
...~Happy Reading~...
“Kakak darimana?” Tanya Els saat melihat Chyra hendak masuk ke dalam kamar nya, kini jam sudah menunjuk angka hampir satu dini hari. Dan Chyra baru hendak masuk ke dalam kamar nya.
“Dari roof top. Kamu darimana? Kok belum tidur? Bukannya pesta udah selesai dari tadi?” kata Chyra yang justru malah balik bertanya kepada adik nya.
“Oh tadi Els habis ngobrol sama Mike, biasa ada sesi curhat kalau sama dia mah,” jawab Els terkekeh mengingat kembali obrolan abstruk nya dengan Mike beberapa waktu lalu.
“Hemm, ya udah, kakak mau istirahat dulu. Ngantuk!” Baru saja Chyra hendak membuka pintu kamar nya, tiba tiba Els menahan tangan Chyra, “Kenapa?”
“Ada yang mau Els bicarain sama kakak dulu. Kita ngobrol di kamar Els ya, kak. Pliss,” pinta Els dengan penuh permohonan, hingga akhirnya Chyra menganggukkan kepala dan ikut masuk ke dalam kamar adik nya yang berada tepat di depan kamar nya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Boy masih berada di aula Hotel untuk berbincang dengan ayah dan juga kakak nya. Sebenarnya bukan berbincang, melainkan persidangan.
Yups, persidangan, karena sepanjang acara Boy menghilang bersama Chyra. Mkaa dari itu, saat tadi Boy datang langsung di sidang oleh kakak dan juga ayah nya.
“Jadi, darimana saja kamu?” tanya Arshen membuka suara.
“Roof top. Lagian tadi kan Boy udah sempat ikut menjamu tamu sebentar, dan juga—“
“Kamu pacaran di atas?” tebak Arshen yang tiba tiba membuat jantung Boy langsung berdetak kencang.
“Kamu mencintai nya?” kini Daddy Aiden lah yang melontarkan pertanyaan kepada Boy.
“Dad—“
“Jawab saja, apa kamu mencintai nya?” tanya daddy Aiden lagi dengan raut wajah datar nya.
Prok, prok prok!
Boy langsung mendongakkan kepala nya saat mendengar suara tepuk tangan dari arah belakang. Dimana berikut nya ia juga menatap wajah kakak dan ayah nya yang terlihat begitu sumringah.
Boy pikir, bahwa kakak dan ayah nya pasti akan marah besar dan mungkin akan menghajar nya habis habisan. Atau bahkan yang lebih parah, akan mengusir nya dari rumah dan kartu keluarga.
Tapi, melihat ekspresi kakak dan ayah nya kini justru membuat dahi Boy berkerut bingung. Namun, meski begitu ia merasa seperti ada yang tidak beres.
“Sudah ku katakan bukan, kalau mereka itu masih saling mencintai,” ucap seseorang yang tadi memberikan tepuk tangan pertama untuk jawaban Boy.
“Sepertinya kita akan segera ber besan,” balas daddy Aiden yang membuat kening Boy semakin berkerut.
“Kau benar, tuan Aiden.” Balas ayah Adel tertawa lalu berjabat tangan dengan dady Aiden.
Wait, ber besan? Tunggu dulu, kenapa ber besan? Batin Boy. Gadis yang Boy cintai itu adalah Chyra, tapi kenapa ayah nya akan ber besan dengan ayah Adel. Otak Boy masih sibuk mencerna setiap kata yang ia dengar. Hingga pada akhirnya ia mendapatkan pelukan dari ayah kandung Adel.
“Bagaimana Boy, apakah kamu mau sekalian tunangan disini?” tanya ayah Adel seketika membuat lamunan Boy tersadar.
“Daddy!” Boy menatap ke arah ayah nya, “Ini salah paham. Boy dan Adel tidak ada hubungan apapun, apalagi Boy mencintai Adel. Itu sangat tidak mungkin Dad!” seru Boy sambil menggelengkan kepala nya.
Tawa dan wajah sumringah di wajah dua laki laki paruh baya itu seketika menghilang.
Keduanya spontan langsung kompak menatap ke arah Boy. Bukankah tadi, Boy sudah mengatakan bahwa benar mencintai Adel, mengapa kini ia mengatakan bahwa ia dan Adel tidak memiliki hubungan?
...~To becontinue ......