Agar dirinya tidak lagi mengingat tentang Chyra.


“Bukannya lo yang bilang, kalau mau buktiin ke bokap sama nyokap lo, juga Chyra sendiri. Kalau lo bakal sukses, udah lah jangan kaya anak kecil begini!” sambung Dewa yang di sertai dengan helaan nafas berat.


Entah sudah berapa botol minuman yang sudah di tenggak habis oleh Boy. Kesadaran nya sudah mulai berkurang, namun laki laki itu seolah tidak ingin berhenti untuk terus meminum minuman tersebut.


Karena bagi Boy, hanya alkohol yang bisa membantu pikiran nya tenang dan sedikit melupakan Chyra. Saat nanti dirinya sudah sadar, maka dia akan merasakan kehancuran yang begitu menyesakkan lagi.


“Gue mau Chyra, kalian umpetin dimana cewek gue hah!” seru Boy dengan tiba tiba berdiri dan menatap tajam pada dua sahabat nya.


“Cewek gue, kalian kemanain bangsaattt!”


Pyarrr!


Boy semakin membabi buta saat keadaan mabuk. Laki laki membanting gelas yang ada di meja nya dengan cukup keras hingga membuat kedua sahabat nya langsung terdiam.


Diam, bukan karena takut. Melainkan, Arkan dan Dewa memilih diam karena ingin memberikan kesempatan Boy untuk marah.


Karena bisa di pastikan, setelah laki laki itu berteriak dan mengamuk seperti itu, maka Boy akan jatuh tepar tak berdaya.


Brukk!


Seperti dugaan kedua sahabat Boy, kini laki laki itu sudah terjatuh di sofa dengan mata terpejam.


“Mau di anter kemana lagi, kali ini?” tanya Dewa menoleh ke arah Arkhan.


Ini bukanlah kali pertama Boy mabuk parah, karena sebelumnya ia uga sudah pernah. Dewa langsung membawa Boy plang ke rumah nya, namun ayah Boy yang tak lain Aiden justru malah syok dan berakhir mask rumah sakit.


Kedua kalinya, Dewa selalu membawa Boy pulang ke apartemen. Tapi keduanya merasa kasihan jika Boy ke sana, maka tidak akan ada yang mengurus nya. Maka dari itu, kedua sahabat Boy merasa sedikit kebingungan akan hal itu.


“Nih anak bucin nyusahin. Patah hati lebih nyusahin,” keluh Dewa kembali menghela napas nya berat.


...🕊🕊🕊...


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Seorang gadis cantik berambut pendek baru saja membuka mata nya.


Kicauan suara burung dan sinar matahari yang mulai memasuki ruang kamar nya, membuat senyuman selalu terbit bersinar di wajah nya.


Cklek!


Pandangan gadis itu langsung teralihkan saat mendengar suara pintu yang terbuka. Senyuman nya kembali merekah saat dimana ia melihat seorang laki laki yang tengah membawa sebuah nampan berisi makanan masuk ke dalam kamar nya.


“Good morning, Baby.” Laki laki itu tersenyum begitu hangat menatap ke arah gadis nya, “Kenapa cepat sekali bangun nya?”


Gadis itu menggelengkan kepala nya, namun senyuman nya sejak tadi tidak pernah luntur.


“Apakah masih sakit? Kamu bisa berjalan? Jika tidak, lebih baik libur dulu kuliah nya,” ujar laki laki itu dengan begitu lembut seraya mengusap wajah sang gadis.


“Hemm masih sedikit sakit, tapi aku kuat kok. Masih bisa berjalan, walau harus pelan," jawab gadis itu dengan begitu lucu nan menggemaskan.


...~To be continue .......