
...~Happy Reading~...
“Bagaimana Dok? Apakah saya bisa mendonorkan darah untuk anak itu?” tanya ibu Jihan langsung menghampiri dokter, begitu pun dengan mom Felly dan daddy Aiden.
Ini adalah kali pertama mereka di pertemukan, namun sejak tadi keduanya hanya terdiam dan duduk saling menjauh. Bukan ibu Jihan tidak ingin mengucapkan rasa terimakasih kepada keluarga angkat Chyra.
Sebenarnya dia sangat ingin, namun karena ketidak mampuan nya, ia memilih untuk menjauh dan menyendiri. Begitupun dengan mom Felly yang merasa takut jika nanti ibu Jihan akan mengambil Chyra, wanita itu memilih tidak menegur nya.
“Maaf bu Jihan, anda tidak bisa mendonorkan nya. Tekanan darah anda sangat rendah, selain itu kadar gula anda juga cukup tinggi. Ini terlalu beresiko untuk melakukan donor darah,” ujar dokter.
“Tapi saya sehat dok, biarkan saya mendonorkan darah saya,” ucap ibu Jihan memohon. Meskipun selama ini dirinya menolak kehadiran Chyra, menolak untuk mengakui bahwa Chyra adalah putri nya.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya. Ia juga sangat menyayangi Chyra. Ia tetap ingin melihat putri nya hidup sehat dan bahagia.
“Dia benar Dok, dia ibu kandung nya. Dia juga tidak memiliki penyakit serius, di bandingkan Chyra yang saat ini kritis, aku rasa itu tidak seberapa.” Ujar mom Felly yang langsung mendekat ke arah bu Jihan dan Dokter.
“Mom! Sayang!” seru dad Aiden dan kedua anak nya secara bersamaan saat mendengar penuturan yang di ucapkan oleh mom Felly.
“Kenapa? Mommy hanya mendukung perkataan dia,” kata mom Felly masih menahan tangisan nya, “Chyra butuh dia, hanya dia yang bisa memberikan Chyra kehidupan. Hanya dia yang bisa bantu Chyra. Dan hanya dia harapan kita satu satu nya. Sejak lahir, Chyra sudah di buang, dan sekarang Mommy rasa, inilah saat nya dia bersikap selayak nya ibu untuk anak nya.” Jelas mom Felly panjang lebar.
Tangan ibu Jihan mengepal, kepala nya menunduk berusaha menahan isak tangis nya. Ia memang salah karena pernah membuang Chyra, namun semua itu ia lakukan bukan karena kemauan nya.
Bu Jihan hanya ingin putri nya memiliki kehidupan layak yang jauh lebih baik. Bahkan, jika di ingat hanya membayar biaya rumah sakit saja bu Jihan tidak mampu. Dan saat bersamaan, ia sempat mendengar bahwa putri Felly di nyatakan meninggal dunia, itulah sebab nya bu Jihan memili untuk meninggalkan Chyra.
Menyesal, tentu saja. Bu Jihan sangat menyesal, ia juga ingin memberikan kehidupan layak untuk anak anak nya. Ia juga sangat ingin membesarkan Chyra, mengasuh nya bahkan menyusui nya.
Tapi apa daya, jika semua tidak bisa ia lakukan.
“S—saya mohon Dok, lakukan. Lakukan sekarang, saya siap menanggung segala resiko nya,” tutur ibu Jihan dengan suara bergetar hebat.
“Cepat lakukan Dok, selamatkan Chyra, selamat kan putri ku hiks hiks,” saut mom Felly yang lagi lagi menusuk relung hati bu Jihan.
“Mommy tidak seharusnya bicara seperti itu!” Arshen menghela napas nya dengan berat, lalu ia segera mengajak bu Jihan untuk pergi dari ruangan itu.
“Arshen mau kemana? Chyra harus segera operasi, Arshen dengerin Mommy! Arshen!” teriak mom Felly sambil menangis karena harapan nya telah di bawa pergi oleh anak nya sendiri.
Jika bu Jihan tidak bisa mendonorkan darah untuk Chyra, maka nyawa Chyra akan terancam dan mungkin kematian yang akan ia dapatkan.
Tidak bisa, Felly tidak mau kehilangan putri nya. Wanita itu segera melepaskan cekalan suami nya dan berlari mengejar Arshen dan bu Jihan.
“Mom!”
“Els, kamu disini dulu,” ujar daddy Aiden sebelum akhirnya ia ikut berlari mengejar istri dan anak nya.
...~To be continue ......